Gotong Royong

Angkat  itu bambu sudah, kasih naik di atas jangan hanya lihat saja, kalau tidak mau kerja, pulang saja.  Begitulah cara paman labeng memarahi teman-teman.

Teman-teman hanya tertawa menanggapi marah-marahnya. Mereka menganggap, ia tak benar-benar marah, memang begitulah orangnya. Walaupun usianya sudah tidak muda lagi,  di kompleks kami, ia dianggap tokoh oleh pemuda.

Semua bekerja gotong royong, bahu membahu. Ada yang mengangkat bambu, menggali lubang, untuk tempat tiang-tiang kayu di masukan,  yang lain di atas mengikat bambu agar terhubung satu dengan yang lain.

Supaya tarpal  bisa di bentang di atas,  bambu di bentuk saling terhubung seperti sebuah  kerangka rumah. Bambu itu di ikat dengan kuat agar tak mudah roboh.  Semua  bekerja sesuai dengan instruksi

Pemandangan di atas merupakan kegiatan gotong royong untuk menyiapkan tempat pernikahan.

Di kompleks kami, tepatnya di kelurahan Kalabahi tengah (Alor). Bila ada acara pernikahan. Biasanya, yang  menyiapkan semua hal itu adalah pihak dari pengantin laki-laki. Hal ini sudah semenjak dahulu di lakukan. Mengapa demikian? Saya tak begitu tahu. Orang-orang dahulu sudah melakukan itu, bila ada pria di kampung kami menikah dengan seorang wanita di kampung lain. Yang mengurus segala sesuatunya, mulai dari tempat pernikahan, sampai konsumsinya, itu semua dari pihak pengantin pria.

Terlebih dahulu menyiapkan segala perlengkapan di rumah pengantin Pria. _Anak-anak  muda akan bekerja sama, bahu-membahu (gotong royong) menyiapkan tempat  untuk pengantin tersebut. Mulai dari  kursi, meja, tenda, hinga tempat dimana pengantin duduk menyapa para tamu. Selanjutnya, bergeser ke rumah pengantin wanita. Hal yang sama juga di lakukan di tempat itu rumah pengantin wanita.

Tradisi seperti itu, masih bertahan sampai generasi saya.

Namun, saya merasa pesimis, apakah  pemandangan di atas (gotong royong di kompleks kami) bisa saya temukan di tahun-tahun mendatang?

Kita tahu bersama bahwa, di zaman sekarang ini,  kegiatan seperti di atas sudah mulai perlahan-lahan hilang dan mulai di tinggalkan.

Sekarang ini saja, di kota-kota lain, yang masuk dalam kategori kota maju, sulit kita temukan kegiatan semacam di atas.

Untuk melakukan pernikahan, orang- orang  mulai meninggalkan cara- cara lama ( gotong royong menyiapkan tempat pernikahan) orang-orang lebih memilih menyewa gedung untuk melangsungkan pernikahan. Supaya tidak repot-repot lagi menyiapkan segala infrastuktur  pernikahan  (Terima beres)

Mungkin karena sudah mapan secara ekonomi, Orang-orang tidak lagi menyiapkan tempat pernikahan secara tradisional. Tapi, tapi lebih memilih gedung sebagai tempat pernikahan. Atau mungkin karena soal Gengsi.

Padahal, kalau kita renungkan, banyak hal- hal positif yang  bisa di rasakan dari kegiatan gotong royong tersebut.   Seperti mempererat silaturahmi antar sesama, menciptakan hubungan sosial yang harmonis, menumbuhkan jiwa kebersamaan.

Mungkin, Kedepannya di Kompleks kami juga, kegiatan royong royong seperti itu, perlahan-lahan akan di tinggalkan.

Pada akhirnya generasi setelah saya, hanya tahu  bahwa gotong royong untuk menyiapkan tempat pernikahan itu, seperti yang ada pada gambar di atas

Tinggalkan komentar