Innalillahi wa inna ilaihi rojiun (sesungguhnya kami itu milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah SWT).” (QS. Al-Baqarah [2]: 155-156)
Hari ini, sabtu 02 Januari. Saya membaca sebuah kabar yang diposting media sosial, FB. Kabar yang bagi saya, mengejutkan, sekaligus menyedihkan.
Ismail Amin salah satu Mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Iran, dalam akun FBnya menuliskan:
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun… telah meninggalkan kita semua..
ulama mujahid, filosof, diantara murid terbaik Imam Khomeini rahimahullah…Ayatullah Misbah Yazdi rahimahullah…
semoga ruh beliau disucikan Allah swt dan mendapat penyambutan terbaik.. kehilangan ulama adalah kehilangan besar bagi dunia… yang meninggalkan lubang besar yang sulit tertutupi…
Dilansir dari Parsd Today.com. Memberitakan Ulama Besar Iran, Ayatullah Misbah Yazdi Wafat. Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi, anggota Dewan Ahli Kepemimpinan Iran dan Ketua Yayasan Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini ra, meninggal dunia pada Jumat (1/1/2021) sore.
Siapakah Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi?
Melansir dari Wikishia: Muhammad Taqi Misbah Yazdi (bahasa Arab: محمدتقی مصباح الیزدی) (lahir 1313 H) adalah seorang mujtahid, filsuf, mufassir Alquran dan termasuk salah satu profesor di hauzah ilmiah Qom. Diantara jabatan yang pernah ia emban adalah direktur pimpinan Institut Pendidikan dan Penelitian Imam Khomeini, anggota Majelis Dewan Ahli, anggota Dewan Tertinggi Revolusi Kebudayaan, anggota Asosiasi Jamiah Mudarrisin Hauzah Qom (Guru Besar Hauzah ilmiah) dan ketua Dewan Tertinggi Lembaga Internasional Ahlulbait.
Seorang Ulama dan filsuf kontemporer.
Ayatullah Mishbah Yazdi, bukan hanya sebagai Ulama, Beliau juga merupakan seorang Filsuf. Karya-karya Ayatullah Misbah Yazdi mencakup filsafat, teologi, dan etika serta pemikiran politik Islam.
Saya pribadi, memiliki beberapa buku karyanya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, seperti Buku daras Filsafat Islam, filsafat Tauhid dan Meniru Tuhan.
Buku meniru Tuhan (Dokpri)
Dalam karya Beliau tersebut. Bagi, saya sangat relevan dan sesuai dengan konteks kekinian.
Misalnya buku Daras Filsafat Islam. Selain menjelaskan sejarah filsafat dan para pemikiran (filsuf) mulai dari Abad ke-9 SM. Buku tersebut dengan apik menjelaskan struktur pemikirannya dalam filsafat Islam.
Bagi kalangan pelajar muslim yang menggandrungi filsafat. Saya pikir, buku Beliau, Daras Filsafat Muslim, cocok sebagai bahan bacaan.
Buku Daras Filsafat (Dokpri)
Dalam wacana teologi, Beliau sangat rasional dalam berargumentasi. Dr. muhsin labib menuliskan:
Dalam Teologi, Beliau menjadikan akal sehat sebagai dasar primer yang menurunkan postulat-postulat ontologi dalam mengupas tema-tema ketuhanan. Dia pun menawarkan buku yang mengupas sistematis Pandangan Dunia dan isu-isu teologi, Amuzesye Aqaid (Iman Semesta).
**
Syahdan, Kematian beliau merupakan duka bagi Umat Muslim, duka bagi para pencari Hikmah.
Saya secara pribadi merasa sangat kehilangan beliau. Walupun belum berjumpa dengan beliau. Akan tetapi karya-karya beliau sangat mempengaruhi pemikiran saya.
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku!” (QS. Al-Fajr: 27-30).
Foto selalu berbicara jelas tanpa perlu kata-kata. Kau hanya perlu memandang sebuah foto dalam beberapa detik, dan kau akan mendapatkan rentetan cerita dari foto tersebut. Foto menyimpan kenangan dengan nyata. -Alvi Syahrin
Bunga yang terlihat bermekaran di taman akan layu. Gunung yang terlihat hijau dimusim hujan, akan menguning bila kemarau. Wajah yang tadinya muda, lambat laun akan menua.
Akan tetapi, dengan sebuah jepretan foto, kita bisa mengabadikan keadaan di mana bunga yang masih bermekaran, gunung yang masih hijau, dan wajah yang masih segar.
Arti kata fo·to dalam KBBI : n1 potret: — nya dimuat di dalam surat kabar;2ki gambaran; bayangan; pantulan: ragam ilmiah seakan-akan — kegiatan pikiran;
***
Nah, terkait dengan penjelasan di atas, saya ingin menunjukan tiga tempat wisata menarik yang ada di Kabupaten Alor (NTT).
Tiga tempat wisata ini, menurut saya, merupakan tempat yang cantik untuk berfoto dan diabadikan dalam gambar. Istilah kerennya tempat wisata yang sangat instagramable.
Bukit Hulnani.
Bukit ini, terletak di desa Hulnani, Kecamatan Alor Barat Laut. Untuk ke Bukit tersebut, memakan waktu sekitar 40 menit perjalanan mengunakan mobil/motor dari kota Kalabahi.
Akan tetapi, ada beberapa titik jalan menuju lokasi, kondisinya terjal dan rusak. Namun, saya jamin, perjalanan yang cukup melelahkan itu, akan terbayar ketika telah berada di atas bukit Hulnani.
Betapa tidak, pemandangan yang akan Anda saksikan, benar-benar indah. Sangat tepat bila Anda mengabadikan pemandangan itu ke dalam foto.
Di atas bukit tersebut, terlihat pulau-pulau kecil, seperti pulau Buaya dan pulau Ternate ( di Alor ada Pulau yang bernama Ternate, bukan Ternate yang ada di Maluku Utara)
Bukit HulnaniDiatas bukit HulnaniDokpri
Pantai Maimol
Pantai ini tidak jauh dari kota Kalabahi, bisa ditempuh mengunakan kenderaan apa saja. Dengan sepeda pun bisa, karena jalan yang dilalui cukup mulus. Kurang dari sepuluh menit perjalanan, kita sudah tiba pantai tersebut.
Sesampai di sana, kita akan disuguhkan dengan pemandangan pantai yang indah dan laut yang jernih.
Kalau kata Abdur (artis stand up comedy) saking jernihnya laut yang ada di NTT, ikan kawin pun bisa terlihat. Hehe
Pantai maimol (dokpri) DokpriDokpriDokpriDokpri
Sumber Air Panas Tuti Adagae
Nah, sumber air panas Tuti Adagae ini berada di desa Adagae, Kecamatan Lembur Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur.
