Kematian Jembatan Menuju Kemerdekaan

Ilustrasi Kematian (sumber gambar kompas.com)

Setiap langkah kaki adalah menuju kematian. Sekiranya ada seorang yang memutar langkah untuk menghindarinya, setiap usaha untuk menghindari, yang ia temui adalah mati.

Namun, tetaplah yakin bahwa langkah menuju kematian merupakan langkah menuju kebebasan. Dan kebebasan adalah permulaan/jalan menuju kemerdekaan.

Pernahkah kita berpikir bahwa kemerdekaan yang kita rasakan di dunia ini adalah sesuatu yang semu?

Selama kita hidup di dunia ini dan selama jasad kita masih membutuhkan sesuatu untuk eksis,  “Bukankan itu menandakan bahwa belum sepenuhnya merdeka”?

Pun, dengan adanya jasad saja sudah menunjukkan bahwa kita terikat oleh ruang dan waktu. Kita pun masih sangat bergantung pada kebutuhan fisik maupun psikis

Merdeka sejatinya adalah ketika  kita tak membutuhkan sesuatu/apapun lagi.

Semakin kita menginginkan dan membutuhkan sesuatu, semakin kita terbelenggu oleh keinginan kita sendiri (hasrat hewani yang ada pada diri). Dan itu selalu menuntut untuk dipuaskan.

Akhirnya kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kita sedang di penjara oleh diri kita sendiri dan sesuatu berada di luar diri.

Bilal bib Sa`ad pernah berkata-kata:” Wahai sekalian manusia yang
masih hidup, sesungguhnya kalian tidak diciptakan untuk sebuah kefanaan, melainkan untuk
keabadian. Anda semua akan berpindah dari satu kampung ke kampung lainnya.

Kesadaran akan kematian berakibat berbeda pada orang yang berbeda, tergantung bagaimana orang tersebut memberikan makna terhadapnya.

Hadits menyebutkan ada (dua)
macam kematian. Kematian yang membuat dirinya beristirahat dan kematian yang membuat
orang lain istirahat. Bagi seorang mukmin kematian memberinya peluang untuk beristirahat di tempat yang penuh dengan kedamaian. Kematian adalah perpindahan dari penjara ke istana. Bagi
pendurhaka, kematian membuat setiap orang beristirahat dari gangguannya. Para ahli hikmah
berpesan:” Waktu anda lahir, anda menangis padahal semua orang di sekitar anda tertawa
bahagia. Berkhidmatlah kepada Allah dan manusia, sehingga ketika anda meninggal, semua
orang di sekitar anda menangis, sedangkan anda tertawa bahagia” (Jalalluddin rahmat, 1999 hlm
: 197)

Para pemuja dunia, bersorak-sorak riang seakan hidup selamanya.

Para pesuluk, berharap terbebas dari jerat dunia.

Berbahagialah mereka yang lebih dahulu merasakan sejatinya kemerdekaan. Dan itu hanya bisa terwujud dalam kematian

Catatan.
kata suluk berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Tuhan.

Sumber:

Rahmat,Jalaluddin, Memaknai Kematian Agar Mati Menjadi Istirahat Paling Indah, Depok :
Pustaka Iiman, 2008

Biasakan Tabayyun (Mencari tahu kejelasan) sebelum berkomentar

Ilustrasi.(THINKSTOCK) Sumber: kompas. Com

Baru-baru ini, beredar sebuah vidio yang cukup menggemparkan jagat media sosial. Rekaman video Elianu Hia, orang tua salah satu siswi SMK Negeri 2 Padang. 

Elianu Hia, dipanggil pihak disekolah karena anaknya tidak memakai jilbab sebagaimana yang diwajibkan dalam peraturan sekolah.

Mungkin sebagian dari pembaca akan berkata, lha, kenapa tidak ikuti saja aturan sekolah, kenapa pula menolak aturan yang sudah di wajibkan pihak sekolah?

Begini kawan, alasan Elianu Hia menolak aturan diwajibkan sekolah karena ia bukan muslim, jadi kenapa mesti anaknya harus/wajib memakai jilbab?

Pada intinya, dalam vidio itu, Eliana Hia berusaha menjelaskan bahwa anaknya adalah nonmuslim, sehingga cukup terganggu oleh keharusan untuk mengenakan jilbab.

***
Dengan beredarnya vidio yang diunggah  Elianu,  beragam tanggapan/komentar pun ikut melengkapi dan membuat makin viral vidio itu.

Beberapa komentar dari natizen yang budiman, bisa Anda lihat pada gambar tangkap layar pada video unggahan Elianu yang saya sajikan di bawah ini.

Tangkapan layar, Akun Ibu Elianu

Nah, dari beberapa komentar tersebut, kira-kira, menurut pembaca, mana  yang menyejukkan, solutif? Mana yang  asal-asalan dan makin membuat keruh persoalan?

Silakan Anda nilai sendiri menggunakan akal pikiran yang sehat, tanpa mengait SARA.

Saya sangat tidak setuju, bila ada upaya/tindakan apapun yang memaksa orang lain utuk mengikuti apapun itu, yang berkaitan dengan keyakinan.

Pun saya tidak setuju, kalau setiap persoalan ditanggapi dengan mengunakan kata-kata yang tidak beradab.

Apalagi membawa-bawa nama agama untuk agenda tertentu, atau berpikir bahwa di negara ini hanya diatur oleh agama mayoritas, sehingga segala seluk beluk aturan harus sesuai dengan keinginan mayoritas.

Pendeknya. Cara dan tindakan demikian bertentangan dengan akal sehat dan UUD (undangan-undang dasar)

Misal, Pada komentar akun yang bernama Ita Zuyinalinissi : Tegakkan peraturan islam. Jika kamu berada di antara umat islam.

Komentar tersebut terkesan membawa-bawa agama. Orang yang membaca komentar tersebut bisa saja beranggapan bahwa, ia mendukung apa yang diwajibkan sekolah itu dengan berkata tegakkan aturan islam, jika kamu berada di antara umat islam.

Atau bisa jadi, komentar itu hanya sebuah pernyataan, bahwa tegakkan aturan islam, jika berada di  antara umat islam.

Akan tetapi dari kalau dilihat dari konteks dimana ia berkomentar, sepertinya ia lagi berhalusinasi tentang Indonesia yang bernegara islam.

Mudah berkomentar, Kurang tabayun (mencari kejelasan)

Minimnya literasi dan kurang budaya tabayun (mencari tahu kekejelasan) berdampak pada mudahnya sebagian masyarakat kita dalam menilai sesuatu.

Sehingga kata-kata yang dikeluarkan seenak dan sesuka hati, tanpa berpikir dampak hukum ataupun ketersinggungan orang lain.

Takada larangan dalam mengeluarkan pendapat atupun berkomentar. Namun  sebaiknya  berpikir terlebih dahulu dampak apabila pendapat/komentar tesebut keluar dari lisan maupun tulisan.

Apakah itu menyakiti orang lain, menyinggung orang lain, pun apakah komentar yang kita keluarkan bisa mengakibatkan terkena delik.

Seandainya, para natizen yang budiman, bisa sedikit menahan diri, mecari tahu kejelasan lebih dahulu, sebelum menggerakkan jari untuk berkomentar, saya pikir akan adem-adem saja dalam berkomentar, tanpa harus mengeluarkan kalimat caci maki dan kata kasar lainnya.

Pun, apabila segala sesuatu didudukan dan dibicarakan baik-baik pasti ada jalan keluar.

Misal, seperti yang diungkapkan akun yang bernama Intan Marbun: saya juga pernah seperti ini, anak saya disuruh pakai hijab lengkap dengan bajunya. Dan sudah dibagikan, tapi saya langsung kembalikanlah ke sekolahnya tapi gurunya menolak. Dan saya menghadap ke kepala sekolahnya, dan kita berbincang2 dengan baik, dan akhirnya kepala sekolah mengerti dan akhirnya anak saya disuruh pakai pakaian putih lengan panjang, puji Tuhan anak saya lulus dengan baik.

Sekiranya,  Elianu sejenak menahan diri untuk tak keburu mengunggah rekaman tersebut, kemudian mencari solusi dengan bertemu kepala sekolah atau dinas pendidikan terkait.

Pasti ada jalan keluar, tanpa adanya  kehebohan seperti pada komentar, gambar tangkap layar di atas.

