Tradisi “Pou Hari” Memberi Makan Penguasa Laut di Kabupaten Alor

Festival Bahari Alor 2015. ©2015 Merdeka.com/isn

Setiap daerah di Indonesia tentu memiliki tradisi. Tradisi tumbuh seiring hadirnya manusia di planet bumi ini. Ia sudah menjadi bagian integral dari manusia itu sendiri.

Tradisi Potong Jari, Suku Dani, Papua. Tradisi Tiwah (mengantarkan arwah)  Suku Dayak, Kalimantan. Tradisi Tabuik (mengenang meninggalnya cucu Nabi, Husein bin Ali yang dibunuh di Karbala), Sumatra Barat dan lain-lain.

Di daerah saya kabupaten Alor, juga mempunyai salah satu tradisi yang hingga kini masih di lestarikan—yaitu Tradisi “Pou Hari“.

Apa itu “Pou Hari“?

Pou artinya memberi makan, Hari artinya sebutan untuk mahluk astral yang hidup dalam laut atau menjadi pengusaha laut. Jadi kita bisa menyebutkan bahwa Pou Hari adalah memberi makan/sajian untuk mahluk penguasa laut.

Nah, tradisi ini  berkaitan dengan asal muasal beberapa suku yang ada di kabupaten Alor. Suku Malolong, Suku Gei Lei, dan Suku mudiolang menurut kepercayaan orang-orang Alor, nenek moyang mereka berasal dari laut.

Orang-orang Alor yang bermukim di pesisir pantai terkhusus daerah Alor kecil percaya bahwa orang dari Suku Malolong  bisa berkomunikasi dengan mahluk yang mendiami lautan atau penguasa laut.

Sehingga ada kepercayaan yang berkembang dan menjadi sebuah keyakinan bahwa apabila ada orang Alor dari suku lain menyakiti orang dari suku Malolong maka ia bisa mendapatkan musibah ketika bepergian melewati lautan.

Kenapa demikian?

Kata orang-orang, apabila ada orang dari suku itu disakiti lalu ia menyimpan dendam, ia bisa saja pergi berbicara dengan penguasaan laut dan orang yang menyakiti itu bisa dihukum atau ditenggelamkan oleh penguasa laut ketika ia menyeberangi lautan.

Seram, bukan?

Kepercayaan itu tidak terjadi begitu saja tetapi itu sudah menjadi kearifan lokal. Ia berkembang melalui tutur dari generasi  ke generasi hingga kini.

Tatkala masih kecil saya pun mendengar cerita itu dari nenek saya. Ia bercita bahwa “Dahulu ketika Suku Malolong melakukan acara atau pesta adat, penghuni laut diundang dan datang dan menghadiri acara atau pesta itu. Mereka naik ke daratan dan berwujud seperti manusia tetapi ada yang aneh pada wajah mereka, hidungnya  pesek mirip ikan tak seperti hidung manusia pada umumnya. Pun ketika penghuni lautan mengadakan  acara atau pesta, manusia juga diundang ke dalam lautan”.

Namun, sayangnya hubungan saling menghadiri itu tak bertahan lama. Pasalnya ketidaktahuan salah seorang penduduk. Ketidaktahuan itu terjadi ketika seorang penduduk yang barangkali bukan orang dari suku Malolong  tidak sengaja menyakiti anak dari penghuni laut. 

Bermula di sebuah pesta, salah seorang penduduk itu  mendengar  suara tangis bayi dari  dalam kain gendongan bayi yang digantung, karena peduli ia mendekati kain gendongan itu untuk menenangkan bayi yang menangis tersebut, tapi apa yang ia temukan dalam gantungan ternyata bukan bayi. 

Akan tetapi seekor ikan merah yang ada di dalam gantungan itu. Karena ia menyangka itu adalah ikan, ia mengambil dan membawa ke dapur mau dibuat lauk. 

Namun apa yang terjadi, seorang perempuan datang menghampirinya kemudian dengan nada marah berkata ” Kenapa kamu mengambil bayi itu, dia anak saya!” Saya sudah beritahu ke yang lain bahwa apabila mendengar suara tangisan bayi dalam gendongan cukup digoyang saja untuk mendiamkan bayi itu, jangan melihat ke dalam gendongan.

Pendek kata akibat ulah salah seorang penduduk itu, penghuni laut marah dan meninggalkan pesta, kembali ke laut. Kini ketika ada pesta atau acara, penduduk laut tak lagi datang menghadiri, begitu sebaliknya.

***

Tradisi Pou Hari dilakukan Suku Malolong pada bulan-bukan tertentu. Sebelum ke laut Suku Malolong menyiapkan sajian seperti ayam, kambing, pinang, dan tembakau kemudian mereka melakukan doa dan ritual. 

Setelah melakukan semua prosesi barulah sajian tersebut dibawa  menggunakan perahu ke laut untuk disajikan kepada penguasa laut.

Kalau kita menelisik akar dari tradisi ini, ia bukan sekadar ucapan syukur kepada laut yang telah memberi rezeki berupa ikan.

Sekadar pemberitahuan kepada Anda bahwa di Alor tepatnya di Alor kecil, pada bulan Mei dan September terjadi fenomena arus dingin, air laut seperti membeku sehingga ikan-ikan mati dan  terdampar ke bibir pantai. Nah, itu menjadi berkah bagi masyarakat di pesisir sehingga bulan-bulan itu bisa dikatakan bulan panen  ikan bagi masyarakat Alor.

Akan tetapi, saya  menduga tradisi Pou Hari merupakan sebuah cara yang dilakukan Suku Malolong untuk merekatkan kembali hubungan mereka dengan penghuni laut. Kenapa? Kalau kita dedah kata Pou dan Hari yang berarti memberi makan penguasa laut, maka dugaan saya sedikit mendekati benar, dan berkaitan dengan cerita keterpisahan kedua mahluk tersebut.

Kita tak bisa menafikan bahwa dunia ini tak hanya dihuni oleh mahluk yang nampak tetapi ada juga penghuni yang tak nampak oleh mata (gaib). 

Tradisi ini juga kalau kita telisik hampir sama dengan tradisi Larung Sesaji yang dilakukan masyarakat Blitar di kawasan pantai selatan. Larung sesaji selain sebagai ungkapan syukur masyarakat kepada laut yang telah memberikan rezeki. 

Ada juga cerita yang berkembang di masyarakat bahwa Larung Sesaji merupakan bentuk persembahan kepada Mbok Ratu Mas yang berdiam di laut selatan. Ia juga dikatakan sebagai sosok yang memimpin keraton di alam gaib bawah laut, dan kemungkinan menurut masyarakat setempat  Mbok Ratu Mas adalah Kanjeng Ratu Kidul.

Bukankah kedua tradisi ini hampir ada kesamaan?

Kendati demikian saya berharap tradisi ini tetap terjaga dan lestari bukan hanya sampai pada generasi saya tetapi sampai kepada generasi  yang akan datang.

Kenapa tradisi ini penting untuk dilestarikan?

Menurut saya, pertama, tradisi Pou Hari tidak hanya sekadar cerita mistik hubungan antara mahluk laut dan manusia. Akan tetapi dalam tradisi ini juga memiliki makna filosofi– bahwa dalam tradisi ini menunjukan hubungan yang erat antara manusia dan alam. 

Kedua, tradisi  Pou hari memberi  kita pemahaman bahwa kita sebagai manusia bukan satu-satunya mahluk mendiami planet bumi ini. Akan tetapi ada juga mahluk yang lainnnya. 

Jadi, ketika kita mengambil sesuatu baik itu dari laut, hutan, dll. Atau tatkala kita diberikan rezeki oleh alam, kita pun harus sadar bahwa di dalam rezeki kita itu ada  hak makhluk lain, sehingga dengan menyisihkan sebagian kepada mahluk  kita telah menciptakan harmoni di alam. 

Ketiga, tradisi Pou Hari juga secara  memberi pesan kepada kita bahwa jangan berlebih-lebihan, serakah dalam mengambil apa saja yang ada di alam;

dan yang terakhir  tradisi  Pou Hari mengajarkan bahwa selain kita manusia, ada juga mahluk lain di alam ini memiliki hak yang sama  dengan kita, yakni hak untuk tetap hidup (lestari) dan juga mendapat keadilan.

Sebagai penutup tulisan ini saya hanya ingin mengatakan bahwa banyak rahasia di alam ini yang belum banyak diketahui manusia secara utuh. Maka dari ini setiap tanda ataupun pesan dari alam adalah bentuk komunikasi alam kepada kita.

Dan bukankah kita pun adalah bagian  dari alam, jadi susah semestinya kita saling menjaga.