Lokasinya terbilang cukup jauh dari Kota Kalabahi. Sekitaran satu jam perjalan mengunakan motor atau mobil.
Ketika sudah mendekati lokasi, terdengar gemuruh dari semburan air panas Tuti Adagae. Semburan air panas itu melewati bebatuan bertumpuk menyerupai cerobong asap dengan ketinggian semburan sekitar 4 meter.
Air panas Tuti Adagae sebelumnya memiliki tiga titik sumber air panas. Sayangnya akibat gempa yang terjadi tahun lalu, salah satu dari dari titik semburan menyerupai cerobong itu runtuh.
Suhu panas dari semburan tersebut, bisa mencapai 90c. Jadi, Berhati-hatilah apabila mendaki semburan air tersebut.
Salah satu artis Indonesia yang pernah ke Alor dan menyempatkan diri berkunjung ke sumber air panas Tuti Adagae adalah Nadin Candra winata.
Tuti Adagae (dokpri) DokpriDokpriDokpri
Sangat instagramable, Bukan?
***
Dengan itu, saya tak ingin berpanjang- panjang lagi menuliskan tempat-tempat indah tersebut. Anda cukup melihat gambar-gambar indah nan keren yang saya tampilkan.
Biarlah foto yang berbicara dan menjelaskan Tentang tempat-tempat indah itu. Seperti yang dikatakan Alvi syahrin. Foto selalu berbicara jelas tanpa perlu kata-kata.
Nah, bagaimana, Apakah Anda tertarik berkunjung ke Alor?
Dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan humor, pikiran kita jadi sehat
(KH. Abdurrahman Wahid)
Ya, benar apa yang dikatakan Gus Dur, dengan lelucon, kita bisa sejenak melupakan kesulitan hidup. Dengan lelucon, bisa membuat kita tetawa lepas, hingga sejenak penat dan beban hidup terasa hilang.
Akan tetapi, menurut hemat saya, lelucon bisa juga menyinggung, atau menyakiti orang lain.
Apa itu lelucon?
Dalam KBBI: le·lu·con adalah hasil melucu; tindak (perkataan) yang lucu; penggeli hati; percakapan yang jenaka;
Nah, dari pengertian di atas, kita dapat memahami bahwa, lelucon merupakan tindakan, perkataan yang kita lakukan dengan harap, orang yang mendengar, melihat itu, tertawa atau terhibur.
Namun, seperti yang saya sebutkan di atas, walaupun kita berharap orang lain terhibur. Akan tetapi adakalanya lelucon itu malah menyinggung atau menyakiti orang lain.
Atau malah tanpa kita sadari, dalam lelucon yang kita ucapkan, terdapat unsur SARA.
Barangkali ada yang bertanya, lalu lelucon seperti apa yang tak menyinggung dan dan menyakiti orang lain?
Ini bukan jawaban pasti. Namun, menurut hemat saya, lelucon yang tak menyinggung adalah lelucon yang sebelum dilakukan atau diucapkan, terlebih dahulu dipikirkan dengan matang.
Pendeknya, lelucon itu haruslah rasional, tidak asal-asalan atau ketaksaan.
Kita bisa ambil contoh leluconnya Gus Dur. Bagi saya, salah satu orang Indonesia yang mampu melakukan Lelucon yang cerdas adalah Gusdur.
Mengapa? Karena lelucon yang beliau sampaikan apabila dimaknai, membuat kita menjadi waras dan bijak.
Lelucon yang keluar dari mulut beliau, tidak asal-asalan. Akan tetapi memiliki pesan-pesan moral yang kuat.
Mungkin benar kata Dwight D. Eisenhower (Negarawan dan presiden (34e) dari Amerika Serikat 1890-1969):
Selera humor / lelucon adalah bagian penting seni kepemimpinan. Humor penting untuk bergaul dengan berbagai kalangan dan memudahkan penyelesaian pekerjaan.
Dua lelucon Gus Dur yang cerdas.
Pertama, waktu Gus Dur masih menjadi presiden, ketika marah-marak isu tentang Papua merdeka. Gus Dur selaku presiden, pernah berkunjung ke Papua untuk mendengar langsung aspirasinya masyarakat Papua.
Nah, dalam kunjungan itu, Gus Dur disambut dengan teriakan “Papua Merdeka” oleh sebagian masyarakat Papua.
Akan tetapi, Gus Dur dengan tenang menemui Masyarakat Papua dan mendengar lansung aspirasi dari Masyarakat papua.
Singkatnya, dalam pertemuan itu, Gus Dur menyampaikan pada masyarakat Papua yang menginginkan kemerdekaan tersebut dengan berkata:
kalian boleh saja berkata-kata tentang “Papua Merdeka” Atau berteriak dengan ” Kata merdeka “ Akan tetapi jangan keluar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Bagi saya kata Gus Dur di atas merupakan lelucon yang cerdas. Mengapa? Gus Dur tak melarang orang berkata tentang “kemerdekaan” Atau berteriak tentang “kemerdekaan”. Karena itu merupakan hak berpendapat atau hak berbicara seseorang.
Namun, dengan cerdas Gus Dur berucap: Boleh berkata merdeka tapi jangan keluar dari Indonesia. Bukankah itu lelucon yang cerdas?
Kedua, suatu ketika Gus Dur ditemui MENKOPOLHUKAM (kalau tidak salah waktu itu Wiranto).—- dengan agak terburu-buru dan panik Wiranto berbicara begini kepada Gusdur “Pak saya mendengar bahwa di Papua—-Masyarakat papua sudah megibarkan bendera bintang kejora”.
Gus Dur ketika mendengar apa yang disampaikan Wiranto, dengan tenang bertanya kepada Wiranto, “Apakah di sana masih ada bendera merah putih yang dikibarkan”?
Masih ada? Jawab Wiranto.
Lalu Gus Dur menimpali sambil tersenyum, kalau gitu, anggap saja bendera bintang Kejora itu umbul-umbul.
***
Syahdan, kalau kita dedah, banyak sekali lelucon Gus Dur yang menyentil rasa humor kita. Akan tetapi dalam tulisan ini, saya hanya bisa menunjukan dua lelucon dari Gus Dur.
Nah, dari dua lelucon di atas, saya bisa menyimpulkan bahwa, Gus Dur melakukan/mengucapkan itu bukan asal-asalan. Akan tetapi berdasarkan pikiran yang rasional.
Barangkali kata-kata yang keluar itu spontan. Namun, spontanitas itu berangkat dari pengetahuan Gus Dur yang terasah dengan baik.
Dengan demikian, bagi saya lelucon adalah cara mengutarakan sesuatu dengan jujur dan apa adanya berdasarkan akal yang sehat.
Sehingga lelucon itu dapat diterima semua orang. Seperti halnya, lelucon dari Gus Dur, dapat diterima hampir seluruh masyarakat Indonesia.