Menurut Rusmadi (kepala SMKN 2 Padang), peristiwa itu terjadi karena adanya kesalahan dari jajaran serta Bidang Kesiswaan dan Bimbingan Konseling dalam penetapan aturan dan tata cara berpakaian siswi

Dilansir dari CNN Indonesia,
“Dalam menangani dan memfasilitasi keinginan dari ananda Jeni Cahyani kelas X untuk berseragam sekolah yang disebutkan dalam surat pernyataan, saya menyampaikan permohonan maaf atas segala kesalahan dari jajaran serta Bidang Kesiswaan dan Bimbingan Konseling dalam penetapan aturan dan tata cara berpakaian siswi,” kata Rusmadi dalam jumpa pers di Padang, Jumat (22/1).

Lebih lanjut, Rusmadi mengatakan siswi tersebut tetap bersekolah seperti biasa hingga kini.

“Tadi Jeni sekolah seperti biasa di sekolah. Kami berharap kesalahan, kekhilafan, kesimpangsiuran informasi di media sosial dapat kita selesaikan dengan semangat kebersamaan dan keberagaman,” tutur Rusmadi.

Kendati sudah adanya permintaan maaf dari pihak sekolah. Namun, yang mengherankan buat saya adalah kok bisa ya, terjadi kesalahan demikian? Padahal, dalam membuat sebuah aturan  tentu melibatkan seluruh perangkat sekolah. 

Kita pun tahu bersama bahwa dalam sekolah negeri, guru/pengajar tidak hanya diisi  oleh satu kelompok, suku, atupun agama saja, tetapi di dalam sekolah negeri itu terdapat berbagi macam latar belakang, sehingga menjadi aneh jika adanya pembiaran  peraturan mengenai pemakaian jilbab di sekolah negeri tersebut.

Misal, ada guru bergama hindu dan Kristen di sekolah tersebut, ketika pembahasan mengenai jilbab, apakah mereka hanya diam saja dan ikut menyetujui keputusan wajib memakai jilbab bagi siswi yang non muslim?

Dan yang anehnya lagi, kelalaian ini, seakan menunjukan bahwa sekolah dan dinas terkait, tak tahu mengenai
Permendikbud 45 tahun 2014 tentang Pakaian Seragam Sekolah Bagi Peserta Didik Jenjang Pendidikan Dasar Dan Menengah.
Dalam pasal 3 bagian (4) huruf d,  jelas berbunyi:
Pakaian seragam khas sekolah diatur oleh masing-masing sekolah dengan tetap memperhatikan hak setiap warga negara untuk menjalankan keyakinan agamanya masing-masing.

Intinya, pada pasal tersebut ada kata-kata, tetap memperhatikan hak setiap warga negara untuk menjalankan keyakinan agamanya masing-masing.

Sehingga, walaupun adanya aturan mengenai pakaian seragam terhadap peserta didik. Akan tetapi, pihak sekolah pun harus menghargai keyakinan agama seseorang, baik itu sekolah negeri atau sekolah yang bukan negeri.

Dengan demikian, Saya pikir, kejadian tersebut, menjadi pelajaran dan perhatian kita bersama.

Untuk pihak sekolah dan dinas terkait,  semoga bisa menjelaskan duduk persoalan sebenarnya tentang kewajiban berhijab tersebut.

Sebab, seperti yang dikatakan  Bidang Kesiswaan dan Bimbingan Konseling dalam vidio itu bahwa aturan mewajibkan jilbab sudah disepakati bersama, kemudian diberi tembusan kepada Dinas Pendidikan.

Benarkah demikian? Kalaupun benar demikian, ada apa dengan Dinas Pendidikan Sumbar?

Dan untuk saya sendiri, dan juga para natizen yang budiman.

Pertama, budayakan mencari tahu kejelasan, sebelum berkomentar.
Kedua, biasakan segala sesuatu diselesaikan dengan kepala dingin dan dengan cara baik-baik.
Ketiga, tetap gunakan akal sehat,  ini penting. Sebab tanpa akal sehat, ucapan dan perbuatan kita layaknya hewan.

Persatuan dan kesatuan sebuah negara tidak akan terwujud, jika di dalamnya takada cinta kasih dan  pengertian antar sesama manusia

Kata Albert Einstein : Perdamaian tidak bisa dipelihara dengan paksa. Itu hanya bisa dicapai dengan pengertian.

Akhir kata, di negara tercinta kita ini, apapun yang bertentangan dengan Pancasila, UUD dan kebhinekaan harus dilawan dengan tegas, bukan dengan memaki-maki.

Bacaan:

https://news.detik.com/berita/d-5344738/siswi-nonmuslim-diminta-berjilbab-di-padang-kepsek-tidak-ada-paksaan

https://m.cnnindonesia.com/nasional/20210122214742-20-597417/siswi-disuruh-berjilbab-kepala-smkn-2-padang-minta-maaf

Pemahaman, Pengendalian Diri dan Ketelitian Merupakan “Koentji” Agar Terhidar dari Masalah yang berhubungan dengan Pesawat Terbang

Ilustrasi tiket pesawat(THINKSTOCK) Sumber: Kompas. Com

Pakai saja tiket pesawat ini. Tidak apa-apa, saya tak jadi berangkat. Dari pada tiket ini hangus, tidak terpakai, lebih baik kamu aja yang gunakan. Jangan khawatir, pakai aja foto copy KTP ku. Kamu hanya menunjukan tiket dan foto copy KTP yang kuberikan, tak usah takut,  pasti lolos dari pemeriksaan petugas.

Kalimat di atas hanya sebuah ilustrasi. Akan tetapi, mirip dengan apa yang pernah  saya alami. Saya pernah ditawarkan sebuah tiket pesawat orang lain lengkap dengan foto copy KTP.

Awal mula, tiket tersenyum ditawari oleh seorang kawan. Katanya, tiket tersebut milik temannya yang takjadi berangkat. temannya itu, takjadi berangkat karena ada urusan  penting yang harus ia kerjakan.

Dari pada tiket ini hangus, mending kamu aja yang gunakan. Ya, hitung-hitung, menghemat biaya. Begitu katanya.

Namun, saya menolak pemberiannya. Mengapa? Ya, saya tidak mau megambil resiko menggunakan identitas palsu.

***

Fenomena di atas, kalau mau jujur, kerap terjadi di sekitar kita. Namun karena dianggap hal yang biasa, jadinya terbiasa. 

Hemat saya, selain percaloan tiket, dua hal ini yang ini kerap dilakukan sebagian masyarakat terkait tranportasi. 

Pertama, karena batal berangkat dan tidak ingin rugi, ia menjual tiket keberangkatan ke orang lain.

Perbuatan demikian, masih kita jumpai di tengah masyarakat kita. Alasannya, kalau menjual ke orang lain, uang yang udah terlanjur dikeluarkan dapat kembali seutuhnya. Sebab, kalau dikembalikan ke agen resmi penjualan, pasti dipotong sekian persen.

Kedua, memberikan tiket kepada kenalan atau keluarga.

Sebagian dari kita entah tahu atau tidak resiko apabila memberikan tiket ke orang lain. Akan tetapi, ada juga yang ketika batal berangkat/bepergian malah memberikan begitu saja tiketnya  kepada kenalan atau keluarganya

Barangkali karena tak ingin tiket yang sudah terlanjur dibeli itu, hangus, sia-sia sehingga diberikan kepada orang lain. Namun anehnya lagi tanpa berpikir panjang,  yang diberikan tiket  Pun, langsung menerima begitu saja, tanpa berpikir resiko yang akan dihadapinya.

Kalau kita telisik, bukan hanya oknum luar (penguna jasa) . Akan tetapi  oknum dalam (petugas berwenang) pun kerap melakukan kecurangan atau hal nakal lainnya mengenai penjualan tiket transportasi atau yang menyangkut administrasi.

***

Peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya baru-baru ini, tentu membawa duka dan luka untuk kita semua. Akan tetapi, yang mengherankan dari peristiwa itu adalah ditemukannya  identitas palsu yang digunakan penumpang pesawat.

Sebut saja Sarah Beatrice Alomau. Sarah adalah warga Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.  Dalam daftar manifes Sriwijaya SJ 182, nama Sarah Beatrice ada di urutan nomor 17.  Ia turut menjadi korban dari jatuhnya pesawat tersebut.

Namun, ketika ditelisik ternyata nama yang tertera dalam  manifes pesawat tersebut, bukan sarah. Diduga identitas dipakai oleh temannya.