Sumber: Kompasiana, Adhen Bakri

Kiat Sederhana Mengatasi Kebuntuan dalam Menulis

Ilustrasi(iStockphoto/Jacob Ammentorp Lund)

Tak bisa dipungkiri untuk konsisten dalam  menulis bukan sesuatu yang mudah. Jangankan konsisten  menulis, beberapa orang mangaku bahwa untuk mulai menulis saja mereka kesusahan,  mendapatkan ide menulis saja kerepotan. Belum lagi  misalnya, bagaimana ide yang sudah ada di kepala dirangkai menjadi sebuah tulisan, atau tiba-tiba mengalami kebuntuan (writer’s block) dalam menulis.


Saya sendiri merasa untuk menghasilkan sebuah tulisan seperti cerita pendek, esai,  susahnya bukan main. Apalagi menulis  sebuah novel. Ampun! Saya tak sanggup.


Eit, tunggu dulu, tak sanggup yang saya maksud bukan berarti putus asa atau tak bisa, tetapi tak sanggup dalam pengertian saat ini.

Kalau disuruh menulis  sebuah novel sekarang, saya angkat tangan, belum bisa. Akan tetapi, suatu saat, setelah banyak berlatih menulis saya optimistis bisa menulis sebuah novel.


Syahdan, saya kadang berpikir apa, sih, cara atau kiat yang dilakukan penulis mansyur untuk mempertahankan konsistensi mereka dalam menulis? Pernahkah mereka mengalami kebuntuan ( writer’s block) dalam menulis?


Ternyata, oh ternyata, bukan hanya saya berpikir demikian, beberapa penulis yang bagi saya sudah masyur dalam dunia kepenulisan pun berpikir hal yang sama. Mereka  mengaku  bahwa mereka pernah mengalami kebuntuan dalam menulis.


Mereka juga dengan jujur berkata  bahwa mereka mengagumi penulis lain dan tidak malu belajar mendalami ilmu kepenulisan; dan juga belajar dari penulis yg lebih senior tentang bagaimana kiat-kiat mempertahankan mood dalam menulis.


Dewi Lestari atau biasa disapa Dee Lestari dalam sebuah acara (kalau tak salah  membahas tentang kepenulisan) yang tayang di Youtube, ia pernah berkata bahwa ia pun pernah mengalami kebuntuan dalam menulis.


Tjak S Parlan  (seorang novelis) dalam tulisannya “Adegan Berdurasi Pendek, Ingatan Berdurasi Panjang” bercerita bahwa ia pun pernah sampai pada titik “merasa tidak bisa melakukan apa-apa,” terhadap sebuah aktivitas menulis. Dia mengatakan “Setiap pagi, ia hanya membuka halaman baru Microsoft Words, menyeduh kopi, duduk kembali menghadapi layar berwarna putih, lalu jemari dia berhenti di atas keyboard”

Tapi menurut dia itu belum seberapa bahkan  dia pernah memecahkan rekor dalam satu hari hanya bisa menghasilkan satu paragraf pendek untuk memulai sebuah cerita pendek. Itu belum berlanjut ke perihal gagasan. Dia mengatakan rasanya seperti ada yang tersumbat dalam kepalanya dan dia butuh apa pun agar bisa membobol sumbatan itu.


Tatkala mendengar perkataan Dewi Lestari dan  membaca tulisan  Tjak S Parlan saya membatin “Bagaimana dengan saya ya, saya yang menulis saja masih ogah-ogahan, masih blepotan merangkai kalimat ini  apakah layak mengatakan diri saya juga mengalami writer’s block”?  Sepertinya saya tidak! Saya bukan mengalami writer’s block, tetapi lebih kepada kemalasan.

Saya harus jujur mengatakan  bahwa saya memang malas dalam menulis. Yang bisa dikatakan mengalami kebuntuan dalam menulis adalah orang-orang yang konsisten dalam menulis.

Lha, kalau saya?harusnya saya jangan makanpuji mengatakan (walupun itu dalam hati  sekalipun) bahwa saya juga mengalami writer’s block, hehe.


***


Nezar Patria, wartawan senior dan pernah menjadi Pemimpin Redaksi The Jakarta Post dalam sebuah tulisannya di FB mengatakan kekagumannya terhadap A.S Laksana (esais dan penulis fiksi), dan ia pun tak segan mengikuti kelas menulis yg diadakan A.S Laksana untuk memperdalam ilmu kepenulisan.


Pun, dengan Dr. Abdul Gafar Karim (dosen UGM), ia juga pernah dalam sebuah tulisannya di FB mengatakan bahwa ia harus belajar lagi ilmu kepenulisan kepada Iqbal Aji Daryono (Penulis dari Bantul. Lulusan Sastra Jepang, UGM.) agar tulisannya renyah dan dibaca semua kalangan, tak hanya akademisi.


Dari beberapa pengakuan penulis senior  yang saya tulis di atas, saya dengan mantap percaya bahwa kebuntuan dalam menulis pernah  dialami oleh penulis yang sudah profesional. Dan mereka juga tak segan mengakui bahwa meraka pun terus belajar mengasah ilmu kepenulisan terhadap penulis lain.


Jadi untuk penulis pemula, seperti saya, jangan berkecil hati, merasa hanya kita yang mengalami kebuntuan dalam menulis. Tetap semangat dan konsisten menulis.


Lalu bagaimana, sih, kiat-kiat  untuk mengatasi writer’s block dan bagaimana cara supaya konsisten dalam menulis?


Kalau saya ditanya kiat-kiat  untuk mengatasi kebuntuan ide, saya tak bisa jawab. Lha, saya saja bingung bagaimana mendatangkan ide, Hehe..


Tapi, tenang. Saya bisa sedikit memberi kiat-kiat berdasarkan pengalaman yang dialami Dee Lestari maupun Tjak S Parlan. Begini kiatnya: Dewi lestari atau yang bisa disapa Dee Lestari mengatakan bahwa ketika ia mengalami kebuntuan dalam menulis sebuah novel, ia ke kamar mandi lalu memutar shower kemudian mengguyur kepalanya. Unik, ya. Tapi, bagi Dee Lestari itu dilakukannya dan berhasil mengatasi kebuntuannya dalam menulis.


Kalau Tjak S Parlan, ia mengatakan bahwa  ia biasa ke pantai,  ke kafe memesan kopi, bersepeda; atau pergi ke sebuah toko buku tua, itu semua dilakukan untuk memantik ide dalam kepala, tetapi kesemua aktivitas yang dilakukannya itu belum memecahkan kebuntuan dalam kepala.

Lalu ia melakukan kebiasaan lamanya yaitu dengan menonton film. Katanya film Good Moorning (1959) yang ditontonnya itu membuat ia akhirnya kembali menemukan ide untuk menulis.


Lantas bagaimana supaya tetap konsisten dalam menulis? Nah, hal ini yang saya juga ikut bertanya-tanya. Akan tetapi, dari beberapa bacaan saya tentang kiat-kiat yang dilakukan penulis senior untuk menjaga konsisten mereka dalam menulis, saya akan menjawab sekadarnya saja.


Sependek pengetahuan dan pengamatan saya, kenapa penulis masyur bisa tetap menjaga konsistensi mereka dalam menulis itu dikarenakan mereka tak malu untuk terus belajar. Mereka tak segan belajar dari penulis lain yang mungkin  lebih muda dari meraka. Mereka haus dan tak pernah puas dalam belajar tetang kepenulisan.

Saya pikir, kunci dari konsistensi dalam menulis adalah ” Tak pernah puas dan terus belajar’. Kenapa demikian? Kalau ada perasaan dalam diri untuk ingin tahu dan terus belajar maka dengan sendiri timbul konsistensi dalam hal apapun termasuk dalam menulis.


Nah, barangkali sekian saja saja unek-unek tak penting saya tentang kepenulisan. Bagi saya konsistensi dalam menulis bukan sesuatu yang tiba-tiba begitu saja muncul, ia bukan seperti sulap yang ketika kita mengucap “Adakadabra” sekita itu juga terkabulkan. Akan tetapi ia harus ditumbuhkan. Dengan cara  terus berlatih, belajar ilmu kepenulisan dan jangan pernah merasa puas. 

Dan yang terakhir mengenai kebuntuan dalam menulis saya pikir itu merupakan hal yang wajar. Namun itu  bisa diatasi seorang penulis dengan melakukan aktivitas seperti  dilakukan penulis senior yang sudah saya tuliskan di atas, seperti menonton, ke pantai, membaca dan berbagai aktivitas lainnya agar bisa mendatangkan ide  atau merangsang ide muncul dalam kepala.

Pelajaran Berharga dari Pesan dan Cerita Baik Yang Sarat Akan Hikmah.

Pixabay

Kau belajar dengan membaca. Tapi kau memahami dengan cinta.”

Maulana Jalaluddin Rumi

Nak, yang harus kamu ketahui bahwa manusia dikatakan manusia karena dua Hal. Pertama, Akalnya. Kedua, Cinta yang bersemayam di hati.

Tanpa kedua hal tesebut, manusia takubahnya seperti mahluk yang lain. Hanya bergerak, tumbuh, dan berkembang biak.