Karena dalam lelucon Gus Dur, bukan hanya membuat, tertawa geli, tapi didalam humor Gus Dur sarat akan pesan-pesan moral.
Membaca topik pilihan Admin Kompasiana tentang “Indonesia butuh tertawa” saya jadi bertanya-tanya, mengapa harus mengangkat topik Indonesia butuh tertawa? Saya pikir tertawa itu sesuatu yang alami pada diri manusia, jadi tak harus “butuh” untuk tertawa. Ya, kalau mau tertawa, ya tertawa saja.
Kalau ditelisik arti kata “butuh”, dalam KBBI kata butuh adalah sangat perlu menggunakan; memerlukan.
Dari pengertian di atas, saya memahaminya begini, kata “butuh” seakan menunjukan bahwa untuk tertawa “sangat perlu” semacam bantuan. Bantuan berupa sesuatu dari luar diri kita semacam melihat atau mendengar hal lucu seperti cerita humor, menonton lawak, melihat pentas badut dan hal lucu lainnya agar bisa tertawa.
Akan tetapi, menurut hemat saya, tak semua tertawa harus “butuh” bantuan seperti yang sudah saya tuliskan di atas.
Mengapa?
Saya mengatakan demikian karena saya pernah melihat ada seorang yang dianggap gila oleh orang-orang, ia senyum dan tertawa sendiri, tetapi saya perhatian tatapannya kosong, seperti tak melihat apapun. Saya membatin dalam hati, apa yang membuatnya tertawa, padahal takada hal yang lucu didekat atau di depannya.
Lantas, ia tertawa karena apa? Apakah “butuh” semacam bantuan atau tertawanya itu lahir begitu saja?
Tak semua tertawa itu membahagiakan
Bagi saya, tak semua tertawa butuh bantuan dan tak semua tertawa itu membuat “bahagia” dan “membahagiakan”.
Mengapa? Kalau mau jujur, kebanyakan dari kita terlalu mudah menertawai orang lain, baik itu perilakunya, cara berbicaranya, cara berpakaian, kekurangan fisiknya dan lain sebagainya. Ya, barangkali kita merasa bahagia karena itu, tetapi tak setiap orang bahagia apabila ditertawai.
Mungkin di mata kita ia terlihat tersenyum karena tawa kita. Akan tetapi pernahkah kita memeriksa hati orang yang kita tertawai. Apakah ia tersinggung, sedih?
Saya tak melarang orang untuk tertawa. Tertawa, ya, tertawa saja. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, tertawa itu sesuatu yang alami pada diri.
Akan tetapi, silakan tertawa kalau itu menyenangkan diri, dan menyenangkan orang lain. Yang penting sama-sama senang, takada ketersinggungan.
Tepatnya seperti kata Charlie Chaplin:
Rasa sakitku bisa jadi alasan untuk orang lain tertawa, tapi tawaku tidak akan pernah jadi alasan untuk rasa sakit orang lain.
Kebenaran Tak Selalu Datang Dari Suara Terbanyak.
Pernah suatu ketika dosen di kampus menegur kami karena tertawa waktu ia sedang mengajar. Kami tertawa bukan mengejeknya, tetapi dalam penjelasan materi yang ia sampaikan itu, lucu.
Akan tetapi, karena asik tertawa takhenti- henti, dia menegur kami dengan berkata begini “jangan seperti orang gila di luar sana, yang suka tertawa sendiri” barangkali ia sengaja berkata demikian agar kami menghentikan tawa kami.
Saya pun iseng menimpali kata dosen tersebut dengan pertanyaan begini “dari mana bapak tahu kalau orang gila itu gila, jangan-jangan mereka yang kita anggap atau nilai gila selama ini, menganggap kita yang gila”?
Dosen yang terlihat kaget atas pernyataanku, lalu bertanya, “Mengapa begitu”?
Kita kan, menganggap perlakuan atau tingkah mereka tidak seperti kebanyakan orang, dan kerena mereka berbeda dengan orang umumnya, maka mereka kita anggap aneh atau gila, padahal kita tak pernah berada diposisi mereka, kita hanya menilai berdasarkan suara terbanyak (mayoritas), seandainya kita bersama diposisi mereka, mungkin penilaian kita berbeda.
Sederhana gini, ketika kita melihat orang yang kekurangan tangan, hanya ada satu tangan, kita mengatakan ia cacat, karena tangannya hanya satu, tak seperti kita yang dua tangan. Akan tetapi coba kita renungkan, seandainya Tuhan menciptakan seluruh manusia hanya bertangan satu, pasti kita menganggap yang bertangan dua itu cacat.
Itu dikarenakan ukuran kita dalam menilai sesuatu berdasarkan hal yang banyak dilihat atau dilakukan orang umumnya.
Pendeknya, penilaian kita terhadap sesuatu tidak selalu seperti pada kenyataannya (atau sebagainya mana adanya), penilaian kita tentu tak lepas dari subyektivitas kita, apalagi menilai dengan standar umum, atau banyaknya kata orang.
***
Dengan demikian, saya tak yakin bahwa suara yang banyak itu sudah pasti suara kebenaran. Terkadang suara kebenaran tak selalu datang dari yang banyak, tetapi muncul dari suara-suara yang diabaikan atau terpinggirkan.
Seperti suara para Nabi, mereka sendiri menyuarakan kebenaran di tengah-tengah orang banyak yang merasa benar. Meraka diabaikan, tetapi mereka tetap memanggil, ikutlah jalan ini. Ini adalah jalan yang lurus. Namun orang-orang banyak menertawai mereka, menganggap gila.
Kebenaran hadir mengusik kesenangan para pemuja dunia, ia datang dari pinggiran, melantunkan Irama-irama sunyi nan menggetarkan relung hati. Hanya hati yang terbuka yang menyebutnya penuh suka cita.
Kata KH. Ahmad Dahlan. Kebenaran suatu hal tidaklah ditentukan oleh berapa banyaknya orang yang mempercayainya
Maka dari itu, janganlah terlalu mudah menilai sesuatu atau menertawakan sesuatu yang kita tak punya pengetahuan di dalamnya. Tawa maupun penilaian kita terhadap orang lain, tak selalu membahagiakan seperti yang kita pikirkan.
Namun, hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah belajarlah menertawai diri sendiri dan mengoreksi diri sendiri.
Seperti kata Friedrich Nietzsche:
Yang terberat adalah merendahkan, dirimu sendiri, agar melukai kesombonganmu dan membiarkan kegilaan mu keluar agar mengejek kearifanmu.
Perdebatan dan pertanyaan yang menurut saya membosankan adalah boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal atau selamat merayakan Natal. Mengapa? Ya, bagi saya bukan hanya membosankan tapi menyebalkan, karena tiap tahun, itu-itu saja diperdebatkan oleh orang-orang yang katanya beragama.