Kok bisa? Ya, bisalah. Walaupun pada kasus sarah berbeda. Namun, Seperti yang sudah saya singgung, pengunaan identitas palsu kerap terjadi, tapi tidak terpublikasi. Kalau pun terpublikasi, ketika telah terjadi musibah atau kecelakaan.

Setelah itu, barulah masing-masing pihak saling berspekulasi. Yang satu mengatakan tidak tahu -menahu, yang lain mengatakan petugas berwenang yang takteliti memeriksa identitas penumpang. Dan yang telah digunakan identitasnya, sibuk mengklarifikasi, soal identitasnya yang telah digunakan.

Pusing, bukan?

Pemahaman, Pengendalian diri dan ketelitian merupakan koentji agar terhidar dari masalah.

Pertama, pemahaman. Barangkali Anda bukan seorang yang belajar atau ahli dalam hukum. Akan tetapi,  ada baiknya Andapun harus mengerti sedikit tentang hukum (melek hukum), agar dalam setiap perbuatan sesuai dengan aturan hukum yang berlaku, tidak sesuka dan seenak hati.

Dengan memahami hukum kita dapat mengerti bahwa  pemakaian nama palsu atau menjual identitas demi mendapatkan keuntungan, dapat dikenakan beberapa tindak pidana yang diatur dalam KUHP tergantung dari bagaimana nama palsu itu digunakan. 

Misal, dalam Pasal 378 KUHPmenyatakan, barang siapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan tipu muslihat, ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

Atau pada Pasal 266 ayat (1) dan ayat (2) KUHPterkait dengan penggunaan akta otentik yang didasarkan atas keterangan palsu dan menimbulkan kerugian: (1) Barangsiapa menyuruh memasukan keterangan palsu ke dalam suatu akte otentik mengenai suatu hal yang kebenarannya harus dinyatakan oleh akta itu, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain memakai akta itu seolah-olah keterangannya sesuai dengan kebenaran, diancam jika pemakaian itu dapat menimbulkan kerugian, dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun.

(2) Diancam dengan pidana yang sama, barangsiapa dengan sengaja memakai akte tersebut seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran, jika karena pemakaian tersebut dapat menimbulkan kerugian.

Kedua, pengendalian diri, ini penting. Mengapa? walaupun Anda seorang yang ahli dalam hukum. Akan tetapi  pengendalian diri Anda bobrok(tak mampu mengendalikan diri). Anda akan dengan mudah diiming-imingi harta dan lainnya sebagainya sehingga jatuh pada perbuatan korupsi, kolusi dan nepotisme.

Lalu apa hubungannya dengan tiket pesawat? Tentu ada. Misal, Kalau Anda tak mampu mengendalikan diri terhadap tawaran tiket gratis yang beridentitas palsu, lalu menerima begitu saja tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi, bisa jadi Anda akan berusan dengan hukum dan juga ketika  terjadi kecelakaan, identitas Anda sulit untuk diketahui.

Yang terakhir, ketelitian. Dengan kecanggihan teknologi saat ini, seharusnya dapat meminimalisir terjadi kesalahan dan ketidaktelitian. Namun, masih kerap terjadi kesalahan/ketidaktelitian.

Semisal, yang terjadi pada penumpang pesawat sriwijaya, seperti pada kasusnya sarah. Kira-kira siapa yang mau disalahkan?
Penumpangnya atau petugas yang berwenang?

Maka dari itu , perlunya pemahaman, ketelitian/kecermatan dalam hal apapun, jangan asal-asalan. Apalagi yang menyangkut keselamatan hidup manusia.

Dengan demikian, jika berkaca pada Kejadian jatuhnya pesawat sriwijaya  dan tentang temuan  identitas palsu.  Sebagai petugas berwenang, pengguna transportasi atau apapun yang terkait dengan jasa angkutan.
Seharusnya  paham, teliti dan juga dapat mengendalikan diri agar tidak melakukan kesalahan berupa tindakan melanggar hukum.

Sebab kalau itu terjadi, dampaknya bukan hanya kepada kita pribadi, tetapi orang lain pun akan menjadi terkena dampak akibat perbuat buruk yang kita lakukan.

Akhir kata, kepahaman, pengendalian diri dan ketelitian, merupakan koentji penting dalam menghindari  berbagai masalah yang berhubung transportasi, terkhusus pesawat terbang

Bacaan:

https://amp.kompas.com/regional/read/2021/01/13/06070081/tak-ikut-terbang-nama-sarah-masuk-manifes-sriwijaya-air-sj-182-diduga-ktp

https://m.hukumonline.com/berita/baca/lt5ffe59e71fa9d/risiko-hukum-bagi-penumpang-pesawat-yang-gunakan-identitas-palsu








Benarkah Jodoh itu di Tangan Tuhan?

Ilustrasi wanita mencari cinta (THINKSTOCKPHOTOS) Sumber: Kompascom. Com

Sebagian orang percaya dan yakin bahwa  jodoh merupakan ketetapan (takdir) Tuhan. Manusia tak punya andil dalam menentukan dan memutuskan  jodoh.

Maka dengan itu, bagaimana jodoh kita, mau itu putih, tinggi, tua, muda, apapun itu sepenuhnya urusan Tuhan, kita hanya mengikuti dan menerima apa yang telah ditetapkan oleh Tuhan.

Lalu apa itu jodoh?

Dalam KBBI, jodoh adalah 1 n orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; imbangan: berhati-hatilah dalam memilih –; 2 n sesuatu yang cocok sehingga menjadi sepasang; pasangan: mana — sepatu  ini; 3 a cocok; tepat.

Nah, dari pengertian di atas, jodoh adalah sesuatu yang cocok, sehingga menjadi pasangan atau pendamping kita. Misal, pasangan hidup (suami/istri), pasangan sepatu, sendal dan hal lainnya yang kita anggap cocok untuk kita satukan atau pasangkan; atau juga hubungkan.

Akan tetapi, benarkah jodoh itu sepenuhnya ditentukan oleh Tuhan?

Suatu ketika saya pernah diundang untuk membawakan materi tentang “kemerdekaan manusia dan keharusan universal “disalah satu Organisasi Mahasiswa Muslim.

Singkatnya, ketika sedang menyampaikan/menjelaskan materi tersebut. Seorang mahasiswa menyela dengan pertanyaan “Benarkah manusia itu merdeka“?

Iya, kita manusia ditetapkan Tuhan untuk merdeka” Jawabku.

“Lalu bagaimana dengan Jodoh dan kematian”? “Bukankah kedua hal tersebut  merupakan ketetapan Tuhan yang tak dapat diganggu gugat”. 

Saya hanya tersenyum lalu bertanya ” Saat ini, dengan kehendak dan atas pilihanmu, dapatkah kamu mengakhiri hidupmu”?

“Ia hanya terdiam.”

Ketika kamu berkehendak, saat ini pun kamu bisa mengakhiri hidup mu, tanpa campur tangan Tuhan. Mengapa? Karena kamu pun memiliki ikhtiar untuk memutuskan/menentukan kematianmu.

Pun  mengenai Jodoh. Kamu diberi kemerdekaan untuk memilih dan menentukan jodohmu.

Misal, Kalau kamu hanya berdiam diri di kamar dan berdoa, apakah jodoh akan datang? Saya yakin, tak satupun jodoh yang akan datang. Kalaupun datang, mungkin itu dicarikan orang tua atau keluarga yang kasihan padamu, karena kamu hanya berdoa dan berdiam diri tanpa melakukan upaya apapun untuk mendapatkan jodoh.

Mirisnya lagi, ada orang yang  mengaitkan putusnya hubungan pacarannya kerena Tuhan, dengan mengatakan, “kami berdua sudah menjalani hubungan (pacaran) selama bertahun-tahun, tetapi karena ia bukan jodohku (yang ditetukan Tuhan) makanya kami berpisah”.

Benarkah demikian”?

Bukankah yang memutuskan mengakhiri itu adalah Anda? Karena merasa dalam hubungan sudah tidak ada lagi kecocokan atau sudah tidak saling pengertian, akhirnya mengambil keputusan untuk berpisah.

Lalu mengapa keputusan (pilihan) untuk berpisah itu dikaitkan dengan kehendak/ketentuan Tuhan?

 “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (surat Ar-Ra’d ayat 11)

Lalu adakah peran Tuhan dalam Jodoh kita?