Sekolah yang tinggi, lahap semua ilmu pengetahuan. Akan tetapi ingat Nak, asah juga hatimu, agar menjadi manusia paripurna. Manusia  yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi  juga emosional maupun spritual.

Pun, dengan kata-kata/ucapan.
Jagalah ucapanmu. Hati-hatilah dalam berucap. Sebab, setiap kata yang terlontar/terucap keluar dari mulut pasti memiliki efek.

Namun ingat, walaupun tidak semua kata mengandung arti yang baik. Akan tetapi kata-kata baik, akan tetap baik, sekalipun terucap dari mulut seorang penjahat/penipu

Mengapa?

Ketika ada orang jahat/penipu yang mengatakan berlaku adillah sejak dalam pikiran atau tetaplah menjadi orang yang jujur. Kata-kata tersebut adalah kata-kata yang baik.

Apakah kata-kata itu menjadi buruk karena yang mengucapkan itu seorang yang jahat/penipu?

Tentu tidak. Walaupun kata itu diucapkan penipu, kata tersebut tetaplah baik.

Jadi, dengarkan apa yang dikatakan jangan melihat siapa yang mengatakan. Kalau itu baik bagimu, terimalah. Perhatikanlah ucapannya jangan memperhatikan yang mengucapkan. Sebab hal benar pun terkadang keluar dari mulut seorang penjahat.

***

Dulu, guru ngaji saya pernah mengatakan, jangan hanya berucap yang baik, tetapi berbuatlah yang baik.

Kata-kata baik, tanpa perbuatan baik sama halnya dengan ketika kita berbicara spidiodola  tanpa bisa menunjukan apa itu spidiodola

Alih-alih mau menjadi bijak, tetapi tak menunjukan kebijaksanaan. Apabila kita mengatakan santuni fakir miskin, maka sisihkan dan berikan sebagian hartamu untuk orang yang takpunya.

Pendeknya kata menyantuni, menyisihkan harta merupakan kata yang baik. Akan tetapi kata baik tersebut akan lebih  bermakna apabila kata itu diejawantahkan dalam perbuatan.

Cerita Baik Yang Sarat Akan Hikmah

Ada sebuah cerita dari guru ngaji saya yang begitu mempengaruhi saya.

Tentang kisah seorang pemuda yang menyingkirkan duri kecil  yang ia temui tergeletak di jalan.

Kisah tersebut di ambil dari sebuah hadis.
Ketika ada seorang lelaki tengah berjalan di suatu jalan dan ia mendapati batang kayu yang berduri dijalan tersebut, lalu ia mengambil dan membuangnya. Maka Allah ‘azza wajalla berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosa-dosanya.”
(HR. Muslim, Hadits No 4743)

Perbuatan itu terlihat sederhana. Namun, membawa dampak yang besar bagi diri maupun orang lain.

Saya percaya bahwa karakter seorang anak itu akan terbentuk bukan hanya dari cerita baik (seperti cerita-cerita yang mengandung hikmah). Akan tetapi juga teladan atau perbuatan yang mengarah pada kebaikan, seperti pada cerita di atas.

Anak adalah pendengar dan peniru yang handal.

Saya sendiri merasa bersyukur, karena tumbuh dengan didikan, cerita-cerita baik sarat dengan pesan hikmah.

Walaupun masih banyak kekurangan yang ada pada diri, saya merasa bahwa apa yang guru ngaji sampaikan sangat berguna dan membentuk kepribadian saya.

Mungkin Anda yang membaca ini akan merasa aneh dengan perbuatan saya.

Entah kenapa, kalau saya melihat ada serangga misalnya, semut yang jatuh ke dalam air, saya pasti akan mengangkat, memindahkannya ke tempat yang aman.

Saya sering perhatian bak mandi, apabila hendak mandi. Jangan-jangan ada serangga ataupun  hewan lain yang jatuh ke dalam baik mandi.

Sekiranya saya menemukan ada serangga yang terjatuh dan masih hidup, saya langsung mengangkat, memindahkannya ke tempat aman.  Saya merasa seperti ia meminta tolong untuk diselamatkan.

Saya berpikir bahwa dengan memindahkan duri saja mendapatkan ampunan, bagaimana dengan menyelamatkan mahluk Tuhan?

Dengan demikian, bagi saya ucapan dan perbuat baik,  seharusnya sedari dini sudah diajarkan kepada anak-anak kita.

Banyak dari kita yang mungkin pintar dan cerdas, tetapi minim rasa simpati dan empati.

Mengapa?

Peristiwa kata/ucapan rasis yang terlontar baru-baru ini, menghebohkan jagad maya, maupun nyata. Bukankah itu menunjukan  bahwa, ada dari kita yang tak punya rasa simpati dan empati?

Padahal seandainya kita sejenak saja merenungi tentang hakikat diri, kita pasti menyadari bahwa kita semua adalah saudara dalam kemanusiaan.

Maka dari itu, sebelum mengeluarkan ucapan ataupun berbuat sesuatu,  nimbang-nimbanglah terlebih dahulu, apakah kata ini menyakiti atau melukai orang lain.

Sebab, Perkataan/ucapan atau perbuatan yang tak kita sukai apabila itu dilakukan pada kita, sama halnya dengan ketika itu dilakukan pada orang lain.

Salam.

Catatan: Tulisan ini pernah Tayang di Kompasiana.

Memahami Cinta dari Syair Sufi

Pixabay

Rumi dalam Syairnya melantun:

Suatu hari nanti, jiwa-jiwa kita akan bersatu,
dan penyatuan ini abadi. Aku mengetahui segala yang aku berikan untukmu selalu kembali kepadaku. Maka kuberikan hidupku,
seraya berharap engkau akan pulang kepadaku.

Membaca syair Rumi di atas saya teringat sebuah riwayat Rasulullah: Dalam sebuah majelis yang dihadiri Rasullulah, ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah. Wahai Rasulullah, kapan datangnya hari kiamat?  Rasul melihat ke arahnya, Rasul tak langsung menjawab, tetapi Rasul bertanya kepada sahabat itu. Apa yang sudah kamu persiapkan ketika datangnya hari kiamat? Ia terkejut, tertunduk  lesu mendengar pertanyaan Rasulullah. Selang beberapa menit, dengan suara yang menahan tangis, ia kemudian menjawab “Saya seorang pendosa, saya tak mempunyai amal yang  banyak,  tetapi saya mencintaimu dan keluargamu, ya Rasulullah!” “Lalu Rasulullah berkata, engkau akan bersama dengan orang yang kau cintai”.

Saya percaya bahwa berbicara tentang cinta, ia tak sekadar ucapan-ucapan manis, tindakan tulus kita terhadap pacar, istri, keluarga, dan orang dekat. Akan tetapi lebih dari itu cinta merupakan spirit. Ia mengantarkan jiwa menyatu dengan yang kita cintai.   

Kalau kita sedikit mendedah buku-buku yang mengisahkan para sufi, cinta yang mereka tunjukan atau ucapkan dalam syair-syair mereka takbiasa, tak seperti ucapan cinta pada umumnya. Why? Kata-kata yang diucapkan sufi melalui syair-syair mereka lebih kepada pemujaan terhadap Tuhan.  Sekali lagi, tidak seperti pada umumnya, jadi bukan kata-kata cinta sebagaimana yang diucapkan anak-anak ABG utuk menggoda lawan jenisnya. Hehe

Ungkapan syair cinta para sufi seperti ini:

Oh, Tuhanku. Mati untuk bersatu dengan-Mu adalah harapan yang manis. Tapi hidup dalam kepahitan terpisah dari-Mu adalah hangus dilalap api.”

Surga tanpa Cinta-Mu adalah Neraka bagiku.
Neraka dengan Cinta-Mu adalah Surga Bagiku

Sebelum melanjutkan, saya ingin bertanya kepada Anda. Anda barangkali pernah mendengar kata cinta yang terkadang orang-orang mengaitkannya  dengan kata “bercinta”, bukan?  Kata-kata  itu, bagi saya telah menjadi pengaburan terhadap kata cinta itu sendiri. Kenapa begitu? Sebagian orang tatkala mendengar kata bercinta, pikiran mereka langsung mengarah kepada hubungan badan (sex). Secara kata/bahasa mungkin kita bisa menghubungkan itu, tetapi makna dari kata cinta menjadi bermasalah. Orang bisa dengan mudahnya mengaitkan kata cinta dan bercinta. Padahal  makna cinta itu sendiri tak berkaitan dengan sex/jenis kelamin. Ia terlepas dari penilaian  itu.

Misal, saya mengatakan saya mencintai Nabi, atau kamu. Ya, kamu. Apakah lantas saya nantinya bisa bercinta (dalam arti sex) dengan kamu. Tentu tidak! Cinta tak berkaitan dengan itu, tapi lebih kepada kesucian, pemuliaan, keadilan. Urusan sex itu urusan syahwat. Bintang pun memiliki itu.