Woi.. Sekarang ini, para ilmuwan sedang berbicara bagaimana nantinya tinggal di planet Mars. Wkwkw
Seandainya saya adalah Menteri Komunikasi dan Informatika, saya akan perintahkan anak buah saya untuk memantau dan menghapus vidio- vidio semacam itu.
Bukannya kenapa? Setiap bulan seperti Natal, Tahun Baru, Hari Ibu dan lain-lain. Vidio tentang pelarangan mengucapkan selamat Natal, Tahun Baru, Hari Ibu, itu-itu saja yang berseliweran di media sosial.
Walaupun dengan dalih kebebasan, atau atas dasar pandangan agamapun seharusnya vidio tersebut takusah disebarluaskan. Cukup untuk konsumsi pribadi, sebab kita tak hidup dalam negara agama, tetapi negara beragama yang berasaskan Pancasila, UUD dan Kebhinekaan.
***
Dalam tulisan saya sebelumnya, Sila baca di sini :
Saya sempat mengatakan bahwa apabila mengucapkan selamat Natal dan selamat-selamat yang lainnya masih dikatakan kafir, ya, tinggal syahadat kembali, simpel, kan?
Seperti kata Gus Dur ketika ditanya seorang santrinya. Gus, ada yang bilang njenengan kafir,”. Gus Dur menjawab, ya ndak apa-apa dibilang kafir, tinggal ngucapin dua kalimat syahadat, udah Islam lagi,”
Mengapa? Karena untuk berdebat dengan orang yang dari sononya sudah merasa paling benar, se-rasional apapun pendapatmu, tidak akan diterima (masuk di otaknya).
Jadi cara yang paling sederhana adalah ketika dikatakan kafir, ikuti saja anjuran Gus Dur.
***
Hari Natal sendiri maknanya adalah hari kelahiran, makanya disebut Dies Natalia (Hari kelahiran).
Yang di mana pada hari ini, umat Kristen dan Katolik merayakannya sebagai ungkapan kecintaan terhadap lahirnya Yesus Kristus.
Kelahiran yang bagi saya semestinya ikut dirayakan oleh seluruh umat manusia. Sebab Yesus, Isa, hadir bukan hanya membawa spirit untuk untuk satu atau dua agama saja. Akan tetapi, ia hadir membaca spirit yang universal, yaitu kemanusiaan, kemerdekaan, keadilan dan kasih (cinta).
Itu semua merupakan bahasa kemanusiaan. Bahasa yang mudah dipahami oleh orang-orang yang berpikir jernih.
Sekiranya, misalkan, Anda tak setuju untuk merayakannya, mengucapkan selamat, sebagai orang beragama sudah sepatutnya menghargai pemeluk agama lain dalam menjalankan ibadah dalam bentuk perayaan– dan apabila ada saudara se-agamamu yang mengucapkan selamat Natal, tak perlu sampai Anda panik, kan, dianya yang akan kafir.
Jadi, santai aja, kale. Kalo toh, Anda merasa agamanya paling benar.
Untuk menghargai dan menghormati tak harus berdasarkan ayat atau hadis, bukan? Akal yang sehat pasti mengerti itu.
Kalau itupun Anda masih mengatakan, menghormati bukan berarti harus mengucapkan selamat, kan? Terserah Anda, deh.
Syahdan, saya sebagian umat muslim, saya turut berbahagia atas kelahiran Nabi teragung, Isa Almasih. Bagi saya, Natal (kelahiran isa) adalah sebuah kelahiran yang membawa pesan kasih (cinta)
Saya mengatakan itu karena dalam Markus 12: 28-31 menjelaskan; Ketika salah seorang ahli taurat bertanya kepada Yesus, singkatnya, begini bunyi pertanyaannya:
Hukum manakah yang paling Utama? Jawab Yesus, perintah pertama ialah: cintai Tuhan Allah mu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu; dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah kedua ialah cintai sesamamu, manusia seperti dirimu sendiri.
Ini menunjukan bahwa inti dari ajaran yang dibawa oleh Nabi agung tersebut adalah cinta
Sampai-sampai secara khusus kelahiran Isa/Yesus tersebut diberitakan dalam Al-quran.
Kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan, dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali.
Kata Dr. Muhsin Labib, Anda berhak menyebutnya Isa atau memanggilnya Jesus. Anda bisa menganggapnya lahir di musim dingin atau lahir di musim panas. Yang pasti, dia adalah manusia suci yang diagungkan oleh dua agama besar. Ia adalah titik temu dan dasar toleransi dua Agama besar.
Sebagai penutup saya kembali mengutip kata Imam Ali bin abi thalib. Mereka yang bukan saudara dalam Iman, adalah saudaramu dalam kemanusiaan.
Selamat Natal semoga damai Natal menyertai kita semua.
Artikel yang dipilih setelah diunggah ulang (dokori)
Jujur, saya bingung dengan proses moderasi yang dilakukan Kompasiana.
Saya mengatakan begitulah karena artikel saya tentang “Petualangan remi, film kartun yang sarat akan pelajaran hidup dihapus oleh Kompasiana.
Saya tahu, saya melakukan kesalahan karena Mengunggah ulang artikel tersebut yang sebelumnya saya hapus. Akan tetapi, itu bukan tanpa sebab, saya menghapus artikel itu dikarenakan tak masuk sebagai pilihan (Highlight). Tunggu dulu, bukannya saya sok-sokan. Barangkali ada yang berpikir, kenapa dihapus? itu biasa ko, tidak semua artikel dipilih dalam kategori pilihan (Highlight) atau artikel utama (headline) oleh tim moderasi.
Tapi begini kawan, artikel itu sebelumnya saya ikut sertakan dalam kolam Iven Bertaburan hadiah di akhir tahun, inilah petasan!. Saya menghapus karena saya pikir artikelnya tersebut, telah lewat tanggal untuk tema yang telah ditentukan dalam iven. Begitu pikirku. Barangkali, pikiran tim moderator berbeda.
Seperti ini mekanismenya:
Masing-masing tanggal memiliki tema penulisan yang berbeda dan harus ditayangkan hanya pada hari tersebut. Misal: konten dengan tema tanggal 27 Desember hanya boleh ditayangkan pada tanggal 27 Desember dan bukannya tanggal 26 atau tanggal 28 Desember.
Sehingga saya beranggapan artikel itu tak masuk sebagai pilihan (Highlight). Karena mekanisasi tersebut, Begitu pikir ku. Jadi, saya berinisiatif menghapus artikel tesebut, lalu menuliskan ulang di kolam umum tulisan. Eh ternyata tulisan saya yang si tulis ulang itu dipilih (Highlight).