Tentu ada,  peran Tuhan itu universal, tak bersifat partikular. Keuniversalannya yaitu pada penciptaan dan pengetahuanNya.

Tuhan menetapkan kematian dan jodoh di alam ini. Namun Tuhan juga telah menetapkan kita untuk merdeka dalam memilih dan tidak memilih.

Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Sambungan dari Surat Ar-Ra’d di atas)

Sehingga dalam siklus hidup kita, ada peran (Ketetapan Tuhan) dan juga ada pilihan (ikhtiar) kita manusia.

Tak ada salahnya manusia berdoa meminta jodoh, itupun merupakan sebuah ikhtiar. Namun alangkah baiknya selain berdoa, manusia juga berupaya dalam bentuk tindakan, menyelisik atau dalam istilah anak tehnik “mengekplorasi” untuk mendapatkan jodoh yang layak dan tepat untuk dijadikan pasangan hidup.

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh Bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui,” bunyi Surah Ya Sin Ayat 36

Dengan demikian kalau ditarik kesimpulan pada alam ini telah Tuhan tetapkan (Takdir) Jodoh. Akan tetapi bagaimana jodoh itu, kitalah yang memilih dan menentukannya.

Pada intinya, jodoh merupakan ketetapan (takdir)Tuhan, yang pada ketetapan itu ada juga peran manusia dalam mengupayakan dan memilih mana yaang terbaik dan cocok untuk dijadikan pendamping hidup.

Kata Prof. Felix tani: Masa depan itu dijelang, kecocokan (jodoh)itu dirancang, dan perbaikan diri itu selama hidup.

Baca juga :

https://www.kompasiana.com/adebakri/5ffaf6a4d541df57e634ae73/selain-peran-tuhan-sadar-ataupun-tidak-sadar-kematian-merupakan-pilihan-kita

https://www.kompasiana.com/adebakri/5f3b8116d541df207554b762/mati-bukanlah-sebuah-akhir-kehidupan

Rasa Simpati dan Syukur Yang Hanya Sebatas Ucapan Tanpa Pemaknaan

Ilustrasi solidaritas (Shutterstock) Sumber gambar: Kompas.com

Belum lama ini, masyarakat Indonesia dikejutkan dengan berita mengenai jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182.

Berita ini menambah catatan kelam penerbangan Indonesia. Dilansir dari Media Indonesia (11 Januari 2021). Indonesia dinilai sebagai tempat terburuk di Asia untuk naik pesawat dengan 104 kecelakaan dan 2.353 kematian terkait. Data tersebut dari Jaringan Keselamatan Penerbangan.

***

Dalam tulisan ini, saya tak akan membahas catatan kelam mengenai jatuhnya pesawat, tulisan di atas hanya sebuah intro untuk masuk ke dalam pokok bahasan.

Nah, yang mau saya tilik adalah rasa simpati  dan rasa syukur  kita.

Apa itu simpati? Definisi/arti kata ‘simpati’ di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah n 1 rasa kasih; rasa setuju kepada); rasa suka: 2 keikutsertaan merasakan perasaan (senang, susah, dan sebagainya) orang lain.

Dari defenisi simpati, kita bisa memaknainya begini, simpati merupakan perasaan turut serta dalam susah, senang, sedih dan dan sebagainya yang dirasakan orang lain.

Lalu apa itu syukur?  Syukur dalam KBBI 1 adalah  rasa terima kasih kepada Allah 2 untunglah (pernyataan lega, senang, dan sebagainya).

Dari pengertian di atas, syukur merupakan ungkapan terima kasih  kepada Tuhan apabila kita diberi kesenangan, keselamatan dan segala hal yang mendatangkan kebaikan.

Kedua pengertian tersebut sudah lazim dipahami.  Akan tetapi, bagi saya dalam mengaktualkan rasa simpati dan rasa syukur melalui lisan, tulisan, dan juga sikap, kedua rasa tersebut butuh pendalaman pemaknaan.

Sebab, tidak semua dari kita bijak dalam menempatkan kedua rasa tesebut.

Mengapa?  Kita tentu tahu bersama bahwa rasa simpati dan syukur, sangat dipengaruhi kondisi pribadi kita.

Sehingga rasa syukur dan simpati yang diucapkan hanya akan melibatkan perasaan tulus apabila itu menyangkut/berkaitan dengan keluarga atau orang yang kita kenal.

Misal, ketika mendengar kabar duka, kita lebih merasa kehilangan apabila kabar duka itu menimpa keluarga atau orang yang kita kenal. Kalau yang tidak kita kenali, kita mungkin hanya mengucapkan kasian ya.

Mirisnya, ada yang tak merasa simpati sama sekali, terkesan menganggap bisa musibah atau kemalangan yang menimpa orang lain, malah menyebar berita-berita hoax seputaran musibah kematian dan lain sebagainya.

Padahal, seharusnya rasa simpati itu  keluar dari hati secara menyeluruh, tidak tebang pilih.

Pun dengan rasa Syukur, ia akan terucap dari mulut , apabila mendapat kesenangan, kebahagiaan dan hal bahagia lainnya yang kita rasakan.

Namun, jika mendapat kemalangan, jarak Sekali kita mengucapkan syukur.

Begitu Juga ketika kebahagiaan itu menyangkut dengan orang lain, jarang kita ikut merasa bersyukur apabila orang lain mendapat kebahagiaan atau kesenangan

Pendeknya, rasa syukur itu akan terucap dan terasa tulus dalam hati apabila berhubungan dengan kita atau orang-orang yang kita kenal.

Akan tetapi kalau kita telisik tak semua rasa syukur yang keluar dari mulut kita itu berdampak  baik seperti yang terpikirkan.

Memaknai Rasa simpati dan Rasa syukur.

Terkait dengan jatuhnya pesawat baru-baru ini, banyak beredar vidio dan tulisan mengenai  simpati dan juga rasa bersyukur.

Pertama, Rasa simpati. Beragam tulisan atau ucapan  simpati datang dari berbagai kalangan terhadap korban dan keluarga korban yang mengalami kejadian  jatuhnya pesawat tesebut.

Namun, saya melihat tidak semua yang mengucapkan rasa simpati itu tulus keluar dari hati. Akan tetapi hanya sebatas kata retorik tanpa dilandasi perasaan ikut merasakan.

Mengapa? Coba Anda perhatikan beberapa posting netizen yang berseliweran di media sosial. Walaupun terkesan menunjukan rasa simpati terhadap keluarga korban dan korban jatuhnya pesawat. Akan tetapi malah membagikan juga foto, vidio korban kecelakaan pesawat tersebut.

Miris, bukan? Coba Anda bayangkan apabila pada foto dan video itu ada keluarga Anda atau orang yang Anda kasihi yang menjadi korban, Bagaimana perasaan Anda?

Saya mengatakan demikian karena, baru-baru ini saya ditunjukkan sebuah video oleh seorang teman tentang korban kecelakaan pesawat. Entah itu korban kecelakaan pesawat sriwijaya atau korban kecelakaan lainnya.

Namun dalam vidio yang tersebar luas melalui whatsapp, terlihat seorang petugas, entah petugas medis atau petugas forensik, merekam beberapa  mayat yang tergeletak  dengan tubuh yang telanjang, penuh luka dan ada juga mayat yang tidak utuh lagi.

Vidio dengan durasi pendek tesebut terdengar suara si perekam berkata:

Sepatu Adek kecil tas dan dompet atas nama Grasia. Lihat ini daging semua nih, kulit semua nih. Kulit manusia!

Kalau melihat vidio itu, saya yakin Anda akan berkata sama dengan saya bahwa pembuat vidio itu benar-benar tak punya rasa simpati, teganya ia merekam korban-korban tersebut.

Saya yakin apabila keluarganya termasuk dalam salah satu di antara korban, ia tak akan sanggup merekam lalu membagikan vidio tersebut.

Barangkali ia pun memiliki rasa simpati. Akan tetapi dengan merekam para korban melalui ponselnya itu menunjukan bahwa ia tak bijak dalam menempatkan/menunjukkan rasa simpatinya.

Kedua, Rasa syukur. Setiap dari kita tentu akan bersyukur kepada Tuhan apabila diberi kebahagiaan atau diselamatkan dari musibah kecelakaan.