Maka ketika saya mengatakan saya mencintai Nabi berarti saya ingin menjadi seperti dia, dalam arti meniru sifat, perbuatan yang dilakukan para Nabi. Pun ketika saya mengatakan saya mencintai Tuhan, artinya saya ingin meniru Tuhan, menjadikan Rahmat dan Rahim Tuhan dalam setiap tindakan saya. Jadi cinta tak berkaitan dengan bercinta seperti pandangan sebagian orang.

Lanjut, sufi memaknai cinta adalah sumber dari segala kebaikan, kesucian, kemuliaan, keadilan. Dan dengan cinta akan mengantarkan kita pada yang sejati. Orang yang benar-benar memahami cinta, ucapan dan tindakannya telah menjadi padu dengan diri. Tindakan, perbuatanya  sesuai dengan nilai cinta itu sendiri.

Seperti pada kisah Imam Ali. Karena cinta yang begitu besar pada Rasulullah, ia rela  mengganti berbaring di tempat pembaringan Nabi, ketika Nabi hendak dibunuh.

Atau kisah kepahlawanan Fadhl Abbas  dalam tragedi Karbala. Dalam keadaan tubuh dipenuhi luka akibat tebasan pedang  dan tubuh  terkoyak karena anak panah.  Fadhl Abbas berjuang menembus  barikade musuh yang memblokade air sungai. Ia harus segara mendapat air minum, sebab ia tak tega mendengar tangisan anak-anak yang kehausan. Ia akhirannya berhasil menembus barikade dan sampai ke sungai. Ia pun begitu kehausan, tetapi apa yang ia lakukan?  Ketika hendak meminum air, ia   tersentak, mengurungkan niatnya karena memikirkan anak-anak  yang kehausan. Tanpa meminum air sedikit ia bersegera kembali membawa air untuk diberikan ke anak-anak. Namun, malangnya ketika kembali menerobos barikade musuh, tangan yang membawa air tersebut terpenggal oleh tebasan parang, kedua tangan yang menggenggam air itu terjatuh ke tanah.

Kalau Anda membaca  kisah Karbala saya yakin Anda akan meneteskan air mata. Kisah sejarah yang menunjukan pengorbanan, kemuliaan, keadilan, kesucian.

Nah, cinta yang demikian kalau dipahami secara awam atau sekadar menilai menggunakan kaca mata empiris, kita mungkin akan mengatakan perbuatan yang sia-sia, merugikan diri sendiri. Akan tetapi bagi para sufi cinta yang demikian adalah kenikmatan, kebahagiaan. Karena dengan melakukan itu artinya ia telah menanggalkan “Aku” (egonya) demi “Aku”  yang sejati (kekasih). Ia telan sampai kepada kehendak kekasih adalah kehendaknya”. “Seperti apa kekasih seperti itulah aku”

Sebagai penutup saya mengutip bait-bait syiar Khalil Gibran dalam buku Sang Nabi :

Apabila cinta memanggilmu ikutilah dia,
Walau jalannya terjal berliku-liku.
Dan apabila sayapnya merangkummu, pasrahlah serta menyerah, walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu.
Dan jika dia bicara kepadamu, percayalah, walau ucapannya membuyarkan mimpimu, bagai angin utara mengobrak-abrik pertamanan. Sebab sebagaimana cinta memahkotaimu, demikian pula dia menyalibmu. Demi pertumbuhan
mu, begitu pula demi pemangkasanmu.

Menilik Kelayakan Prasarana Terkhusus Area Pelabuhan di Kalabahi (Kabupaten Alor)

Sebuah negara dikatakan maju dapat dilihat dari standar hidup yang relatif tinggi melalui teknologi yang maju dan ekonomi merata. Negara maju biasanya memiliki Pendapatan Nasional Bruto (PNB) perkapita tinggi. Memiliki juga angka pertumbuhan penduduk yang relatif rendah dan memiliki infrastruktur yang baik.

Di antara beberapa faktor yang menandai suatu negara dikatakan maju, menurut saya, salah satu yang terpenting adalah infrastruktur. Mengapa? Karena dengan infrastruktur yang sudah berkembang akan menopang pertumbuhan ekonomi penduduk di suatu negara. Dalam ilmu ekonomi, infrastruktur merupakan wujud dari public capital (modal publik).

***

Syahdan, berbicara tentang infrastruktur, tentu kita tahu bersama bahwa infrastuktur dalam bahasa Indonesia adalah prasarana. Lalu apa itu prasarana? Dalam KBBI, prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses usaha, pembangunan, proyek, dan sebagainya. Kalau kita ambil  contoh macam-macam prasarana yaitu: jalan, jembatan, pelabuhan, bandara, dll.

Dalam tulisan ini saya takakan menjelaskan apa saja ukuran/kriteria sebuah negara dikatakan maju. Akan tetapi dalam tulisan ini, saya hanya ingin menilik salah satu prasarana yang ada di daerah saya, kabupaten Alor. 

Prasarana yang saya maksud adalah pelabuhan. Mengapa hanya pelabuhan? Begini kawan. Beberapa hari yang lalu saya diajak  teman memancing di area pelabuhan kalabahi (Alor). Pelabuhan  tersebut dermaganya biasa digunakan untuk tempat berlabuh kapal-kapal penumpang (kapal milik PT PELNI). Tempat aktifitas penumpang yang naik turun kapal.

Nah ketika memasuki area pelabuhan, saya melihat sebuah kapal kargo bersandar di dermaga dan melakukan aktifitas bongkar muat peti kemas. Bagi saya ini pemandangan aneh, tidak seperti pelabuhan yang saya temui di daerah lain.

“Bukankah dermaga ini hanya digunakan untuk tempat berlabuh kapal-kapal penumpang, tetapi mengapa dermaga ini juga digunakan untuk tempat berlabuh kapal kargo untuk melakukan aktivitas bongkar muat” Saya membatin.

Ketika saya bertanya ke teman tentang aktifitas bongkar muat peti kemas di dermaga ini. Ia berkata, aktifitas tersebut sudah lama dilakukan, dan dermaga yang digunakan untuk tempat berlabuh kapal-kapal kargo itu, ya, dermaga ini.

Mengapa begitu? Walaupun di dalam satu pelabuhan, dermaga kapal kargo  seharusnya dibuat terpisah dengan  dermaga kapal penumpang. 

Tatkala saya mengatakan demikian, teman saya hanya menjawab, barangkali takada dana dari pemerintah  untuk membuat dermaga lagi. Saya hanya tertawa mendengar jawaban teman itu.

Bukannya kenapa, karena dengan adanya aktifitas bongkar muat peti kemas tersebut, dan hanya ada satu saja akses jalan ke dermaga, akibatnya jalan menuju ke dermaga menjadi rusak parah. Yang terlihat bukan lagi jalan beraspal, tetapi jalan bertanah dan berdebu. Apalagi dengan adanya aktifitas kenderaan roda enam didekat gedung  terminal, membuat terminal tunggu penumpang tembok, lantainya, menjadi berdebu. Dan sepertinya gedung terminal penumpang kelihatan tidak terawat dengan baik.

Sebelum melanjutkan tilikan saya, ada baiknya saya menyinggung sedikit apa itu pelabuhan dan apa itu dermaga, supaya tak gagal paham.

Pelabuhan, menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.69 Tahun 2001, adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan disekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan / atau bongkar muat barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi.

Sedangkan  dermaga adalah tempat di mana kapal dapat bertambat untuk bongkar muat barang. crane, untuk melaksanakan kegiatan bongkar muat barang.

Jadi intinya, dalam area pelabuhan bisa  terdapat beberapa dermaga, yaitu dermaga untuk kapal penumpang, dermaga untuk kapal kargo dll

Syahdan, bagi saya seharusnya pemerintah /pihak berwenang di Kabupaten Alor membuat dermaga yang terpisah antara dermaga kapal penumpang dan dermaga untuk kapal kargo.

Mengapa demikian? Kita tentu tahu bersama bahwa salah satu hal terpenting bagi kita manusia adalah kenyamanan. Dan untuk area pelabuhan, kenyamanan  berhubungan dengan fasilitas yang baik, yaitu jalan yang tidak berlubang, ruang tunggu yang bersih, toilet yang tidak jorok, keamanan, dan lain sebagainya.

Coba Anda bayangkan bagaimana kondisi pelabuhan jika dermaga kapal untuk penumpang, di situ juga digunakan untuk kapal kargo, kacau balau, bukan?

Kondisi Jalan yang rusak, berdebu, kotor, gedung yang tidak terawat, ditambah lagi sampah plastik yang dibuang kelaut, itu terlihat di sekitaran dermaga Kalabahi.

Saya pernah singgah di pelabuhan Makassar pada tahun 2004, kondisi pelabuhan pada tahun itu sungguh memperihatinkan. Hampir mirip dengan pelabuhan kalabahi. Banyak  penjual makanan, pengemis, sampah berserakan di mana-mana. Saking padatnya orang-orang di pelabuhan membuat kita sulit membedakan mana penumpang kapal, penjual, pengantar dll.