Tapi, tiba-tiba, masuk pesan dari tim moderasi Sesuai ketentuan Kompasiana, kami menghapus postingan Anda yang berjudul “Petualangan Remi, Film Kartun yang Sarat Akan Pelajaran Hidup” karena menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan konten yang sudah ditayangkan di Kompasiana, dengan atau tanpa menghapus konten sebelumnya. Pengguna tidak diizinkan untuk mengunggah kembali sebagiaan atau keseluruhan kontennya untuk menghindari tindakan spamming yang diakibatkan oleh konten yang tayang berulang di Kompasiana.
Terima kasih, Moderator Kompasiana.
Bukannya protes atau membantah, tapi sebelum saya minta maaf, barangkali saya yang salah, atau tidak sabaran menunggu.
Akan tetapi, yang menjadi kebingungan saya, dan muncul pertanyaan dalam benak saya adalah 1. apakah artikel yang dikategorikan sebagai artikel pilihan (Highlight) dan artikel utama (headline) apakah secara otomatis terpilih oleh sistem atau dilakukan seleksi oleh moderator Kompasiana? 2. Mengapa artikel saya yang sebelumnya tak dimasukkan/dipilih moderator sebagai artikel Highlight, tapi ketika saya hapus dan mengunggah ulang malah dipilih moderasi sebagai artikel Highlight?
Barangkali ada dari pembaca yang bisa menjelaskan dan memberi pencerahan kepada saya.
Akhir kata: bila ada kata-kata dalam tulisan saya ada yang salah dan menyinggung. Saya mohon maaf. Tulisan itu hanya sekadar bertanya.
Selamat pagi gunungku, selamat pagi pohonku, selamat pagi teman-teman semua. Aku kan pergi jauh demi cita-citaku. Remi mohon doa restu darimu. Jangan bersedih teman-temanku, hidup ini adalah perjuangan. Marilah kita mulai melangkah, menuju cita-cita bahagia. Selamat berpisah semuanya, aku kan pergi untuk mengembara. Jangan sedih akan kepergianku, kelak pasti kita akan bertemu.
Remi, begitulah saya menyebutkan film serial kartun anak-anak tersebut. Ya, dan memang benar, film berserial itu berjudul Petualangan Remi.
Sekilas terdengar seperti kartu permainan atau yang biasa dikenal dengan kartu Remi. Kartu yang sering digunakan untuk hal-hal seperti sulap, enkripsi, permainan papan dan lain-lain.
Akan tetapi, bukan itu. Remi merupakan judul sebuah film serial kartun anak-anak. Entah dari mana film itu berasal. Namun film kartun tersebut, sudah dialih bahasa menjadi bahasa Indonesia.
Selain film Dragonball dan Doraemon, Remi merupakan film kesukaan saya, semasa kecil. Saking menyukai film tersebut, sampai-sampai lagu-nya pun saya hafal.
Seperti yang sudah saya tuliskan di awal, Itulah lagu Remi. Lagu tersebut, bagi saya sangat menyentuh hati, saya tak tahu kalau Anda mendengar lagu itu, apakah tersentuh hatinya? Entahlah.
Dulu, film serial kartun Remi hanya tayang pada hari minggu, tapi entah kenapa di hari libur seperti Natal dan tahun baru, film Remi ditanyakan menjadi film spesial. Dan ya, film itu memang spesial.
Mengapa spesial? Begini, pada umumnya film kartun anak berkisah tentang petualangan, pertarungan, kesetiakawanan, perjalanan ruang waktu, dan lain-lain.
Nah, dalam tiap-tiap film kartun itu, memiliki pesan moral tersendiri. Namun dalam film Remi, sangat terasa pesan moralnya. Saya yang waktu itu masih anak- anak, dibuatnya terharu sampai meneteskan air mata melihat perjuangan seorang Remi dalam menjalani hidup.
Saya tak bisa bayangkan, seandainya saya yang berada di posisi Remi, mungkin saya bisa stress, depresi atau gila. Bagaimana tidak, waktu masih bayi, ia diculik lalu ditinggalkan di jalan, dipisahkan dari ibu asuhnya, sahabat dekatnya dan seorang lelaki tua yang mengajarkan banyak hal kepadanya, yang ia anggap sebagai ayahnya sendiri, meninggal. Ia hidup sebatang kara. Belum selesai disitu, ia juga mengalami beberapa kemalangan dalam hidupnya.
Film itu, benar-benar mengaduk hati. Kita yang menonton seakan dibuat penasaran bagaimana akhir kisahnya. Apakah ia bahagia atau malah terus menderita?
Namun, yang menginspirasi dari Remi adalah walaupun mendapatkan banyak kemalangan, ia tetap bersabar, ikhtiar dan terus menjalani hidup. Bersama tiga ekor anjing dan seekor monyet, Remi terus berkelana, menghibur orang-orang.
Singkatnya, film tesebut, sarat akan pelajaran hidup. Seakan film itu memberi pesan bahwa, kita bisa saja mengerti tentang kehidupan dengan belajar, tapi hanya dengan kesulitan hidup yang dihadapi dengan tegar; yang akan membuat diri menjadi matang, bijak dan dewasa.
Signor Vitalis, (Orang tua yang yang Remi anggap sebagai ayah) berkata kepada ibu Asuhnya Remi,
Pelajaran hidup yang kuberikan kepadanya akan baik untuknya, jauh lebih baik lebih baik daripada yang akan dia peroleh bersama anda. Anda akan memberinya pendidikan, itu benar, anda akan membentuk pikirannya, tapi bukan karakternya. Hanya dengan belajar menghadapi kesulitan-kesulitan hidup karakter orang akan terbentuk..”
Dengan demikian, kalau ditanya film apa yang bagus ditonton dilibur Natal dan tahun baru ini? Seandainya film kartu remi dapat ditanyangkan lagi, saya pikir film kartun remi adalah film terbaik untuk menemani libur Natal dan tahun baru. Film tersebut cocok di tonton semua kalangan, baik yang dewasa maupun anak-anak
Jadi, untuk lebih jelasnya, silakan tonton sendiri film remi.
***
Catatan: Setelah membaca beberapa informasi mengenai film remi, jujur, saya pun baru tahu kalau film Remi berasal dari sebuah novel klasik karya Hector Malot yang ditulis pada tahun 1978 dengan judul asli Bahasa Perancis “Sans Famillie”, alias ”Nobody’s Boy”. Pada tahun 1970-an, novel ini diadaptasi oleh Tokyo Movie Sinsha untuk dibuat serial animasi. Tayang pertama kali di Jepang pada tahun 1977 dengan judul “Ie Naki Ko”, serial ini kemudian diterjemahkan ke Bahasa Indonesia sebagai “Petualangan Remi”.