Akan tatapi, tidak  semua rasa syukur yang kita ucapkan itu baik. Mengapa?
Saya pernah membaca buka  hikmah para Sufi. Dalam buku tersebut dikisahkan tentang sebuah kebakaran yang melanda rumah penduduk salah satu desa. Dalam kebakaran tersebut, hampir semua rumah penduduk di desa itu terlahap api. Namun ada salah satu pendukungnya yang rumahnya tak di  lahap api.

Singkatnya. Ketika  melihat rumahnya itu selamat  dari lahapan api. Ia mengucapakan Alhamdulillah (Alhamdulillah adalah kalimat tahmid yang memiliki makna menyampaikan pujian kepada Allah SWT, menyampaikan syukur kepada Allah SWT).

Walaupun kata syukur tersebut terdengar baik. Namun, apa kata Sufi tentang syukur yang demikian? kata syukur tersebut bisa mengandung arti yang berbeda, ungkapan syukur yang demikian bukan menunjukan kepasrahan/ridho, tetapi menunjukkan keegoisan, Mengapa? Menurut para sufi Ungkapan syukur  tersebut seakan menegaskan kalau ia rela terhadap apa yang terjadi/menimpa orang lain, tetapi menolak ketika itu terjadi pada dirinya.

Syukur yang demikian tidak mencerminkan sejatinya rasa syukur. Ekspresi kelegaan dan kesenangan terhadap apa yang tak menimpanya sama halnya dengan menyetujui apa musibah yang menimpa orang lain.

Sila disimak vidio ini :https://m.youtube.com/watch?v=yhV1Y4OLrW0&feature=share

Padahal kalau kita sejenak merenungi tentang hikmah kematian dan kehidupan, yang tidak terkena musibah belum tentu merupakan kebaikan. Pun yang terkena musibah belum tentu itu merupakan keburukan.

Kalau dikaitkan dengan peristiwa  kecelakaan pesawat baru-baru ini dan ungkapan syukur  sebagian orang yang selamat dari kecelakaan pesawat. Syukur tersebut sama halnya kisah di atas.

Maka dari itu,  rasa syukur yang demikian, sebaiknya disimpan dalam hati, tak perlu di publish luas. Sebab bisa jadi rasa syukur itu, sama halnya dengan bersyukur atas keselamatan diri, disaat yang sama seakan bersyukur terhadap apa yang menimpa para korban.

Dengan demikian, agar rasa rasa simpati dan rasa syukur  kita tak hanya ucapan belaka. Sebelum dikeluarkan melalui lisan dan tulisan sebaiknya dimaknai terlebih dahulu. Apakah rasa simpati dan rasa syukur kita itu sesuai sebagai mana mestinya atau sudah pada tempatnya.

Pada intinya, seharusnya rasa syukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri dan simpati merupakan perasaan tulus dalam keikutsertaan merasakan penderitaan, kesedihan dan luka yang di rasakan orang lain, layaknya kita merasakan hal yang sama apabila terjadi pada kita dan keluarga kita.

Perkataan/ucapan atau perbuatan yang tak kau sukai apabila itu dilakukan padamu, sama halnya dengan ketika itu dilakukan pada orang lain.

Selain Peran Tuhan, Kematian Merupakan Pilihan kita

Ilustrasi bunuh diri. (Shutterstock) Sumber gambar Kompas.com

Aku tak pernah memilih untuk dilahirkan, kelahiranku merupakan pilihan orang tua ku. Akan tetapi, Aku sadar bahwa menjalani kehidupan merupakan pilihan. Begitupun dengan kematian.

Seandainya kita mampu memilih untuk dilahirkan tentu kita bisa menentukan siapa yang  melahirkan kita, di mana kita akan dilahirkan dan kapan  kita dilahirkan.

Akan tetapi, kesemua itu bukanlah kuasa kita, itu merupakan  pilihan orang tua kita. Yang kita tahu bahwa, kita telah berada di dunia  ini,  dari orang tua ini, berasal dari sini, dan telah dipilihkan agama ini.

Walupun kelahiran bukan pilihan, tetapi menjalani hidup merupakan pilihan kita, Mengapa? Ya, karena kita sudah berada di dunia ini. Mau tak mau kita harus menjalaninya. Kita bisa saja memilih untuk tidak menjalani hidup (memilih mati) atau menjalani hidup, kita berkuasa atas kedua hal itu.

Sadar atupun tidak sadar, kematian merupakan pilihan kita.

Apa itu Mati? Dalam KBBI: ma·ti v 1 sudah hilang nyawanya; tidak hidup lagi.

Apapun itu, ketika nyawa/jiwa tak lagi berada dalam tubuh/fisiknya, ia dikatakan mati. Misalnya batu, kita katakan mati kerena pada batu tak memiliki jiwa. Pun dengan manusia ketika telah lepas jiwanya, kita katakan mati, atau sama dengan benda mati.

Intinya setiap sesuatu yang memiliki jiwa akan mengalami yang namanya kematian.

Sehingga Kematian merupakan sebuah keniscayaan bagi yang bernyawa. Akan tetapi,  bagaimana mati, kita dapat memilihnya.

Mengapa mati merupakan pilihan?

Ketika kita telah memilih menjalani hidup, secara otomatis kita pun telah memilih untuk mati, dengan cara apapun.

Umpamanya, saya yang sedang menulis tulisan ini, apabila saya memilih untuk bunuh diri saat ini, saya kuasa melakukan itu. Pun, saya juga kuasa untuk tidak melakukan itu.

Namun,  ketika saya  memilih tidak melakukan itu, Apakah saya akan tetap hidup? Tentu, tidak. Mengapa? Walaupun saya menunda kematian, lambat -laun saya pun akan mati. Dan tanpa disadari saya telah memilih kematian dalam bentuk yang lain.

Semisal dalam hal makan. Dengan menjaga pola makan yang sehat, tidak menjamin saya akan tetap hidup. Sebab, dalam makan pun saya telah memilih syarat untuk aktualnya kematian. Dengan makan Sel-sel tubuh  akan terus berkembang, menua  hingga akhirnya  mati.  Pun ketika saya memilih tidak makan.

Bagi saya, segala sesuatu yang terjadi pada kita, merupakan pilihan kita, bukan kerena kebetulan.

Seperti halnya dengan kematian, takada kematian karena kebetulan, kematian merupakan pilihan kita.

Ketika kita melangkahkan kaki keluar dari rumah, apapun yang menimpa, terjadi pada kita adalah atas pilihan kita. Baik itu yang mendatang kesenangan maupun kesedihan.

Intinya, kematian merupakan ikhtiar (pilihan) kita, sadar atau pun tidak sadar.

Peran Tuhan dalam kehidupan dan kematian  Kita

Syahdan, kalau kita bercermin pada kejadian tentang musibah kematian yang menimpa  orang-orang di sekeliling kita, baik itu kematian karena tertabrak mobil, tertimpa reruntuhan bangunan, kecelakaan pesawat terbang, kematian kerena menua dan lain sebagainya.

Seakan-akan kematian bukanlah kuasa kita, tetapi merupakan kuasa Tuhan.  Akan tetapi Kalau kita sejenak merenungi, selain peran Tuhan, kita pun berperan dalam kematian kita, seperti sudah saya singgung sedikit dalam penjelasan saya di atas.

Lalu apa sih peran Tuhan dalam hidup dan mati kita?

Saya percaya, selain pilihan sadar ataupun  tidak. Ada kekuatan lain yang selalu berperan dalam hidup dan mati kita, yaitu Tuhan. Mengapa?  Sebab, banyak hal yang  tidak kita sadari, tetapi lewat kuasa tak terlihat (gaib). Tuhan menolong kita, menunda kematian, yang tidak kita ketahui.

Misal, ketika kita hendak bepergian. Kita bisa menentukan kapan kita sampai ke tempat tujuan, dengan kendaraan apa kita gunakan, melewati jalur mana dan lain sebagainya. Akan tetapi tidak semua hal bisa kita perkirakan, seperti tiba-tiba kita mengalami kecelakaan, tertabrak mobil dan lain-lain yang tidak terpikir oleh kita.

Namun, karena masih diberikan kesempatan untuk hidup, Tuhan menangguhkan kematian kita, seperti telat bangun karena ketiduran, ada urusan dadakan sehingga membatalkan kepergian dan lain sebagainya

Sehingga pesawat atau kenderaan yang hendak kita tumpangi, tak jadi kita tumpangi.

Kita mungkin akan menggerutu karena tak jadi berangkat,  karena hal-hal tadi. Namun apabila kita mendapat kabar bahwa pesawat atau kenderaan yang tak jadi tumpangi itu mengalami kecelakaan, barulah kita tersadar dan menghapus dada, lalu membatin, untung tak jadi berangkat menggunakan kenderaan  tersebut.

