Lelucon Cerdas Ala Gus Dur

Ilustrasi : satunusanews.com

Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat

(KH. Abdurrahman Wahid)

Ya, benar apa yang dikatakan Gus Dur, dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan lelucon, bisa membuat kita tetawa lepas, hingga sejenak  penat dan beban hidup terasa hilang.

Akan tetapi, menurut hemat saya, lelucon bisa juga  menyinggung, atau menyakiti orang lain.

Apa itu lelucon?

Dalam KBBI: le·lu·con adalah hasil melucu; tindak (perkataan) yang lucu; penggeli hati; percakapan yang jenaka;

Nah, dari pengertian di atas, kita dapat memahami bahwa, lelucon merupakan tindakan, perkataan yang kita lakukan dengan harap, orang yang mendengar, melihat itu, tertawa atau terhibur.

Namun, seperti yang saya sebutkan di atas, walaupun kita berharap orang lain terhibur. Akan tetapi adakalanya lelucon itu malah menyinggung atau menyakiti orang lain.

Atau malah tanpa kita sadari, dalam lelucon yang kita ucapkan, terdapat unsur SARA.

Sila baca juga disini:

Tak Semua Tertawa Itu “Membahagiakan” Dan “kebenaran” Tak Selalu Datang dari Suara Terbanyak.

Barangkali ada yang bertanya, lalu lelucon seperti apa yang tak menyinggung dan dan menyakiti orang lain?

Ini bukan jawaban pasti. Namun, menurut hemat saya, lelucon yang tak menyinggung adalah lelucon yang sebelum dilakukan atau diucapkan, terlebih dahulu dipikirkan dengan matang.

Pendeknya, lelucon itu haruslah rasional, tidak asal-asalan atau ketaksaan.

Kita bisa ambil contoh leluconnya Gus Dur. Bagi saya, salah satu orang Indonesia yang mampu melakukan Lelucon yang cerdas adalah Gusdur.

Mengapa? Karena lelucon yang beliau sampaikan apabila dimaknai, membuat kita menjadi waras dan bijak.

Lelucon yang  keluar dari mulut beliau, tidak asal-asalan. Akan tetapi memiliki pesan-pesan moral yang kuat.

Mungkin benar kata Dwight D. Eisenhower
(Negarawan dan presiden (34e) dari Amerika Serikat 1890-1969):

Selera humor / lelucon adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.

Dua lelucon Gus Dur yang cerdas.

Pertama, waktu Gus Dur masih menjadi presiden, ketika marah-marak isu tentang Papua merdeka. Gus Dur selaku presiden, pernah berkunjung ke Papua untuk mendengar langsung aspirasinya masyarakat Papua.

Nah, dalam kunjungan itu, Gus Dur disambut dengan teriakan “Papua Merdeka” oleh sebagian masyarakat Papua.

Akan tetapi, Gus Dur dengan tenang menemui Masyarakat Papua dan mendengar lansung aspirasi dari Masyarakat papua.

Singkatnya, dalam pertemuan itu, Gus Dur menyampaikan pada   masyarakat Papua yang menginginkan kemerdekaan tersebut dengan berkata:

kalian boleh saja berkata-kata tentang “Papua Merdeka” Atau berteriak dengan ” Kata merdeka “
Akan tetapi jangan keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagi saya kata Gus Dur di atas merupakan lelucon yang cerdas. Mengapa? Gus Dur tak melarang orang berkata tentang “kemerdekaan” Atau berteriak tentang “kemerdekaan”. Karena itu merupakan hak berpendapat atau hak berbicara seseorang.

Namun, dengan cerdas Gus Dur berucap: Boleh berkata merdeka tapi jangan keluar dari Indonesia. Bukankah itu lelucon yang cerdas?

Kedua, suatu ketika Gus Dur ditemui MENKOPOLHUKAM (kalau tidak salah  waktu itu Wiranto).—- dengan agak terburu-buru dan panik Wiranto berbicara begini kepada Gusdur “Pak saya mendengar bahwa di Papua—-Masyarakat papua sudah megibarkan bendera bintang kejora”.

Gus Dur ketika mendengar apa yang disampaikan Wiranto, dengan tenang bertanya kepada Wiranto, “Apakah di sana masih ada bendera merah putih yang dikibarkan”?

Masih ada? Jawab Wiranto.

Lalu Gus Dur menimpali sambil tersenyum, kalau gitu, anggap saja bendera bintang Kejora itu umbul-umbul. 

***

Syahdan, kalau kita dedah, banyak sekali lelucon Gus Dur yang menyentil rasa humor kita.
Akan tetapi dalam tulisan ini, saya hanya bisa menunjukan dua lelucon dari Gus Dur.

Nah, dari dua lelucon di atas, saya bisa menyimpulkan bahwa, Gus Dur melakukan/mengucapkan itu bukan asal-asalan. Akan tetapi berdasarkan pikiran yang rasional.

Barangkali kata-kata yang keluar itu spontan. Namun, spontanitas itu berangkat dari pengetahuan Gus Dur yang terasah dengan baik.

Dengan demikian, bagi saya lelucon  adalah cara mengutarakan sesuatu dengan jujur dan apa adanya berdasarkan akal yang sehat.

Sehingga lelucon itu dapat diterima semua orang. Seperti halnya, lelucon dari Gus Dur, dapat diterima hampir seluruh masyarakat Indonesia.

Karena dalam lelucon Gus Dur, bukan hanya membuat, tertawa geli, tapi didalam humor Gus Dur sarat akan pesan-pesan moral.

Bacaan: Kumpulan Humor Gus Dur.

Tinggalkan komentar