Mendongeng bukanlah sesuatu yang baru bagi masyarakat kita. Sehingga ketika kita mendengar kata “dongeng”. Imajinasi kita akan tertuju pada Anak-anak dan juga kita seperti membayangkan dalam dongeng terdapat cerita-cerita unik, fiktif dan imajinatif.
Lalu apa itu “Dongeng”?
Dongeng adalah cerita khayal semata yang sulit dipercaya kebenarannya. Dalam dongeng disajikan hal-hal yang ajaib, aneh, dan tidak masuk akal. (Liberatus Tengsoe 1988:166)
Lebih lanjut menurut Tengsoe, dahulu dongeng diciptakan untuk anak kecil, isinya penuh dengan nasihat, dan karena dongeng muncul pertama kali pada zaman sastra Purba di Indonesia maka pada mulanya tergolong sastra orai atau sastra lisan, disampaikan dari mulut ke mulut.
Kendati menurut Tengsoe dongeng merupakan cerita khayal semata yang sulit dipercaya kebenarannya. Namun, bagi saya, tidak semua dongeng merupakan cerita khayal. Sebab, ada beberapa dongeng yang di ambil dari kisah nyata dalam kehidupan dan lingkungan sekitar kita, kemudian di narasikan sedemikian rupa agar menjadi diksi yang menarik dan juga mengandung pesan-pesan moral.
Misalnya cerita dongeng maling kundang dari Sumatera Barat. Dongeng yang menceritakan seorang anak yang durhaka pada anaknya.
kalau kita telisik ternyata dongeng tersebut diceritakan berdasarkan fakta yang terjadi. Itu dibuktikan dengan batu yang bentuk manusia dan pecahan kapal yang telah membatu.
Sumber Foto: Batu malin Kundang di Padang yang terkenal (Hesti/detikTravel)
Dengan demikian, bagi saya tidak semua dongeng hanya berdasarkan imajinasi atau fiktif semata. Akan tetapi ada juga dongeng yang di angkat/diceritakan berdasarkan fakta yang terjadi.
Dongeng bisa berpengaruh negatif
Hatta, bagi saya cerita dongeng bukan hanya sekadar cerita pengantar tidur untuk anak-anak. Akan tetapi dalam cerita dongeng terdapat pesan /nilai yang sangat berpengaruh pada karakter dan psikologi anak.
Seperti merekatkan hubungan orang tua dengan anak, bisa membantu mengoptimalkan perkembangan psikologis dan kecerdasan anak secara emosional, mengembangkan daya imajinasi anak, membangkitkan minat Baca, membentuk rasa empati anak dan meningkatkan ketrampilan dalam berbahasa.
Namun, tidak semua dongeng berpengaruh positif terhadap anak. Walaupun dalam cerita dongeng mengandung hal-hal positif yang sudah saya sebutkan di atas.
Ada juga dongeng bisa berpengaruh negatif terhadap anak. Mengapa saya Mengatakan demikian?
Pernah dengar dongeng si Kancil mencuri ketimun?
Dongeng tersebut sampai-sampai di buat sebuah lagu :
Si kancil anak nakal suka mencuri ketimun Ayo cepat ditangkap Jangan diberi Ampun
Dalam cerita dongeng si Kancil. Kancil digambarkan bintang yang pintar dan cerdik. akan tetapi suka mencuri — mencuri apa? timunnya pak petani. Tidak hanya itu dengan kepintaran dan kecerdikannya ia juga menipu buaya, gajah, monyet. Dll
Pernahkah kita bayangkan dampak dari cerita dongeng kancil dan lagu tentang kancil yang suka mencuri?
Cerita kancil seperti di atas, barangkali bagi kita orang tua tak ada masalah dalam cerita itu. Kita menganggapnya hanya merupakan cerita hiburan atau cerita pengantar tidur untuk anak. Akan tetapi, kita tak menyadari bahwa anak bisa saja memahami berbeda cerita itu.
Anak-anak bisa saja memahami atau menganggap bahwa, mencuri merupakan hal yang baik, atau dengan kepintaran dan kecerdikan bisa digunakan untuk menipu dan mencuri. Seperti halnya dalam cerita dongeng kancil yang mencuri mentimun.
Saya bayangkan jangan-jangan sebagian orang yang pintar dan cerdik tapi koruptor adalah produk gagal dari cerita dongeng si kancil anak nakal. Hehhe
Kita tahu bersama bahwa Anak adalah pendengar/perekam dan peniru yang baik.
Maka dari itu, kita sebagai orang tua, sejak dini, apabila mendongeng sebuah cerita untuk anak, sebaiknya Caritakan dongeng yang menginspirasi atau dongeng mengandung unsur-unsur kebaikan. semisal dongeng yang mengandung pesan cinta, persahabatan, penghormatan, tolong-menolong dalam kebaikan dan ha-hal positif lainnya.
Sebab, sesuatu yang berdampak pada diri baik itu positif ataupun negatif, bukan hanya datang dari hal-hal yang terlihat tapi juga datang dari hal-hal yang di dengar.
Maka dari itu, lihat/perlihatkan dan dengar/perdengarkan hal-hal yang mengarah pada kebaikan.
Dalam bahasa Jalaluddin Rumi : Dalam mendengar ada perubahan sifat, dalam melihat ada perubahan hakekat.
Sedang apa Bapak? Eh, anak, Bapak lagi potong-potong ranting-ranting kayu, maaf tidak minta permisi (izin).
Buat apa ranting-ranting itu?
Untuk dibuat “irus”.
Oh iya, tidak apa-apa, potong saja Bapak. Itu, masih ada ranting-ranting kecil di pohon sebelah sana. Sini, saya pinjam parangnya, biar saya yang potongkan.
Saya melangkah mendekati pohon itu, lalu memanjat dan memotong rantingnya.
Setelah selesai memotong rantingnya dan turun dari pohon, saya perhatikan, beliau mengumpulkan ranting-ranting itu, dibersihkan lalu dipotong sekitaran 30cm.
Saya hanya butuh ranting-ranting yang kecil ini. ucapnya
Dari ranting-ranting inilah yang saya gunakan untuk membuat Irus.
Setelah beberapa ranting ia potong, kemudian meletakan ranting tersebut di dekat pohon, ia menghampiri saya dan berkata “Saya bisa titip dulu ranting-ranting ini disini, setelah saya kembali dari pasar, saya singgah untuk mengambilnya”
“Oh iya, Simpan aja disitu’.
Terima kasih banyak anak. Ucapnya sambil melangkah pergi.
Rantig yang dibersihkan (dokpri)
***
Percakapan singkat saya di atas, berawal dari pertemuan saya dengan salah satu orang tua yang saya temui belum lama ini.
Ndilalah, orang tua itu saya temui sedang memotong ranting kayu di pekarangan rumah saya.
