
Kenapa ia memakai topeng? Tak banyak yang tahu.
Orang-orang mengatakan bahwa ia selalu tersenyum. Entah dari mana ia berasal, semenjak ia “Ada” Topeng itu sudah melekat pada wajahnya.
Suatu ketika, orang-orang melihat wajahnya (topeng yg dikenakannya berubah Sedih). Orang-orang tak tau mengapa?
Sudah seminggu wajahnya tetap dalam keadaan sedih. Anak-anak tak banyak mendekati nya, biasanya anak-anak banyak mendekatinya ketika ia tersenyum (memakai topeng senyuman).
Sebagian orang dewasa menganggapnya gila, depresi, kerasukan Jin, tetapi tidak dengan anak-anak. Anak-anak menyukai nya. Apapun yang dilakukan anak-anak padanya ia selalu tersenyum, walau ia dilempar dengan batu, dilumuri dengan lumpur, atau diledekin.
Namun, semenjak ia mengganti wajahnya dengan kesedihan, ia dijauhi, hanya beberapa anak yang masih terlihat didekatnya. Mungkin anak-anak itu ingin menghiburnya, karena melihat wajahnya yang berubah sedih.
Seorang anak itu bertanya, Mengapa kamu sedih? ia tak menjawab. Anak itu bertanya lagi, apakah ayah atau ibu mu memukuli mu?
Ia masih terdiam. Atau ada yg mengambil mainan mu? _ ia menatap dalam-dalam anak itu. Anak itu ketakutan, lari menjauh.
Anak-anak tak lagi mendekati nya. Ia sendirian.
Orang-orang tak tahu wajah aslinya. Ia selalu menganti-ganti topeng. Senyuman, sedih, marah, murung, tertawa, dan bermacam-macam ekspresi wajah lainnya.
Ia mengganti topengnya dengan kesedihan, tetapi tak banyak yang menyukai, orang-orang hanya ingin melihat senyuman, mereka hanya suka dengan senyuman tak suka dengan kesedihan.
Ia pernah menanggalkan topengnya, ia ingin menunjukkan sisi sejati dirinya. Namun orang- orang masih menganggapnya memakai topeng.
Ia akhirnya memakai topeng kemarahan.
Tak ada lagi yang mendekati nya
***
Dengan mengganti topeng dengan kemarahan, apakah orang-orang akan menyukai ku? Ia, bergumam.
Ia melihat ke arah topeng-topengnya, ia berpikir bahwa, tak setiap orang benar-benar peduli dengan sesamanya, mereka hanya peduli dengan diri mereka.
Masing-masing dari mereka hanya ingin mendengar, melihat, atau menerima apa yg mereka sukai, menolak yang mereka tidak sukai.
Suka, duka, hanya dirimu yang merasa, yang lain tak mungkin merasa, luka hatimu, obatnya hanya ada pada dirimu.
Perjalanan dalam hidupmu, dirimu sendiri yang menjalani. Orang lain tak mungkin menggantimu berjalan.
Akhir dari apa yang kau pilih dan kerjakan, kau pulalah yang menuainya.
Apapun rupa yang kau tampilkan, Orang-orang tak begitu peduli.
Ia termenung, terdengarnya suara batinnya:
Siapa sejatinya dirimu?
Apakah topeng yang kau kenakan?
Apakah penilaian orang lain tentang dirimu?
Ataukah dirimu yang mengetahui dirimu?
Tak perlu menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun, Karena yang mencintaimu tidak membutuhkan itu, dan yang membencimu tidak akan mempercayai itu.