Akan tetapi sekarang ini kondisi pelabuhan Makassar berbeda dengan tahun sebelumnya,  tata kelola pelabuhan yang baik membuat kondisi pelabuhan  Makassar kiwari terlihat rapi dan tertib. Dermaga kapal penumpang dipisah dengan dermaga kapal kargo. Gedung terminal penumpang pun bersih dan sejuk.

Kalau di bandingkan dengan pelabuhan di Provinsi NTT, khusus pelabuhan Tenau Kupang. Kata orang pelabuhan Tenau “masih kalah jauh” dengan pelabuhan Makassar.

Saya pikir bagus apabila pemerintah/petugas berwenang di Kabupaten Alor mengambil contoh dari tata kelola pelabuhan yang ada di Makassar.

***

Pelabuhan di Kabupaten Alor, terkhusus kota Kalabahi memiliki tiga dermaga. Pertama, dermaga kalabahi yang biasa digunakan untuk kapal-kapal penumpang (kapal PT PELNI). Kedua dermaga dulionong, biasa digunakan untuk kapal-kapal kayu dan fiber yang berukuran sedang. Ketiga, dermaga Ferry untuk kapal-kapal ferry lintas Kabupaten yang ada di NTT.

Nah, dari ketiga dermaga tersebut, menurut saya dermaga yang saat ini terlihat layak dan bagus digunakan untuk kapal penumpang (Kapal PELNI) adalah dermaga dulionong.

Karena kondisi area dermaga masih terlihat baik dan bersih. Berbeda dengan dermaga di sebelahnya. Walaupun masih bisa digunakan, jalan masuk darmaga terlihat rusak parah, belum lagi terminal penumpang yang tidak terurus dengan baik.

Kendati kondisi area di sekitar dermaga Kalabahi  terlihat memperihatinkan. Akan tetapi, pihak yang berwenang masih saja menggunakan dermaga tersebut sebagai tempat aktifitas kapal penumpang dan juga kapal kargo. Barangkali mereka memiliki alasan sendiri. 

Namun, kalau melihat kondisi tersebut, menurut saya sebaiknya area di dermaga tersebut segera diperbaiki. Setelah itu dibenahi, diatur dan juga diawasi agar tertata dengan baik.

Pelabuhan dengan prasarana baik, akan menjadi daya tarik sendiri bagi setiap pengunjung yang berkunjung menggunakan transportasi laut. Pun pelabuhan dengan tata kelola  efektif dan efesien akan menarik investor untuk berinvestasi melalui sektor kelautan.

Sebagai masyarakat Alor kita tentu takingin pelabuhan kita dikatakan terburuk di antara pelabuhan yang ada di provinsi NTT, bukan?

Selain peran pemerintah dalam membenahi infrastruktur yang ada di Kabupaten Alor. Kita sebagai masyarakat Alor pun seharusnya bertanggung jawab atas kenyamanan dan kebersihan di area pelabuhan.

Dengan cara bagaimana? Pertama, mulailah membangun kesadaran diri dengan tidak membuang sampah sembarangan di area pelabuhan, jangan buang sampah ke laut, tetapi buanglah sampah pada tempah sampah yang disediakan. Kedua, jangan merusak dan mencoret-coret fasilitas di area pelabuhan.

Dengan itu, saya pikir minimal kita telah berkontribusi dalam membantu pemerintah dalam menjaga kebersihan dan kenyamanan di area pelabuhan.

Dampak positif dari prasarana yang baik adalah selain berpengaruh terhadap pendapat daerah, membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Alor pun menjadi buah bibir untuk setiap orang berkunjung, karena terkenal dengan pelabuhannya yang bersih dan juga nyaman. 

Apatah lagi  dengan adanya kepedulian bersama antara pemerintah dan masyarakat, tentu sangat membantu mempercepat misi dari pemerintah daerah yaitu Alor kenyang, Alor sehat Alor pintar.

Tulis, Tulis, Tulis, Lama-lama Akan Terbentuk

minews.id

Membaca beberapa tulisan di media sosial mengenai bagaimana menjadi penulis yang menghasilkan tulisan (karya) yang baik. Selain mendapatkan bacaan tentang saran dan masukan yang membangkitkan gairah menulis untuk penulis pemula. Saya juga menemukan tulisan dari beberapa penulis senior yang dalam pembacaan saya, tulisan mereka itu seperti menggambarkan arogansi. Mereka seakan-akan ingin menunjukan bahwa mereka adalah pemegang kendali (otoritas) dalam hal bagaimana menulis yang baik; dan juga menarik.

Kasarnya, menurut mereka menulis yang baik itu harus begini dan begitu. Penulis yang baik itu harus seperti ini, atau  sesuai selera/penilaian mereka. Mereka laiknya hakim, yang bertugas menilai, memutuskan, bagaimana bentuk tulisan yang baik.

Bagi saya, itu terasa aneh, bagaimana tidak, jikalau menulis itu harus sesuai  dengan selera mereka, selera penulis senior yang merasa mempunyai otoritas, siapa yang menjamin bahwa tulisan dari  penulis senior itu diterima semua pembaca? 

Setiap pembaca tentu punya selera masing-masing dalam menikmati tulisan/bacaan. Ya, karena selera itu sangat dipengaruhi oleh subjektivitas seseorang, baik itu penulis maupun pembaca.

Bukannya kenapa, penulis pemula akan enggan mulai menulis apabila tulisan harus sesuai dengan selera para penulis senior, apalagi ditambah banyak rambu-rambu bahwa tulisan yang baik haruslah seperti ini, itu; atau minimal seperti tulisan mereka.

Tak bisa dipungkiri hal semacam itu membuat kekhawatiran dari penulis pemula. Bagaimana harus memulai menulis? Bagaimana agar tulisannya seperti penulis senior? Ragu menuangkan ide dalam tulisan, dll.

Beragam kekhawatiran itu akhirnya membentuk sebuah penjara pikiran. Penjara berupa bayang-bayang “tulisan harus seperti/ sebagus penulis senior”

Bagi penulis pemula, seperti saya, akan lebih senang jika membaca tulisan yang di mana pada tulisan tersebut menumbuhkan gairah untuk menulis.

Seperti tulisan yang memotivasi, misalnya:

kalau mau menulis, ya, menulis saja. Lupakan semua aturan. Labrak semua konvensi tentang cara menulis. Mulailah menulis secara bebas. Jangan terlalu memikirkan bagus dan tak bagusnya sebuah tulisan, atau tulisan harus sama/mirip dengan penulis senior. Tuliskan apa saja yang terpikirkan atau yang tiba-tiba muncul dalam benak.  Biarkan ide dalam kepala  mengalir bebas lewat tulisan.

Tulisan yang buruk dapat diperbaiki, yang sulit itu tak  pernah menulis sama sekali.

Tentu, teori-teori tentang menulis,  bagaimana kaidah-kaidah dalam penulisan, bagaimana menaja kalimat yang efektif, itu penting untuk dipelajari. Akan tetapi ketika hanya terpaku pada teori, dan hanya terus memikirkan bagaimana menghasilkan tulisan apik seperti halnya para maestro dalam bidang menulis, kita takakan  bisa menulis sepatah katapun.

Maka dari itu mulailah menulis, semakin sering menulis, lamban laun kita akan menyadari bahwa dalam tulisan kita ada perubahan/peningkatan. Kita pun akan menyadari bagaimana penempatan tanda baca yang benar, bagaimana konjungsi antar kalimat, konjungsi intra kalimat; dan hal lainnya yang berhubungan dengan kaidah penulis.

Kalau kata Tan Malaka, terbentur, terbentur, terbentuk!  Kalau dalam tafsiran saya berkaitan dengan menulis : Tulis, tulis, lama-lama akan terbentuk!

***

Syahdan, tatkala membaca tulisan Eka Kurniawan (penulis buku “Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas”) tentang “Karakter Datar dan Karakter Bulat” tulisan tersebut, bagaikan angin segar untuk penulis pemula.

Eka kurniawan menulis bahwa, ia tak percaya ada aturan tunggal untuk menyampaikan gagasan dalam bentuk tertulis, sebagaimana ia tak percaya ada otoritas tunggal yang menentukan makna hasil tulisan. Ia percaya beragam kemungkinan bisa dilakukan, yang penting penulisnya nyaman. 

Ia melanjutkan “Setiap penulis harus menemukan cara mereka sendiri untuk menulis; demikian pula, sangat penting bagi pembaca memiliki kemerdekaan untuk bebas membaca dengan cara mereka. Otoritas (siapa pun yang teriak-teriak “harus begini, harus begitu”) sudah saatnya istirahat di lubang kakus”.

