
Di sebuah kedai kopi, ketika sedang asik menikmati kopi. Tiba-tiba Temanku berkata: Apa yang ditampilkan politisi itu seperti sebuah dagelan ya?
Kenapa kamu katakan itu dagelan? Tanya ku.
Tuh, coba kamu lihat ekspresi dari politisi itu. ia menunjuk siaran televisi yang ia lihat di kedai kopi tersebut.
Coba kamu perhatikan, tutur kata, sikap maupun ekspresi yang mereka tunjukan ketika mereka di liput media, atau ketika mereka tampil di acara debat
Yang di siarkan media nasional. Mereka tak ubahnya seperti pelawak.
Saya hanya tersenyum.
Ia pun melanjutkan. Akhirnya-akhir ini ketika saya melihat tingkah para politisi, sama seperti kita menonton dagelan. Ilmu politik yang Sejatinya memahamkan dan juga mengajarkan bagaimana mendistribusikan keadilan, justru di jadikan jurus untuk saling menikung dan menikam, demi kepentingan kelompok, partai, organisasi.
Hanya Kepentingan yang ada dalam kepala mereka. teman sejati sepertinya tak mereka pikirkan. Saya heran, mereka yang kita lihat bermusuhan. Eh tiba-tiba bisa saling berpelukan dan bergandengan tangan. Bukankan itu seperti dagelan?
Ya. Bisa benar, bisa juga tidak. Kataku!
Kenapa saya mengatakan demikian?
Walaupun kelihatan mirip. Pada hakekatnya para aktor dagelan dan para politisi itu berbeda.
Dagelan berupa adegan yang di tampilkan sedemikian rupa agar orang-orang yang menonton di buat tertawa. Dan kalau saya melihat dagelan seperti ada kejujuran yang di tampilkan secara spontan.
Sedangkan politisi apa yang di tampakkan susah untuk di tebak. Seperti yang kamu katakan. Mereka bisa tiba-tiba bermusuhan. Tiba-tiba berpelukan. Tergantung kepentingan. Sehingga untuk menilai kejujuran seorang politikus, terasa sulit.
Maka dari itu, sebagian masyarakat tak begitu percaya para politisi. Mereka membuat image tentang politik menjadi kotor.
Itu tampak pada penilaian sebagian masyarakat. Mereka beranggapan politik adalah hal yang kotor, bagi mereka politik hanyalah alat untuk mencari jabatan/kekuasan untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu.
Segala cara akan dilakukan politisi agar dapat mencapai apa yg di inginkan. Terkadang mereka berpura-pura bodoh, sedih, marah, dan terkadang berbicara sangat idealis.
Tampil di hadapan publik dengan menampilkan wajah penuh senyum (tapi sebenarnya penuh dendam) seakan para politisi itu punya wajah yang bisa di tampilkan bermacam-macam rupa.
Padahal kita tahu bahwa, Politik sejatinya tidak demikian. seperti katamu, politik adalah alat untuk mendistribusikan keadilan. Namun alat itu tidak di gunakan sebagaimana fungsinya, tapi malah di gunakan untuk kepentingan kelompok maupun organisasi atau partai mereka. Sehingga kita pun tak bisa menyalahkan penilaian masyarakat tentang politik.
Kata temanku. Mereka selalu punya kata indah dan retoris ketika tampil di hadapan masyarakat “kami adalah pejuang keadilan, kami akan selalu bersama rakyat dan juga berpihak pada rakyat “. tapi kata yang seolah indah itu hanyalah tinggal kata-kata.
Ya. Betul. Saya teringat kata-kata Charles de Gaulle: Politisi tidak pernah percaya atas ucapannya sendiri. Mereka justru terkejut bila rakyat memercayainya.
Begitulah para politikus. Temanku menimpali. Lalu ia pun tertawa.