Awalnya, sempat terpikir untuk menegur dan memarahinya, Sebab, tak meminta izin terlebih dahulu, begitu saja memotong ranting pohon.
Akan tetapi, saya mencoba berpikir positif, lalu menemuinya dan menanyakan kepadanya kenapa ranting kayu itu di potong?
Pendek kata, dari percakapan itu, barulah saya tahu kalau ranting yang dipotong tesebut digunakan untuk membuat Irus.
Saya pun tak banyak tanya darimana orang tua ini berasal, dan siapa nama beliau.
Rasa penasaran berubah menjadi rasa terharu.
Setelah orang tua itu beranjak pergi, terbesit rasa penasaran. Sebab, Sebelum beranjak pergi, sekilas saya melihat di kantong putih yang ia bawa, ada beberapa barang yang terlihat tak asing.
Singkat kata, akhirnya beliau kembali mengambil ranting-ranting yang ia titipkan.
Saya pun mengambil kesempatan untuk mengakrabkan diri, Kemudian menyelisik siapa orang tua ini.
Ternyata Orang tua tersebut bernama Mateos. Beliau tinggal di desa Domlolli tepatnya di belakang Sekolah Dasar GMIT Lawahing Kalabahi (Alor NTT).
Katanya, ia sering lewat jalan ini kalau ke pasar. Padahal, yang saya tahu ada jalan lain yang lebih dekat ke pasar kalau berangkat dari tempat tinggalnya.
Barangkali beliau melawati jalan ini, sambil memerhatikan rantig- ranting pohon. Sebab, dipinggir jalan tempat tinggalku banyak terdapat pohon yang bagus rantingnya untuk dijadikan gagang irus.
Berangkat dari rasa penasaran, saya meminta izin ke beliau untuk menunjukan isi dari kantong yang dibawanya dan melihat isi dalam kantong tersebut.
Setelah memperlihatkan/menunjukkan isi kantong yang beliau bawa. Seperti dugaan, ada beberapa peralatan yang terlihat tak asing. Ada irus yang terbuat dari tempurung kelapa, penggaruk badan dari tempurung,sisir dari bambu dan lampu dari kaleng.
Barang-barang ini terlihat tak asing. Irus dari tempurung kelapa, lampu dari kaleng yang hingga sekarang di rumah saya, masih kami gunakan, apalagi listrik padam.
Yang unik adalah Lampu yang dari kaleng. Lampu tersebut dulu dipakai pakai orang-orang daerah saya sebagai alat penerangan sebelum adanya listrik. Akan tetapi sekarang, jarang lagi terlihat penerang dari kaleng tersebut
Ini semua dijual ya?
saya sempat ragu kalau barang/peralatan ini, akan laku terjual. Sebab, dizaman sekarang ini, irus dari tempurungkelapa, sisir dari bambu, penggaruk badan dari tempurung dan lampu dari kaleng.
Peralatan semacam itu sudah mulai ditinggalkan seiiring bermuculan peralatan memasak dari besi, dan peralatan lainnya yang di buat dari plastik dan karet.
Iya. Semua peralatan itu di jual. Ujarnya
Ada yang membeli?
Iya. Sebelumnya banyak yang membeli. Akan tetapi, dimasa pandemi ini sedikit sekali yang membeli. Ucapnya murung
Berapa harga dari masing-masing peralatan ini?
Irus, harganya 10ribu. Panggaruk dari tempurung harganya 5ribu. Sisir dari bambu harganya 5ribu. Kalau lampu dari kaleng ini harganya 10ribu.
Dokpri
Karena melihat usianya yang sudah senja tapi masih berjualan. Muncul tanda tanya dalam benak. Kemana anak-anaknya? Mengapa masih membiarkan orang tuanya ini berjualan mencari nafkah di usianya yang sudah senja.
Ketika saya menanyakan anak-anaknya?
Beliau hanya tertunduk, seperti menahan nafas lalu menjawab, semua anak pergi merantau.
Berarti, hanya ada bapak dan ibu di rumah?
Istriku sudah meninggal, desisnya. Ia meninggal waktu tertimbun reruntuhan bangun rumah akibat Gempa yang terjadi tahun lalu.
Untuk menyambung hidup, saya hanya bisa melakukan ini, membuat kerajinan tangan sederhana untuk di jual. Ujarnya
Saya hanya tertegun dan terdiam. Saya tak kuasa lagi untuk bertanya.
Saya membayangkan begitu banyak orang diluar sana yang mengemis meminta-minta padahal fisiknya masih kuat untuk bekerja.
Akan tetapi orang tua ini tak menyerah pada keadaan, ia tetap bekerja, melalui hidup dengan sederhana. Tanpa harus meminta dan mengemis.
Saya teringat ucapan Imam Ali: Pekerjaan tangan yang paling sederhana sekalipun demi mempertahankan harga diri seseorang, jauh lebih utama daripada kekayaan yang disertai penyelewengan.
Orang tua ini seakan mengajarkan tentang arti kehidupan. Seolah ia mengatakan hidup ini keras, bahkan lebih mengerikan. Darah adalah darah, dan tangis adalah tangis. Tak ada peran pengganti yang menanggung sakitmu
Di benakku timbul kekaguman yang luar biasa terhadap beliau. Begitu tangguh dan hebat nya beliau. Melewati kehidupan sendiri diusia yang sudah senja.
Tak banyak yang bisa saya bantu, akan tetapi, hal kecil yang bisa saya lakukan sebelum berpamitan dengannya– adalah membeli beberapa kerajinan tangan yang ia buat sebagai tanda penghormatan dan penghargaan ku pada beliau.
Sebab. saya tahu umumnya karakter orang alor. walaupun kehidupan ekonomi begitu memprihatinkan, tak sekalipun mereka mengemis atau meminta belas kasih orang lain.
Saya tak menyangka dari percakapan kami mengundang beberapa tetangganya yang penasaran dan datang menghampiri kami lalu bertanya tentang peralatan dapur yang di jual beliau, kemudian ada beberapa dari mereka membeli peralatan tersebut.
Saya tak sempat menanyakan, apakah beliau mendapatkan bantuan dari pemerintah selama masa pendemi COVID-19. Ataukah bantuan UMKM untuk kerajinan tangannya ini?
Saya berharap semoga beliau mendapatkan bantuan. Minimal bisa digunakan membeli alat-alat yang lebih baik untuk menunjung usaha kecilnya.
Akhir kata. semoga kita termasuk orang-orang yang dalam bahasa Ali syariati: mampu merasakan derita orang lain.
Jika kau mampu merasakan derita, berarti kau hidup. Jika kau bisa merasakan derita orang lain, berarti kau manusia.
