Barangkali Hujan dan Tanaman Porang berjodoh

Porang (dokpi)

Dalam musim hujan sekarang ini, saya melihat/menemukan banyak tanaman porang tumbuh di pekarangan dan hutan dekat rumah.

Dan biasanya, dalam musim hujan saat-saat ini, orang-orang  rentan terkena/terserang kutu air.

Saya sempat berpikir bahwa jangan-jangan hujan dan tanaman porang itu berjodoh. Maksudnya mempunyai hubungan yang natural di Alam, dalam hal saling melengkapi.

Ketika terkena kutu air dimusim hujan, ada porang sebagai obatnya

Kita tentu sudah tahu tentang porang, bukan? Jadi, Saya tak ingin menjelaskan lebih detail apa itu tanaman porang, sebab saya pikir tanaman porang sudah menjadi rahasia umum.

Bagaimana manfaatnya, khasiat nya,  sudah banyak di ketahui. Dalam tulisan saya sebelumnya saya pun sedikit membahas tentang khasiat dari tanaman porang

Sila baca disni: https://adenyazdi.art.blog/2020/11/28/selain-bisa-membuat-orang-menjadi-milyader-daun-dari-tanaman-porang-dapat-di-gunakan-sebagai-obat-penyembuh-kutu-air/

***

Sebelum melanjutkan penjelasan sangkaan saya tentang hubungan tanaman porang dan hujan. Saya ingin menjelaskan terlebih dahulu, apa itu arti kata Jodoh?

Dalam KBBI:  jo·doh 1 n orang yang cocok menjadi suami atau istri; pasangan hidup; imbangan: berhati-hatilah dalam memilih –; 2 n sesuatu yang cocok sehingga menjadi sepasang; pasangan: mana — sepatu  ini; 3 a cocok; tepat: ia telah meminum obat itu, tetapi tidak –;

Pendek kata, jodoh adalah sesuatu yang cocok, sehingga menjadi pasangan. Semisal pasangan hidup(suami, istri), pasangan sepatu, sendal dan hal lainnya yang kita anggap cocok untuk kita satukan atau pasangkan; atau juga hubungkan.

Hubungan penciptaan

Kita pun tahu bahwa segala yang tercipta di alam ini berpasangan, dalam arti berpasang-pasang. laki-laki,  perempuan. Siang, malam. Sakit, sembuh. Susah, senang.dll.

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh Bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui,” bunyi Surah Ya Sin Ayat 36

Pasangan dari sakit yaitu kesembuhan, pasangan dari senyuman yaitu tangisan.
Dengan sakit, kita mengerti arti kesembuhan. Dengan adanya tangisan, senyuman menjadi berarti.

Begitu pun dengan adanya perempuan, kita tahu bahwa kita lelaki. Hehe

Akan tetapi, untuk melengkapi itu, ada perantaraan. Untuk sembuh perantaranya obat. Untuk tersenyum, perantaranya pelukan, empati, dll. Begitupun dengan yang lain. Singkat nya setiap sesuatu memiliki perantara.

Mengapa saya katakan barangkali hujan dan porang berjodoh?

Begini, pada musim hujan, Kita akan mendapati, keadaan, lingkungan yang basah, lembab, lumpur, becek. Dll. Kan,?

Nah, pada keadaan seperti itu, kita rentan terkena kutu air. —– kutu air merupakan penyakit yang biasa menyerang  bagian bawah jari-jari kaki dan itu membuat keadaan kaki kita menjadi tak nyaman, apalagi kalau memaki sepatu, terasa perih.

orang-orang yang suka aktivitas outdoor. Misalnya yang suka mendaki Gunung saat hujan, orang-orang seperti itu rentan terserang kutu air.

Kendati demikian, Alam pun menyediakan Obat. Dan obat itu tumbuh dilingkungan  sekitar kita. Salah satunya adalah tanaman porang.

Dan porang, saya pikir bagus sebagai obat untuk pertolongan pertama, dikala tak menemukan/tak membawa obat atau salep untuk kutu air saat berada dalam hutan.