Sebagai penulis pemula, mantapkan dan yakinkan diri sendiri bahwa saya bisa menulis dan akan menjadi penulis yang masyur.  Lalu bagaimana caranya memulai menulis? Ya, dengan cara menulis.  Sederhananya mulailah dengan menuliskan hal-hal yang kita ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu sendiri. Jangan takut salah dalam menulis, sebab penulis  hebat, tak ujuk-ujuk menjadi penulis handal, mereka pun pernah menjadi penulis pemula yang pernah melakukan kesalahan.  

Kalau kata Stephen King : “Untuk menjadi penulis, yang dibutuhkan hanyalah kemauan keras untuk menulis dan kemudian mempraktikkannya, orang yang hanya mempunyai kemauan untuk menulis, namun tidak pernah melakukannya, maka ia sama saja dengan bermimpi untuk memiliki mobil, tanpa ada usaha dan kerja keras untuk memilikinya”

Akhir kata, saya teringat tulisan Oriana Fallaci (penulis dan jurnalis terkenal dari Italia) yang membuat saya termenung. Ia mengatakan “Aku menulis buku, agar saat aku mati ada bagian diriku yang tetap hidup

Bagaimana dengan kita? “Apakah kita pun bisa seperti Oriana”? Menulis buku untuk mengabadikan sebagian diri, atau kita akhirnya hanya seperti busa, muncul sekali lalu hilang tanpa bekas.

Kematian Bukan akhir Segalanya

Ilustrasi mati suri (Shutterstock).

Kita tahu, kematian itu adalah hal yang pasti bagi manusia, hewan, tumbuhan. Setiap yang hidup pasti akan mengalami kematian. Akan tetapi, tidak semua dari kita mempunyai perspektif yang sama dalam memahami kematian. 

Ada banyak perspektif yang beragam dalam memahami kematian. Pada dasarnya secara psikis kita terpengaruh ketika mendengar kata “kematian”.

Apakah terasa sakit? Ketika tubuh kita di dalam liang kubur, apa yang akan terjadi? Bayangan tentang  kematian membuat kita termenung. 

Dalam tulisannya “Tentang Kematian”, Reza A.A Wattimena mengutip perkataan Budi Hardiman bahwa “Yang menakutkan bukanlah kematian, melainkan mati, yakni proses menuju kematian”.

“Mati” adalah hal yang paling menakutkan. Orang-orang berupaya mencari cara, tips, agar ingatan atau apa pun tentang kematian hilang dari benaknya. 

Umberto Eco (kritikus sastra Italia, novelis, dan semiotic terkenal) pernah berkata:

“Apa yang dipikirkan manusia ketika memperhatikan langit? Dia pikir, lidahnya tak bisa melafalkan kata apapun tentang apa yang dilihatnya. Langit adalah pemandangan tanpa batas; sedangkan kita memiliki batas-batas yang membuat jeri dan ngeri: yakni ajal, kematian. 

Itulah mengapa kita cenderung menyukai segala hal yang tak memiliki batas dan, karena itu, tak memiliki akhir. Itulah pula cara kita menghindari berpikir tentang kematian. Kita ingin memiliki banyak hal tanpa batas karena kita tak ingin mati.”  

Walaupun kita menghindari berpikir tentang kematian, kematian akan selalu membayangi. Kematian bagaikan “Malaikat Maut” yang dengan parang sabitnya selalu mengikuti di mana saja kita pergi.

Ia bisa merenggut kapan saja. Entah itu kita siap atau tidak: ditabrak mobil, kecelakaan lalu lintas, tertembak, tertimpa reruntuhan, tenggelam, terkena bencana alam, dan lain sebagainya. Mungkin kita tidak menyadarinya.

Kata Syaikh Ali Mustafa Tanthowi (Ulama Syam): Kematian adalah hal yang paling jauh dari pikiran kita, walaupun sebenarnya ia lebih dekat dari segala yang dekat dengan kita.

                                         **

Kematian, walaupun sangat dekat dengan kita, tetapi tidak semua dari kita menginginkannya. Ada dari kita yang terhanyut dalam kesenangan duniawi dan  menginginkan sesuatu yang lebih. Tidak hanya harta dan tahta. Akan tetapi juga menginginkan kehidupan yang abadi, kehidupan yang tidak berakhir dalam “kematian “. 

Bagi mereka, dengan adanya kematian, apa pun yang telah dimiliki menjadi sia-sia. Kematian datang merenggut semuanya. Keluarga, teman, kekasih, pekerjaan dan lain-lain. Agar semua itu terus dapat di dimiliki selamanya adalah dengan mendapatkan kehidupan abadi. Kehidupan yang tidak menua dan mati.

Kini, di era 4.0 memasuki 5.0, di media sosial banyak kita jumpai informasi-informasi yang membuat kita tersentak. Para ilmuwan, dengan segala perangkat modern melakukan eksperimen. Menguji transplantasi organ dengan organ buatan. Dengan nanoteknologi  menumbukan sel-sel baru.  

Upaya cryogenics, yaitu membekukan pikiran dan tubuh manusia dan ‘mengawetkannya’ hingga sampai waktu tertentu. Memprogram ulang sel agar tidak menua. Uji genetika, menciptakan manusia hybrid, dan segala eksperimen lainnya. Kesemuanya itu dilakukan agar dapat menciptakan teknologi yang dapat membuat hidup abadi. Tidak menua dan terhindar dari kematian.

Kita mungkin akan bertanya-tanya, apakah kematian merupakan hal yang buruk sehingga harus mencari cara agar terus hidup?

Apakah kehidupan yang abadi itu menyenangkan?

Kalau kita coba berpikir dan renungkan. Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa Kematian adalah ikhtiar kita ( sadar ataupun tidak). 

Ketika kita terlahir ke dunia ini, otomatis kematian menjadi sebuah keniscayaan. Apa pun yang kita lakukan di dunia, itu merupakan sebuah ikhtiar untuk menuju  kematian. Misal dalam hal makan. Kita memilih tidak makan, ataupun makan. Kita pasti akan mati juga. 

Dengan tidak makan, tubuh kita kekurangan energi yang bisa menyebabkan kematian, begitupun ketika kita makan. Ketika makan, nutrisi yang tersuplai dalam tubuh, membuat sel-sel dalam tubuh terus berkembang dan lama-kelamaan tubuh makin menua, lalu berakhir dalam kematian .

Saya rasa, ada baiknya kalau kita sedikit belajar dari para sufi. Bagaimana mereka memaknai jiwa dan juga kematian.

Dalam pandangan para sufi, jiwa merupakan hal yang lebih eksistensial dari pada jasad. Tanpa jiwa, kita seperti robot, atau hanya bentuk-bentuk fisik saja, seperti ungkapan Sa’di asy-Syirazi (sufi dan penyair Persia):

Badan manusia mulia karena ruhnya, 

Tubuh yang indah bukanlah tanda kemanusiaan

Jika manusia itu (disebut) manusia karena mata, telinga atau lidahnya,

apa bedanya antara manusia dan gambar manusia di dinding.

Dengan ini. kita tahu bahwa, jasad hanyalah pakaian bagi jiwa.  Kapanpun pakaian itu bisa saja lepas. Karena tanpa jiwa, pakaian (jasad) tidak berarti sama sekali. Jiwalah yang merupakan hakikat dari diri kita. Karena dengan adanya jiwa, kita bisa memaknai hidup dan kehidupan. Memaknai sisi kemanusiaan  kita. Mencari tahu apa artinya kematian bagi kita?

Dalam hal kematian. Para sufi mengatakan bahwa: kematian adalah awal kehidupan, bukanlah akhir dari kehidupan. Kematian merupakan perjalanan pulang kita.

Seperti kata Abdu’l-Khaliq Ghijduwani – Al Junayd, sufi abad ke-9:

“Perjalanan kita adalah perjalanan menuju asal-usul, sebuah perjalanan pulang. Selalulah ingat bahwa diri kita sedang berjalan dari dunia yang terlihat menuju dunia Kasunyatan yang tak-terlihat.”

Dalam Buku (Belajar Hidup dari Rumi) Haidar Bagir Menulis syair Jalaluddin Rumi ( penyair, sufi) Tentang Kematian dengan sangat indah:

“Oh, Tuhanku. Mati untuk bersatu dengan-Mu adalah harapan yang manis. Tapi hidup dalam kepahitan terpisah dari-Mu adalah hangus dilalap api.”

“Kau dilahirkan dengan sayap, kenapa mesti merayap dalam hidup? (Kita adalah makhluk langit, kenapa biarkan terkungkung dunia?)”

“Wahai Kekasih. Ambillah apa-apa yang kumaui, ambillah apa-apa yang kulakukan, ambillah apa-apa yang kubutuhkan. Ambillah semua yang mengambilku dari-Mu.

(Dihadapan kerinduan pada Tuhan keinginan kita tak ada nilainya)”.

“Jiwaku dari suatu negeri di sana. Disana juga kumau berakhir. (Kita dari Tuhan dan adalah percikan Tuhan. Kepada-Nya pula kita ingin kembali)”.