Kata-kata diatas merupakan kata/bahasa candaan yang sering diucapkan orang-orang di daerahku. Kata-kata itu, akan di keluarkan atau diucapkan apabila mendengar ada yang mengucapakan kata “Gurih sekali daging ini” atau “Enak sekali buah ini”.
Ucapan candaan semacam itu, seringkali terdengar ketika berkumpul mengadakan acara Bakar-bakar, atau makan-makan. Maksudnya, Bakar / Panggang ayam, makan-makan buah dan lalin-lain.
Berkumpul mengadakan acara bakar ayam atau ikan, sering dilakukan pemuda di daerahku. ketika mendapatkan kelebihan rezeki dari hasil melaut, bertani, atau berternak.
Dalam kumpul-kumpul tersebut sering muncul candaan disela sedang menyantap atau menikmati makanan.
Misalnya ketika ada teman yang mengatakan. ” Hmm.. Gurih sekali daging ayam ini”. Pasti ada yang berujar. Kalau Gurih, pelihara. Maksudnya jangan hanya mengonsumsi dan mengatakan gurihnya. Akan tetapi harus memelihara juga.
Kalau tahu mengonsumsi, harus tahu juga cara memelihara
Siapa sih yang tak suka Makan Ayam dan Telur? Mungkin hampir semua orang akan mengatakan suka mengonsumsi telur dan ayam.
Apalagi dimasak/dikreasi dengan bermacam-macam bumbu penyedap. Hmm pasti rasanya maknyus.
Kita pun tentu tahu hewan satu Ini (Ayam). yang dalam bahasa ilmiah di sebutkan Gallus gallus domesticus, merupakan salah satu jenis unggas yang banyak dipelihara orang untuk dimanfaatkan untuk keperluan hidup.
Daging dan telur ayam merupakan sumber protein yang berguna untuk tubuh manusia. Selain sebagai sumber protein. Ayam dan telurnya juga bisa menambah penghasilan
Sayangnya, Akhirnya-akhir ini, beredar informasi yang cukup meresahkan mengenai ayam yang disuntik hormon dan juga mengenai kolesterol tinggi kalau memakan telur.
Mengutip dalam laman Kompasiana: Tahukah kamu konsumsi per kapita telur dan daging ayam di Indonesia masih terbilang rendah dibandingkan negara tetangga. Padahal jumlah penduduk kita jauh lebih besar.
Salah satu sebabnya adalah salah persepsi di sebagian kecil masyarakat karena adanya berita hoaks yang sering beredar di media sosial tentang produk ayam dan telur ini. Contohnya ayam disuntik hormon dan kolesterol tinggi karena makan telur.
Miris, kan? Padahal dalam daging dan telur ayam mengandung protein yang baik untuk kesehatan tubuh manusia.
Daging ayam mengandung banyak protein yang berperan sangat penting dalam fungsi tubuh seperi menjaga kesehatan otot kita. Protein terutama penting bagi anak yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Sedangkan telur ayam memiliki 7 gram protein bersama dengan vitamin, mineral, dan lemak yang sehat. Kuning telur mengandung thiamin (vitamin B1), asam pantotenat (vitamin B5) piridoksi (vitamin B6), asam folat (vitamin B9), dan kobalamin (vitamin B12).
Telur adalah sumber yang kaya mineral yang dibutuhkan oleh tubuh seperti selenium, seng, zat besi dan tembaga.
Ayam sedang bertelur (Dokpri) Telur ayam (Dokpri)
Lantas apa yang bisa dilakukan agar dapat menangkal Hoax tentang ayam yang beredar?
Yang pertama adalah mulai dari diri sendiri. maksudnya. Setiap informasi yang didapat atau didengar, jangan langsung telan mentah-mentah dalam arti jangan langsung menerimanya/mempercayainya begitu saja. Akan tetapi, harus memverifikasi terlebih dahulu melalui sumber-sumber informasi yang terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan. Salah satunya bisa merujuk pada kompasiana. Hehe
Kedua. Saya pikir cara ini lebih tepat menangkal berita hoax, sekaligus dapat menjamin kesehatan apabila daging dan telur ayam itu dikonsumsi. Yaitu dengan beternak dan memelihara sendiri ayam.
Kenapa saya mengatakan beternak ayam merupakan cara yang lebih ampuh menangkal hoax. Ya. karena kita bersentuhan langsung dengan peliharaan, kita pun lebih mudah mengetahui kesehatannya, kualitas telur yang dihasilkan dan hal baik lainnya yang berhubungan dengan ayam apabila dikonsumsi.
Sehingga apapun berita hoax yang beredar kita tak terpengaruh dan tetap santuy aja mengkonsumsi daging dan telur ayam.
Cara santuy versiku yaitu. Potong ayam peliharaanmu setelah itu goreng daging dan telurnya lalu menyantapnya sambil menonton hoax mengenai telur dan daging ayam. Hehe
Saya berkata demikian karena saya pun memelihara/beternak ayam. Dari pada mengeluh tentang harga ayam dan telur yang mengalami kenaikan. Di tambah lagi tentang berita hoax tentang ayam yang disuntik hormon. Mending memelihara sendiri ayam.
Lebih terjamin kualitas, apabila telur dan daging hasil peliharaan itu di konsumsi.
Walaupun misalkan kita mempunyai pekerjaan tetap. Seperti ASN atau Dosen. Saya pikir tidak ada salahnya juga kalau memelihara ayam. Ya, minimal kalau di jual bisa menambah penghasilan, atau untuk dikonsumsi sendiri.
Beternak ayam, menurut saya bukanlah sesuatu yang rumit, cukup menyiapkan kandang, pangan dan tentu saja sepasang ayam.
Kalau tak punya pekarangan yang luas. Cukup buat kandang yang nyaman untuk di tempati ayam. Akan tetapi, harus rajin-rajin membersihkan kandang dan kotorannya, agar ayam tak mudah terserah penyakit.
Dengan demikian, saya pikir tak perlu jauh-jauh untuk menyadarkan orang untuk mengkonsumsi ayam dan telur. Mulailah dulu dari diri sendiri dan keluarga tentang pentingnya mengkonsumsi telur dan daging ayam.
Sederhananya, dengan memelihara/ beternak ayam sendiri. Kita lebih mudah mengetahui kualitas daging dan telur ayam yang dikonsumsi. Sehingga selain tak risau dengan berita hoax, kita tak perlu lagi morogoh kocek mengeluarkan uang untuk membeli daging dan telur untuk mencukupi kebutuhan gizi kita dan keluarga.
Akhir kata: selain untuk konsumsi dan tambahan penghasilan. Saya memelihara ayam agar ketika terlibat dalam kumpul-kumpul mengadakan acara bakar/panggang ayam.
Saya bisa menangkis ujaran teman, ketika saya mengucapakan “gurih sekali Ayam ini”. Sebab, saya pun memelihara/ beternak ayam. Hehe