Tanaman tesebut sangat Berkhasiat untuk menyembuhkan kutu air. Dan itu sudah saya bahas dalam tulisan saya sebelumnya

Awalnya, saya hanya tahu daunnya yang di panggang/di panaskan hingga mengeluarkan cairan atau getah lalu di tempel kan ke bagian jari kaki yang terkena kutu air.

Namun, saya mendapat informasi terbaru mengenai cara pengobatan kutu air menggunakan tanaman porang.

Berangkat dari pengalamannya terserang kutu air, teman saya mengatakan  bahwa, bukan hanya daunnya yang dapat menyembuhkan kutu air tapi juga batang dari porang. Caranya batang dari tanaman porang itu di potong, ketika di potong akan mengeluarkan getah/cairan, bagian yang mengeluarkan cairan tersebut, dipanaskan kemudian ditempelkan jari-jari kaki yang terdapat kutu air.

Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.
(QS LUQMAN:10)

Tumbuh bagaikan jamur dimusim hujam

Singkat kata. Batang dari tanaman porang pun sangan mujarab menyembuhkan kutu air.

Dengan demikian, porang merupakan obat alami bagi kutu air. Ia termasuk salah satu perantara dalam menyembuhkan penyakit kutu air. Dan kutu air sendiri umumnya menyerang pada keadaan yang basah, lembab dan lumpur pada musim hujan saat ini

Sehingga dengan tumbuhnya porang dalam musim hujan saat-saat ini, bagi saya itu membuat sebuah hubungan yang serasi.

Ketika terserang kutu air di musim hujan. Ada porang sebagai penyembuh.

Maka dari itu saya mengatakan bahwa porang dan hujan itu barangkali berjodoh.

sekian.

Menjadi Generasi Sandwich Bukanlah sebuah Beban

Indy, bersiap membuang jala (Dokpri)

Ketika mendengar/membaca kata generasi sandwich, saya sempat membayangkan bahwa generasi sandwich itu adalah generasi yang suka makan sandwich. Eh ternyata saya salah.

Lalu, apa itu generasi sandwich?

Dilansir dari kompas.com, generasi sandwich adalah suatu kondisi di mana seseorang memiliki tanggung jawab finansial untuk menghidupi keluarga sendiri yaitu anak dan pasangan, namun juga memiliki beban finansial untuk menghidupi keluarga besar seperti orang tua, kakak atau adiknya.
 
kalau kita ibaratkan sebuah roti lapis, generasi sandwich merupakan generasi tengah, maksudnya generasi yang berada di tengah dari sebuah keluarga. 

Misalkan kamu.Ya kamu, berada di tengah-tengah hati ku  berada di tengah antara generasi atas yaitu orang tua atau mertua kamu, sedangkan generasi bawah berarti anak/keturunan kamu bahkan cucu (jika ada).

Sehingga istilah ini, tak jauh beda dengan roti sandwich yang berlapis-lapis, ada irisan daging, sayur, keju yang diapit oleh roti pada kedua sisinya.      

Pendek nya, generasi ini menggambarkan posisi finansial seseorang yang yang terhimpit di antara generasi atas dan generasi bawah.

Kasarnya, kita yang berada di posisi ini mau tak mau kita harus menghidupi dua generasi dari sisi sandang, pangan dan papan dari roti lapis itu (maksudnya orang tua, dan saudara kita) . Terlepas dari kebutuhan kamu sendiri, kamu juga harus memikirkan solusi keuangan untuk mereka.

Lantas apa masalahnya dengan generasi ini?

Sebenarnya tak masalah sih, yang menjadi masalah adalah kalau roti lapis itu, maksudnya kita yang berada pada posisi itu menganggapnya sebagai masalah.

Beberapa orang menganggap generasi ini rentan stres,  karena harus memikirkan kebutuhan ekonomi/finansial, bagian atas, bagian bawah, dan juga dirinya yang di tengah.

Sehingga harus dicari solusi mengenai masalah tersebut. Sampai-sampai para psikolog, pakar  ekonomi, harus turun tangan menangani masalah ini.