Dengan demikian. Kita tahu bahwa, kematian bukanlah akhir dari segalanya.

Maka  semestinya  yang kita lakukan adalah mempersiapkannya, bukan dengan menghindarinya. Ibarat seorang yang ingin bepergian ke suatu tempat atau kembali ke kampung. 

Sedini mungkin, ia akan mempersiapkan segala hal sebelum keberangkatannya. Dengan persiapan yang matang, ia bisa lebih tenang menunggu jemputan.Tidak panik ketika tiba-tiba jemputan itu datang. Begitu juga dengan kematian. Jika kemudian kita mati. Kita telah Ridho menerima, menyambutnya dengan hati yang lapang.

Akhir kata, saya teringat sebuah kata-kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang membuat saya termenung :

“Manusia itu tertidur, jika mereka mati, barulah mereka terbangun.”  

Catatan:

Tulisan saya ini pernah terbit di Blog TUNALITERASI dan juga KOMPASIANA

Umbu Landu Paranggi, Maha Guru Puisi Asal NTT

Umbu Landu Paranggi dan Cak Nun(Twitter @kenduricinta)

Benar yang dikatakan orang-orang bahwa penyair takkan pernah mati, mereka selalu hidup dalam karya-karyanya.

Umbu Landu Paranggi, para penyair mana yang tak mengenal beliau? hampir semua penyair Indonesia mengenal siapa beliau. Mungkin hanya orang-orang yang kurang piknik dalam belantika penyair sahaja yang tak tahu siapa beliau.

Lelaki kelahiran Sumba Timur 10 Agustus 1943, asal Nusa Tenggara Timur (NTT)  ini merupakan sosok fenomenal dan misterius dalam dunia penyair, Ia  disebut guru oleh beberapa penyair. Orang-orang yang dekat dengannya menyebutnya “guru batin”, “mahaguru puisi”, “mata air puisi”, “guru yang bersih hati”.

Tatkala membaca beberapa tulisan tentang beliau, saya terkagum-kagum ketika mengetahui bahwa Ema Ainun Najib atau yang biasa disapa Cak Nun  pernah berguru kepada beliau.

Bukan hanya itu, pun beberapa sastrawan seperti Linus Suryadi AG, Iman Budhi Santosa, Ragil Suwarno Pragolapati  pernah berguru kepada beliau.

Akan tetapi, menurut orang dekat beliau, walaupun beliau terkenal dikalangan penyair. Namun, beliau tak begitu suka dengan popularitas.

Dilansir dari Tirto.id, Emha dalam esainya, “Presiden Malioboro, Untuk Umbu”, yang tayang di Kompas (16/12/2012) menyebut bahwa keterkenalan sebagai penyair memang bukanlah tujuan Umbu. Ia bahkan dengan sadar menjauhi eksistensi sebagai penyair. Padahal ia punya kesempatan untuk itu ketika pada 1973 puisi-puisinya hendak diterbitkan oleh majalah Horison. “Umbu diam-diam masuk ke percetakan di mana majalah itu dicetak, mencuri puisi-puisinya sendiri, dan menyembunyikannya sampai hari ini. Umbu sangat curiga kepada kemasyhuran dan popularitas,” demikian Emha.

**

Syahdan, ketika saya membaca tulisan Agus Rois tentang “Rinduku Pada Umbu; Mungkin Hanya Angin, Daun, dan Debu” saya makin kagum dan terkesima terhadap beliau. Saya yang membaca tulisan tersebut seakan tak percaya bahwa ada orang NTT yang masyur dalam dunia penyair dan begitu dikagumi.

Arkian salah satu di antara puisi-puisi beliau yang saya sukai adalah puisi tentang “Ibunda Tercinta” Begini bunyinya:

Ibunda Tercinta

Perempuan tua itu senantiasa bernama:

duka derita dan senyum yang abadi

tertulis dan terbaca jelas kata-kata puisi

dari ujung rambut sampai telapak kakinya

Perempuan tua itu senantiasa bernama:

korban, terima kasih, restu dan ampunan

dengan tulus setia telah melahirkan berpuluh lakon, nasib dan sejarah manusia

Perempuan tua itu senantiasa bernama:

cinta kasih sayang, tiga patah kata purba di atas pundaknya

setiap anak tegak berdiri menjangkau bintang-bintang dengan hatinya dan janjinya

Kalau kita membaca puisi di atas kemudian kita renungkan, kata-kata dari setiap bait puisi tersebut syarat akan makna.

Beliau menggambarkan  dengan  sangat indah tentang sosok ibu. Perempuan yang kuat, penuh pengorbanan, sosok pelindung, pemelihara, penopang bagi anak-anak. Beliau seakan menunjukan bahwa ibu adalah mahluk paripurna. Seperti dalam bait puisinya, pada diri ibu hanya ada tiga patah kata purba: cinta kasih sayang.

***

Sialnya belum lama saya mengenal dan membaca sajak maupun puisi beliau,
Saya terkejut tatkala mengetahui bahwa beliau telah dipanggil oleh yang Mahakuasa.

Dan itupun sudah di bulan lalu, tepatnya pada Selasa (6/4/2021) pukul 03.55 WITA, di Denpasar, Bali.

Detak, detik seakan memperpendek usia. Namun suaramu yang bergema dalam syair seakan membuatmu hidup selamanya.

Dalam detak detik, dalam genggaman usia

Mengombak suaramu jauh bergema

(Umbu Landu Paranggi, Solitude).

 
Para penyair selalu hidup dalam karya dan di hati pecintanya; dan yang kita lakukan adalah temukan mereka dalam karyanya

Kekasihku, di jalan ada jumpa dan sua kembali. Tetapi orang berjalan sendiri-sendiri. Kupikul ragaku menempuh kemegahan Suluk, dan kamulah tembang laras Suluk itu. Kamu mengira aku pergi, padahal aku mengembara di dalam dirimu.

(Elizabeth D. Inandiak, Centhini: Kekasih yang Tersembunyi)

HMI : Indikator kemundurannya

Dokpri

Dalam sebuah Seminar Kepemimpinan dan Moralitas Bangsa di Auditorium LIPI, Jakarta, 13 Juni 2002. Nurcholish Madjid  atau yang biasa disapa Cak Nur berkata  “Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebaiknya dibubarkan saja, agar tidak menjadi bulan-bulanan dan dilaknat”.

Mengapa Cak Nur berkata demikian? Saya pikir kata yang terucap dari mulut beliau  bukan tanpa sebab. Barangkali tatkala beliau masih hidup dan  masih mengikuti perkembangan HMI, sepertinya timbul kekhawatiran  dalam benak beliau tentang masa depan organisasi yang turut beliau besarkan.

Pada satu sisi karena kecintaan beliau terhadap HMI dan pada sisi yang lain karena kekhawatiran melihat kader HMI yang sudah menyimpang dari tujuan HMI,  sehingga saya berasumsi bahwa kata-kata pembubaran HMI tersebut  beliau ucapkan.

Syahdan, pembubaran HMI yang diucapkan Cak Nur, sepertinya  ada benarnya, bagaimana tidak? Kalau ditilik, bukan hanya orang di luar organisasi HMI, tetapi orang di dalam HMI pun membuat HMI menjadi bulan-bulanan, bahkan menjadi olok-olokan. 

Kualitas keilmuan kader HMI yang  kini  mulai menurut dan cetek. Pun ada beberapa kader HMI yang menjadi koruptor dan juga melakukan skandal; dan itu sudah menjadi rahasia umum.

Tentu kita ketahui  bersama bahwa ada beberapa nama besar yang pernah berproses di HMI dan perah menjadi Ketua Umum terjerat korupsi. Ketika diberi amanah untuk menjadi pejabat malah menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi, keluarga dan kelompoknya, sehingga dengan kelakuannya itu akhirnya terjerat korupsi.

Bukankan itu merupakan hal yang memalukan serta mencoreng nama baik dari organisasi serta tujuan daripada HMI didirikan; dan  terbukti benar yang  dikatakan Cak Nur, daripada menjadi bulan-bulanan, sebaiknya HMI dibubarkan saja.

***

Bila kita menengok kembali tujuan daripada organisasi HMI didirikan adalah “Terbinanya pemuda/pemudi (insan) akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung-jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”

Jika ditelisik tujuan HMI tersebut, lalu ditilik tentang kinerja kader HMI, khususnya jajaran komisariat dan juga cabang saat ini sepertinya  “Jauh punggung dari api”, (masih jauh dari tujuannya).

Hatta, mengapa demikian?

Kalau kita mendedah kembali buku yang ditulis Agus Salim Sitompul tentang  44 Indikator  Kemunduran HMI, kesemua indikator tersebut sangat relevan dengan apa yang terjadi di HMI kiwari.

Akan tetapi, dalam tulisan ini, saya hanya  mengutip tujuh indikator, yang menurut saya itu terjadi pada beberapa cabang di HMI yang saya temui.