Bukankah  itu merupakan pertolongan Tuhan yang tak kita sadari?

Namun, bagaimana kalau kita belum ingin mati, tapi Tuhan menginginkan kematian kita dengan cara yang kita taksadari?

Pada dasarnya tak ada cara yang tidak kita sadari, baik sadar dan tak sadar merupakan pilihan kita. Tepatnya kita memilih, tetapi dalam pengetahuan dan kuasa Tuhan.

Bagi saya, seharusnya kita bersyukur ketika kita dipanggil Tuhan. Mengapa? Ketika kita dipanggil oleh Artis yang kita cintai atau Tokoh yang kita kagumi saja senangnya bukan main,  masa dipanggil Tuhan kita ketakutan. Hehe

Pendeknya. kematian bukanlah akhirnya segalanya. Namun kematian merupakan permulaan  dari kehidupan yang baru.

Seperti metamorfosis kupu-kupu, mati sebagai ulat, hidup sebagai kepompong, mati sebagian kepompong, hidup sebagai kupu-kupu dan seterusnya.

Lebih jelasnya sila baca disini:

https://www.kompasiana.com/adebakri/5f3b8116d541df207554b762/mati-bukanlah-sebuah-akhir-kehidupan

Dengan demikian yang bisa kita lakukan
sebagai manusia adalah menunda kematian bukan menghentikan kematian. Sebab, Lambat atau cepat kita pasti akan mati.

Setiap gerak, pilihan -pilihan kita di dunia ini adalah jalan menemui kematian, jadi tersenyum lah ketika disambut kematian.

Untuk yang telah mendahului kami dalam kematian, sampai berjumpa di Alam sana.

Penyebab Kasus Corona Meningkat : Sikap Acuh Tak Acuh dan kurangnya Pemahaman Sebagian Masyrakat tentang Covid-19

Ilustrasi corona virus (Covid-19) sumber gambar:
shutterstock. Kompas.com

Baru-baru ini, saya dikejutkan dengan sebuah pesan melalui whatsapp, dikirim oleh seorang teman yang bekerja pada salah satu Rumah Sakit  di Kabupaten Alor. Pesan itu, berisi sebuah gambar tangkapan layar tentang data sebaran kasus aktif (Covid-19)di Provinsi NTT.

Tangkapan layar (dokpri)

Dari data tersebut, jumlah yang terkonfirmasi Positif Covid -19, khusus di Kabupaten Alor berjumlah  28 orang. Angka yang cukup membuat bulu kuduk berdiri.

Takut, ya. Jumlah tersebut bisa saja bertambah, kalau masyarakat
Alor, tetap acuh tak acuh dan tak waspada terhadap bahaya Covid-19.

Apalagi belum lama ini terdengar berita kematian orang Alor akibat covid-19

Ketidakpedulian Masyarakat Terhadap Bahaya Covid-19

Jujur, kalau saya perhatikan kebanyakan masyarakat Alor, terkesan acuh tak acuh terhadap virus Covid 19. 

Saya mengasumsikan dua hal ini sebagai penyebab acuhnya sebagian masyarakat  terhadap virus Covid-19

Pertama. Kepercayaan diri yang terlalu tinggi dan yang kedua. karena ketidaktahuan terhadap bahaya covid-19.

Mengapa?

Ada salah satu tetangga di kompleks sebut saja TT, ketika diberi tahu tentang bahaya Covid-19 dan data mengenai orang Alor yang sudah terpapar Covid-19.

Malah ia menjawab santai “saya tak percaya Virus-19 itu”, ia meyakini bahwa, Covid-19 itu virus biasa, seperti halnya penyakit Flu.

Mungkin, Anda yang membaca penjelasannya ini, akan tertawa. Ia mengatakan, Pulau Alor tidak akan dimasuki virus, alasannya sederhana, Alor ini tanah kikir, dalam arti pulau Alor ini pulau yang dilindungi Roh leluhur, sehingga penyakit apapun yang datang akan ditolak oleh leluhur.

Kepercayaan diri yang unik, Bukan? Hehe

Keyakinan semacam itu, tertanam kuat dalam diri sebagian masyarakat Alor. Ya, kalau mau dibilang, hampir kebanyakan masyarakat Alor kental dengan hal-hal yang berbau mistik.

Sehingga penjelasan se- rasional dan se- ilmiah, pun belum tentu masuk dalam kepala sebagian masyarakat itu. Saya pernah mencoba menjelaskan bahaya dari Covid, tapi tak berhasil. Malah Ada juga yang menganggap virus itu hanya sebuah konspirasi.

Padahal, di Alor sendiri, sudah ada korban meninggal karena Covid-19.

Seperti yang diberitakan ANTARANEWS, (Selasa, 8 September 2020)

“Memang benar ada satu pasien yang reaktif COVID-19 yang meninggal dunia, sebelum meninggal tim medis sempat melakukan rapid test dan hasilnya reaktif,” kata Ketua Pelaksana Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Kabupaten Alor, Fredy I.Lahal.

Kendati sudah ada berita tentang adanya kematian karena Covid-19. Masih juga ada dari masyarakat Alor yang tak percaya akan bahaya Virus tersebut.

Yang lebih unik lagi adalah sikap Bupati Alor. Bagaimana tidak, sepertinya Pemerintah Kabupaten Alor pun terkesan tidak serius, acuh tak acuh dalam hal penanganan dan pencegahan  Virus Covid-19.

Barangkali pihak pemerintah pun lebih mempercayai hal mistik. Hehe

Pernyataan Bupati Alor dalam sebuah Vidio  pembukaan Ekspo Alor 2020, senin (28/9/2020) yang viral tahun kemarin. Menurut hemat saya terkesan menganggap enteng bahaya Covid -19.

Melansir dari kompas.com (Rabu, 30 September 2020).
“Saya siap diberhentikan kalau di ajang Ekspo (Alor) ini ada (warga) yang kena corona. Saya berhenti. Tidak usah diberhentikan. Tidak usah demo saya berhenti, tapi kalau orang itu mati akibat corona. Kalau kita isolasi lalu dia sehat, untuk apa saya harus berhenti,” kata Amon dikutip dari video tersebut.

Unik dan aneh, Bukan? Walaupun, hingga berakhir kegiatan Expo tersebut tidak ada yang terpapar Virus Covid-19. Bagi saya dengan alasan apapun sebaiknya kegiatan tersebut seharusnya ditunda dulu, demi memutus mata rantai penyebaran Virus Covid-19

Namun, apalah daya kegiatan tersebut telah berlangsung di tengah-tengah adanya kematian karena Covid-19 dan  juga khawatiran sebagai masyarakat tentang bahaya Covid  yang entah kapan akan berakhir.

Perlunya Kesadaran Bersama

Dari 28 orang yang terpapar Covid-19, saya yakin bisa saja mengalami penambahan, jika pemerintah dan masyarakat , masih acuh terhadap bahaya covid-19.

Untuk itu, perlunya kesadaran baik dari pemerintah maupun masyarakat, terutama dari pihak pemerintah daerah. Jangan menganggap enteng persoalan virus Covid-19.

Tentu, Kita semua berharap pendemi Covid 19 segera berakhir. Namun dipelukan upaya yang serius dan konsisten dalam memutuskan penyebaran virus tersebut.

Upaya yang menurut hemat saya bisa dilakukan pemerintah agar dapat memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19.

Pertama: Memberi pemahaman secara komprehensif  tentang Covid-19 kepada masyarakat. 

Jangan hanya menyampaikan pengumuman atau anjuran berupa menjaga jarak, memakai masker, rutin cuci tangan. Akan tetapi turun langsung ke tiap-tiap masyarakat untuk menjelaskan apa itu Covid, mengapa ada Covid, bagaimana mencegah Covid dan hal lainnya yang berhubungan atau yang terkait dengan covid.

Sebab, seperti yang sudah saya jelaskan di atas, ada dari masyarakat  kita yang belum paham dan sadar akan bahaya Covid-19. Masih ada yang menganggap covid hanyalah sebuah konspirasi atau hanya virus biasa seperti Flu

Kedua. Secara Rutin mengingatkan masyarakat  untuk selalu waspada, ikuti protokol kesehatan dan terlibat langsung dalam memutus mata rantai penyebaran covid.

Seperti. Cuci tangan secara rutin. Gunakan sabun dan air, atau cairan pembersih tangan berbahan alkohol. Selalu jaga jarak aman dengan orang yang batuk atau bersin.Kenakan masker jika pembatasan fisik tidak dimungkinkan. Jangan sentuh mata, hidung, atau mulut Anda. Saat batuk atau bersin, tutup mulut dan hidung Anda dengan lengan atau tisu.
Jangan keluar rumah jika merasa tidak enak badan. Jika demam, batuk, atau kesulitan bernapas, segera cari bantuan medis.

Nah, dengan upaya yang konsisten tersebut. Saya yakin akan terbentuk kesadaran dari masyarakat tentang bahaya Covid-19 dan juga pentingnya protokol kesehatan.

Sehingga mata rantai penyebaran virus covid-19 dapat dikendalikan dan diputus.

Akhir kata. Hal yang manusiawi apabila timbul rasa takut akan terjangkit Covid-19. Namun sebaiknya jangan dibuat panik karena rasa takut tersebut. Tetap waspada, memakai masker, jaga jarak, batasi acara kumpul-kumpul, rutin mencuci tangan.
Dengan itu, kita telah menjaga menjadi diri dan keluarga, sekaligus membantu pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran virus covid-19.

“Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah langkah awal kesembuhan. (Ibnu Sina)

Bacaan:

https://m.antaranews.com/amp/berita/1713438/satu-pasien-reaktif-covid-19-di-alor-meninggal#aoh=16100805656372&referrer=https%3A%2F%2Fwww.google.com&amp_tf=Dari%20%251%24s

https://regional.kompas.com/read/2020/09/30/16091531/video-viral-bupati-alor-siap-mundur-jika-ada-warga-yang-meninggal-karenaa

Bengku (cangkul) dan Sapada (parang ), Dua pusaka Petani Alor

Ilustrasi Cangkul (sumber:https://ms.wikipedia.org)

Amangbtao ite re pusaka ba suma bengku ru sapada, bo e rua ite jadi ata dike selama- lama

Kata-kata di atas, merupakan nyanyian yang dilantunkan petani di daerahku apabila hendak pergi berkebun. Setiap entak langkah kaki menuju kebun atau sawah, dari mulut petani terdengar lantunan nyanyian tersebut.

***

Amangbtao ite re pusaka ba suma bengku ru sapada bo e rua ite jadi ata dike selama lama.

Yang artinya: Orang tua berikan kita pusaka hanya dua, yaitu cangkul dan parang, besok atau lusa (ke depannya) kita akan jadi orang baik.

Ada salah satu orang tua di kampung yang saya temui bercerita bahwa. Dulu, di masa mereka, kata-kata tersebut merupakan nyanyian penyemangat bagi petani.

Ketika berangkat berkebun, sedang memotong rumput pengganggu, mencangkul atau menanam, lagu itu dinyanyikan.

Ia mengatakan, Generasi di Era mereka, pertanian dan bertani merupakan sumber hidup dan merupakan pekerjaan utama bagi pemuda-pemudi maupun orang tua.

Namun, sekarang kebanyakan petani disini, sudah menjual tanah (sawah)mereka. Entah kenapa? Sehingga tak banyak yang bekerja lagi menjadi petani. Pun pemuda-pemudi mulai enggan menjadi petani.

Ya, maklum saja, anak-anak muda sekarang tak banyak yang mau menjadi petani, maunya jadi ASN. Sebab pekerjaan ASN lebih menjamin kehidupannya kelak di masa tua.

Kami orang tua, tak menyalahkan pilihan meraka (Anak-anak kami). Kami menginginkan yang terbaik untuk meraka, kami bekerja sebagai petani untuk menyekolahkan mereka, agar kelak mereka menjadi orang sukses, tidak seperti kami yang hanya petani. Ucapnya polos

Saya membatin, betul apa yang ia katakan, dulu di tempat kami banyak terdapat kebun, sawah, tapi sekarang tanah kebun, sawah kebanyakan sudah dijual ke orang pendatang, sehingga sekarang banyak bangunan perumahan.

Ia melanjutkan. Nyanyian tersebut, sudah jarang terdengar lagi. Ya, kalaupun masih ada yang menyanyikan, bisa dihitung dengan jari.

Kamu tahu makna lagu itu? Ucapnya sambil menatapku tajam

Apa makna lagu itu Bapa (Bapak/orang tua)? Tanya ku penasaran.

Nyanyian tersebut  kami nyanyikan sebagai pengingat sekaligus penyemangat. Pengingat bahwa, orang tua kami telah  menitipkan dua pusaka yang berharga, yaitu cangkul dan parang.

Cangkul dan parang merupakan lambang dari kekuatan, semangat, keuletan, kesabaran.

Setiap kami menyanyikan lagu tersebut ketika berangkat ke kebun/sawah atau sedang memotong rumput pengganggu, mencangkul; atau menanam. Nyanyian tersebut seakan menambah semangat bagi tubuh kami agar terus bekerja.

Dan yang terpenting adalah kesederhanaan. Mengapa? Bekerjalah secara sederhana,  makan secara sederhana dan hidup secara sederhana.

Kedepannya kita akan menjadi orang baik. Maksudnya rezeki yang kita hasilkan dengan cara halal, akan membawa kebaikan dan keberkahan apabila dimakan anak dan keluarga.

Sehingga kelak anak mu menjadi orang baik, tak mengambil, merampas hak(rezeki)orang lain.

Itulah makna yang terkandung dalam nyanyian tersebut. Ujarnya meyakinkan.

***

Syahdan, dari pertemuan dan mendengarkan apa yang orang tua itu sampaikan. Serasa saya mendapatkan pelajaran yang tidak saya dapatkan dalam bangku Sekolah.

Akan tetapi, ada salah satu ucapan yang keluar dari mulutnya itu, mengganggu pikiran saya.

Agar kelak mereka menjadi orang sukses, tidak seperti kami yang hanya petani.

Barangkali ucapan ini dikeluarkan secara polos. Namun, bagi saya kata “tidak seperti kami yang  hanya petani” seharusnya tak ucapkan. Mengapa?

Menurut hemat saya, salah satu penyebab kenapa pemuda-pemudi enggan menjadi petani, barangkali kerena mendengar kata tersebut dari orang tua mereka.

Seakan orang tua itu mengatakan pekerjaan petani adalah pekerjaan yang rendah.
Padahal kalau kita memaknai apa yang ia jelaskan, harusnya ia bangga bahwa dengan pekerjaannya sebagai petani, walupun sederhana, tapi memberikan dampak yang sangat besar bagi diri dan keluarga

Kita tak bisa pungkiri bahwa hanya dengan bertani, banyak petani yang mampu menyekolahkan anaknya hingga ke Perguruan Tinggi.

Saya pikir, bukan hanya menjadi ASN atau Pengusaha yang bisa menjamin masa depan, tapi juga bertani (menjadi petani)

Dengan itu, bagi saya pekerjaan apapun, baik itu ASN, Pengusaha, atau pun petani, jika itu dilakukan dengan sederhana dalam arti tidak menipu, mengambil hak orang lain, (korupsi, kolusi, nepotisme) adalah pekerjaan yang baik.

Sehingga apapun pekerjaan yang kita lakukan,  harusnya menjadi kebanggaan bagi kita.

Dan untuk anak-anak muda yang sekarang menggeluti bidang pertanian, berbanggalah menjadi petani.

Sebab pusaka tersebut masih ada di masa kita, Cangkul dan parang. Hehe.

Akhir kata saya mengutip kata Tan Malaka sebagai Renungan:
Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan menganggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan sama sekali” (Dalam Buku Madilog)






Petani Harus Tahu, Tidak Semua Jenis Tanaman Porang Menghasilkan Buah

Jenis porang yang tak menghasilkan buah (dokpri :Adhen)

Kita tentu sudah tahu tanaman porang, Bukan? Tanaman umbi-umbian yang bermarga Amorphophallus muelleri ini, mempunyai banyak khasiatnya dan manfaat.

Selain umbinya dimakan, buah dari tanaman porang pun dapat diolah menjadi kosmetik.

Akan tetapi, tidak semua jenis tanaman porang, menghasilkan buah.

Bagi petani pemula, yang ingin membudidayakan tanaman tersebut, sebaiknya menelisik lebih dahulu jenis tanaman porang yang menghasilan buah.