Pertama, HMI dan kader-kader penerus kurang mampu mengikuti jejak para pendahulunya yang memiliki pandangan visioner, sebagaimana dilakukan pemrakarsa pendiri HMI Lafran Pane dan para penerusnya.

Kedua, Kurangnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan, pengamalan ajaran agama Islam di kalangan anggota dan pengurus.

Ketiga, Belum optimalnya pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan anggota dan pengurus HMI di hampir semua tingkatan kepengurusan tentang khasanah-khasanah ke-HMI-an dan keorganisasian.

Keempat, Memudarnya “tradisi intelektual HMI”.

Kelima, HMI banyak terlibat dalam kegiatan politik, sehingga banyak menyedot perhatian, tenaga, pikiran, bahkan dana.

Keenam, HMI sebagai mata rantai gerakan pembaharuan di Indonesia, akhir-akhir ini tidak menampakkan lagi pemikiran-pemikirannya yang cemerlang untuk melakukan pembaharuan dalam berbagai pemikiran; dan Ketujuh, daya kritis aktivis HMI menurun.

Syahdan, sebagai kader HMI, atau yang pernah berproses di HMI tentu kita takingin organisasi yang kita cinta tersebut terpuruk, bukan?

Lantas apa yang bisa kita lakukan sebagai kader yang pernah berproses di HMI atau saat ini masih aktif sebagai pengurus dan anggota HMI?

Sependek  pengetahuan saya, yang harus dilakukan  adalah kembali kepada khitah awal organisasi HMI didirikan. Dengan cara bagaimana? Hidupkan lagi khazanah keilmuan yang Rasional, Kritis, Sistematis dan juga Universal. Dan juga tutup kembali ceruk indikator penyebab terjadinya kemunduran HMI, seperti yang disampaikan Agus Salim Sitompul dalam Bukunya 44 Indikator Kemunduran HMI.

Arkian, tindakan sederhana yang menurut saya baiknya dilakukan kader adalah Pertama, pahami dengan baik dan maknai dengan jernih tujuan dari pada HMI didirikan, agar tidak kajili-jili ( merasa organisasi ini miliknya dan keluarganya sehingga mencari makan di organisasi).

Kedua, tingkatkan literasi. Literasi bukan sekadar membaca, tetapi juga menulis, mengkaji, dan sebagiannya.

Ketiga, pahami dengan baik Nilai Dasar Perjuangkan (NDP) HMI, artinya bukan hanya sekadar dihafal, tetapi dipahami/dimaknai. Kata Bung Hatta “Membaca tanpa merenungkan bagaikan makan tanpa dicerna.

Keempat, perubahan diri atau dengan kata lain Tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Jangan berharap melakukan perubahan sosial di tengah masyarakat ketika tak selesai dengan diri sendiri. Sebab, setiap perubahan sosial dimulai dengan mengarahkan perhatian kepada perubahan individual yang dimulai dari perubahan cara dan pola berpikir kemudian  pola perilaku.

Dengan itu,  saya yakin, HMI akan kembali kepada Khitah awal didirikan dan sesuai dengan yang diharapkan para pendiri dan juga harapan para senior yang menjunjung tinggi kebenaran, seperti Ayahanda Lafran Pane, Nurcholis Majid, Baharudin Loppa dan Munir Thalib.

Akhirnya kata saya mengutip kata Jalaluddin Rumi sebagian renungan:

Kemarin saya pintar, jadi saya ingin mengubah dunia.
Hari ini saya bijaksana, jadi saya mengubah diri saya sendiri.

Nisa Sabyan, Perilaku dan Jilbab

Vokalis Sabyan Gambus Nissa Sabyan menghibur ribuan santri saat Puncak perayaan Hari Santri Nasional 2018 di lapangan Gasibu, Bandung, Jawa Barat, Minggu (21/10/2018). Acara yang dihadiri santri dari berbagai daerah tersebut dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional ke-3. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa/ama. (M Agung Rajasa)

Saya mengamati kasus Nisa Sabyan yang sedang heboh baru-baru ini, kelihatannya para netizen lebih menukas si perempuan dibanding kepada si lelaki. Terlepas dari siapa yang memulai, saya pikir, tidak semua kesalahan berawal dari si perempuan, bisa jadi yang memulai memantik rasa suka hingga sampai pada perselingkuhan  berawal dari si laki-laki.

Mirisnya, jilbab yang dipakai si Nisa tersebut pun  menjadi sorotan dan bahkan dijadikan bahan bullyan oleh sebagian natizen. 

Malah ada yang mengatakan kasus Nisa Sabyan menunjukan bahwa jilbab itu hanya gaya berpakaian. Ada juga yang mengatakan ia berjilbab tapi munafik.

Begini Ferguso, bedakan dulu antara jilbab dan perilaku, sebab perilaku dan jilbab adalah dua hal yang berbeda

Mengutip wikipedia, Perilaku adalah serangkaian tindakan yang dibuat oleh individu, organismesistem, atau entitas buatan dalam hubungannya dengan dirinya sendiri atau lingkungannya, yang mencakup sistem atau organisme lain di sekitarnya serta lingkungan fisik (mati). 

Saya memahami begini, Perilaku adalah apa yang ada pada diri yang tercermin pada sikap dan perbuatan seseorang, kita bisa menyebutkan akhlak.

Sedangkan  jilbab adalah kain lebar yang biasa dipakai perempuan muslim untuk menutup kepala, rambut, telinga hingga leher dan dada. Dan saya pikir jilbab bukan hanya dipakai perempuan musim saja, ada beberapa agama non-muslim pun, perempuannya memakai jilbab.

Jilbab seperti halnya benda lainnya, fungsinya tergantung pada penggunanya. Kita manusia yang memberi nilai pada benda atau barang.

Mungkin ada yang memahami jilbab itu berupa kain penutup meja (taplak meja), tak masalah. Akan tetapi bagi perempuan muslim jilbab taksekadar itu.

Pada pisau misalnya, ia akan menjadi buruk apabila gunakan untuk membunuh. Namun sebaliknya ia menjadi baik apalagi digunakan untuk memotong sayur, bawang dll.

Intinya, barang seperti jilbab, pisau dll;  postif dan negatifnya tergantung pada si pemakai/pengguna.

Ketika ada perempuan berjilbab membunuh, apakah kita akan menyalahkan jilbabnya? Tentu tidak, yang kita salahkan adalah orangnya.

Jilbab hanyalah sebuah barang tak bergerak. Perbuatan/perilaku seseorang yang membuat orang itu dinilai baik atau buruk.

Jadi, Jika salah seorang penguna/pemakai jilbab berprilaku negatif, bukan berarti kita lantas menyimpulkan bahwa semua pemakai jilbab otomatis berperilaku negatif. Pun apabila perilaku pemakainya negatif, tidak tepat kalau kita menyimpulkan semua yang memakai jilbab itu hanya mengikuti gaya/tren. 

Banyak perempuan muslim memakai jilbab bukan karena gaya, tetapi  karena memahami tentang pentingnya  jilbab bagi mereka. Dan banyak juga perempuan berjilbab yang sadar akan batas-batas sebagaimana laiknya perempuan berhijab, menjaga kehormatan dirinya. 

Jilbab bagi perempuan muslim bukan hanya sekadar tutup kepala, rambut, telinga, leher dan dada. Akan tetapi sebagai pelindung dan juga simbol kehormatan perempuan.

Perempuan muslim yang benar-benar tahu dan paham akan arti jilbab , akan bersikap dan bertindak sebagai mestinya. Ia berusaha sebisa mungkin untuk menjaga dan menghindari sikap dan perilaku yang negatif.

Seperti yang diberitakan dalam Al-quran tentang jilbab:

“Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur : 31)

Dalam ayat lain dalam al-quran tentang jilbab:

“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istri, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin, ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali, oleh sebab itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab : 59)

Sebagai manusia kita pun tak luput dari salah dan dosa. Bisa jadi kita pun memiliki banyak aib. Namun karena kasih Tuhan, ia tidak menunjukan aib-aib kita.

Mungkin terkadang tanpa sadar kita mengutuk perbuatan negatif orang lain secara terang-terangan, tetapi dalam kesendirian kita  pun kerap kelakuan hal yang negatif.

kata Imam Ali “Janganlah engkau mengecam iblis secara terang-terangan, sementara engkau adalah temannya ketika dalam kesunyian”.

Maka dari itu seharusnya dalam kasus Nisa Sabyan ini menjadi pelajaran kita bersama, agar menjaga diri dan keluarga kita dari hal-hal yang mungkin itu biasa saja kita atau keluarga kita mengalami hal yang sekarang dialami Nisa Sabyan.

Bukan malah mencibir, membuly apalagi menyindir busana jilbab dan prilakunya.

Kata Bong Chandra, “Berkatalah hal yang positif tentang orang lain, karena kata-kata positif selalu kembali pada sumbernya.”