Sebab, ada beberapa jenis tanaman porang yang hanya menghasilkan umbi.

Walupun terlihat sama, tapi dua jenis porang ini, tak menghasilkan buah. Anda bisa lihat pada dua gambar di bawah ini.

Dokpri
Dokpri

Pada gambar yang pertama kalau dilihat, memiliki batang yang tegak, lunak dengan tekstur batang halus berwarna putih. Yang kedua, kalau kita perhatikan tekstur batang terlihat agar kasar, memiliki sisik halus dan bercak hijau pada batangnya.

Nah, kedua jenis porang di atas hanya menghasilan umbi. Tak menghasilkan buah

Lalu jenis porang seperti  apa yang menghasilkan buah?

Pada intinya tanaman porang yang mengasikkan buah, bisa dilihat pada bagian daunnya. kalau tidak ada biji seperti kelereng di tengah daun atau ujung batang, itu bukan tanaman porang yang menghasilkan buah.

Anda bisa lihat pada contoh gambar tanaman porang yang menghasilkan buah di bawah ini.

Tanaman (buah) porang| dokpri: G u ı van Reba.

Nah, bagaimana sudah bisa membedakan mana tanaman porang yang menghasilkan buah dan yang tak menghasilkan buah?

Barangkali ada dari pembaca  yang mengatakan bahwa dua contoh tanaman yang saya tunjukan itu bukan porang. Ya, saya bisa memaklumi.

Akan tetapi,  ketiga jenis tanaman yang saya tunjukan tersebut, di daerahku orang menamainya Ufa’beng  atau istilah umumnya yaitu porang.

Maka dari itu sebagai petani, sebelum menanam porang, harus lebih jeli mencari tahu jenis tanaman porang yang tak hanya menghasilkan umbi tapi juga menghasilkan buah, agar kelak tak menyesal.

Salam petani

Tak Semua Lansia Butuh Panti Sosial tapi Butuh Perhatian Anaknya

Ilustrasi :lansia (Sumber gambar: Kompas.Com

Menurut Direktur Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kemenkes RI, dr. Eka Viora, Sp.KJ, pada acara Temu Media tentang Kesehatan Jiwa, di Jakarta (8/10)

Pada tahun 2000 jumlah Lansia sekitar 5,300,000 (7,4%) dari total populasi, sedangkan pada tahun 2010 jumlah Lansia 24,000,000 (9,77%) dari total populasi, dan tahun 2020 diperkirakan jumlah Lansia mencapai 28,800,000 (11,34%) dari total populasi. Sedangkan di Indonesia sendiri pada tahun 2020 diperkirakan jumlah Lansia sekitar 80.000.000.

Informasi di atas, saya baca pada laman kementerian Kesehatan Republik Indonesia , ditulis pada 26 Nopember 2013. 

Akan tetapi, seperti yang disampaikan dr. Eka Viora,Sp,Kj. Memperkirakan di Indonesia pada tahun 2020 jumlah Lansia sekitar 80.000.000. Bagaimana mana dengan di Tahun 2021 ini?  Entah,  saya belum mendapatkan informasi terbaru. .

Namun, kita bisa membayangkan bagaimana jumlah lansia di Tahun 2021 ini, Bukan? Tentu, jumlah Lansia,  meningkat.

***

Berbicara tentang Lanjut Usia (Lansia) pikiran  kita akan dibawa pada gambaran tentang fisik yang menua dan rentan terserang penyakit.

Nah, Penyakit yang kerap menghantui dan rentan diderita Lansia adalah diabetes, hipertensi, dan gangguan-gangguan kesehatan jiwa yaitu depresi, demensia, gangguan cemas, sulit tidur dan lain-lain.

Dengan kondisi yang rentan terserang penyakit tersebut, tentu seorang lansia tak bisa aktif seperti pada umumnya, agar Lansia Tetap Aktif, Ia butuh pendamping atau orang yang merawatnya.

Berita yang saya baca cukup mengejutkan bagi saya. Sabtu, 24 Agustus 2019 kompas.Com memberitakan. Lebih dari 1.500 lansia dirawat di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Saya mambatin, di tahun 2019 saja tercatat 1.500 Lansia yang dirawat di panti. Itupun di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Bagaimana dengan sekarang, apalagi ditambah dengan lansia yang dirawat di panti yang berada di seluruh Indonesia. Coba Anda bayangkan berapa jumlah nya?

Saya belum mendapatkan data secara pasti mengapa banyak lansia yang di rawat di panti sosial. Akan tetapi menurut hemat saya, Lansia yang banyak di rawat di panti asuhan disebabkan karena anaknya yang enggan menemani dan merawat orang tuanya yang lansia.

Sehingga, mengambil jalan pintas yaitu menitipkan orang tuanya ke panti sosial.

***

Bagi saya, agar Lansia tetap aktif. Peran dan kehadiran seorang anak merupakan hal yang diperlukan orang tua (Lansia). Bukan panti sosial untuk penitipan Lansia.

Mengapa? Kita tentu tahu bersama bahwa hal yang paling diinginkan orang tua pada masa tuanya adalah kedekatan dengan Anak-anaknya.

Saya pernah bercerita dengan seorang lansia, sebut saja namanya Pak Han. Beliau bercerita bahwa, beberapa anaknya telah menjadi orang sukses. Namun anaknya itu, tinggal jauh di daerah seberang. Beliau mengatakan bahwa, ia sengat berharap anaknya datang, melihat kondisinya.

Saya ini sudah tua, harapan saya dimasa tua adalah ketika ajal menjemput, anak-anak saya berada disisi saya. Ujar beliau.

Pendeknya.  Hampir setiap orang tua (lansia) pada masa tuanya, berharap anaknya ada disamping mendampingi mereka.

Akan tetapi, karena sibuk bekerja, tidak semua anak punya waktu atau kesempatan mendampingi dan merawat orang tua yang sudah Lansia tersebut.

Sehingga, ada yang menitipkan orang tua mereka yang Lansia, untuk dirawat di panti sosial. Malah ada juga yang dengan kejam menelantarkan orang tuanya.

Saya membaca beberapa kasus yang  menyesakkan hati, yaitu Lansia diterlantarkan (Baca Lansia Terlantar).

Sungguh di sayangkan,  membiarkan seorang Lansia hidup terlunta-lunta, bahkan untuk makan saja, harus mengemis, meminta-minta.

Coba kita bayangkan. Kita tumbuh dewasa dan sukses hari ini, tidakkah kita sadari itu semua berangkat dari jerih payah, peluh, dari orang tua kita.

***

Syahdan, Untuk itu peran kita sebagai seorang anak sengat penting. Keaktifan dan semangat orang tua kita, tergantung sikap dan tindakan kita dalam mendampingi dan merawatnya

Melihat orang tua kita tetap aktif di usia senja, merupakan dambaan setiap anak.

Dengan demikian, Sebagai seorang anak, sepatutnya kita yang merawat dan mendampingi orang tua, dan seharusnya merawat orang tua bukanlah sebuah beban. Melainkan merupakan sebuah tanggungjawab yang harus dilakukan secara Ikhlas.

Sebab, yang paling diperlukan orang tua kita yang lansia adalah kehadiran kita, anaknya. Bukan tempat panti penitipan Lansia.

Maka dari itu, sesibuk-sibuk apapun kita, luangkan waktu untuk mendampingi dan merawat orang tua kita. Walaupun kita tinggal jauh dari orang tua, sering-seringlah mengunjungi orang tua. Jangan hanya menanyakan kabar tentang kondisi kesehatannya melalui Handphone. Sebab, kehadiran kita merupakan suplemen yang baik untuk kesehatan jiwanya.

Akhir kata. Kehadiran mu menjelang ajalnya lebih berarti dari tangisan mu ketika ia telah berada dalam liang lahat.

Bacaan:
http://www.p2ptm.kemkes.go.id/kegiatan-p2ptm/aceh/populasi-lansia-diperkirakan-terus-meningkat-hingga-tahun-2020#:~:text=Menurut%20WHO%2C%20di%20kawasan%20Asia,kali%20lipat%20dari%20tahun%20ini.

https://amp.kompas.com/regional/read/2019/07/08/15295451/lansia-ini-diduga-ditelantarkan-anak-makan-andalkan-pemberian-tetangga

https://amp.kompas.com/megapolitan/read/2019/08/24/07465741/lebih-dari-1500-lansia-telantar-dirawat-di-panti-sosial-milik-pemprov-dki