Eh.. Bos, supaya diketahui, sebenarnya generasi sandwich ini, buka hal yang baru, kalau memakai istilah Prof.Pebrianov, “Sejak zaman purbakala, era kuda gigit besi, fenomena ini sudah ada”.

Hanya saja kerena beberapa manusia yang stres berada di posisi itu, lalu menggeneralisasi seluruh manusia bahwa posisi itu, rentan stres dan perlu diberikan solusi.

Pertanyaan saya sederhana, “Sudahkah melakukan penelitian atau riset, tentang semua manusia yang di posisi tersebut”? Jangan-jangan ada yang baik-baik saja berada di posisi itu, walupun kebutuhan ekonomi/finansial nya pas-pasan.

Bukan sebuah beban.

Belum lama ini, saya diajak seorang teman untuk pergi menjala ikan. Teman saya itu bernama Indy (nama samaran), ia seorang Aparatur sipil Negara (ASN) di daerah saya.

Suatu ketika, saya bertanya padanya. Kamu kan sekarang sudah jadi ASN, kenapa masih saja melaut, mencari ikan?

Selain hobi, Inilah awal pekerjaanku, sebelum menjadi ASN, jadi tak bisa ku tinggalkan. Ujarnya

Di sela-sela kesempatan saya bertanya ke teman tersebut, tentang beban generasi sandwich, kerena saya melihat  teman saya itu walaupun sudah berkeluarga, masih tinggal bersama orang tua, beserta adik-adiknya yang juga sudah berkeluarga.

Tatkala saya bertanya tentang posisinya sebagai roti lapis generasi Sandwich, ia menjawab, biasa saja!

Kamu tidak terbebani?

Apanya yang membebani? dulu orang tua saya pun berada dalam posisi itu, tapi mereka melewatinya tanpa ada masalah, hingga kami beranjak dewasa, sekarang kami pun sudah berkeluarga.

Perselisihan, beda pendapat itu lumrah dalam keluarga, itu merupakan bumbu-bumbu kehidupan, tetapi kalau kita melewati dengan bijak, semuanya akan baik-baik saja.

Saya tak merasa terbebani, dengan finansial  yang harus saya keluarkan untuk menghidupi, orang tua, istri, anak-anak dan juga adik-adik saya.

Saya merasa bahwa, sudah menjadi tanggung jawab saya untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sebab, saya merasakan bagaimana kehidupan kami dulu yang serba pas-pasan. Akan tetapi orang tua saya dengan gigih memenuhi kebutuhan kami, hingga sekarang saya sudah menjadi orang (sudah mendapatkan pekerjaan yang layak).

Apapun pekerjaan, asalkan halal akan saya lakukan demi memenuhi kebutuhan ekonomi dari keluarga saya. Ujarnya.

Kamu tahu,  kenapa saya sering menjala dan memancing ikan? selain hobi dan untuk kebutuhan keluarga, kalau mendapat kelebihan ikan hasil menjala, saya sering berbagi ke tetangga atau berbagi ke orang-orang yang saya temui di jalan. Itu semua saya lakukan dengan iklas, ucapnya.

Ketika kita melakukan segala sesuatu  dengan ikhlas dengan hanya mengharap ridho Tuhan, rezeki akan datang tanpa kita sadari. Ucapnya sambil melempar jala.

Syahdan, bagi dia, kalau segala sesuatu, baik itu susah maupun senang, dilandasi oleh rasa syukur, berada dalam posisi tersebut, bukanlah sebuah beban,

Kematangan diri, kedewasaan, dan kebijaksanaan bukanlah datang dari ucapan retoris tetapi ujian hidup yang di alami.

Saya termenung, dan berpikir, bukankah dengan adanya kesusahan kita mengerti arti kesenangan? Bukankah dengan adanya tangisan senyuman itu memiliki arti?

Saya pun teringat  sebuah riwayat Nabi, beliau bersabda:
“siapa saja yang berbuat baik kepada orang tuanya dan menjalin silaturahmi maka aku akan memastikan bahwa ia akan mendapatkan harta yang berlimpah, umur yang panjang dan cinta dan cinta dari hati keluarganya (Buku 40 hadis dari maksumim, hal 207).

Selain itu Imam shadiq berkata: “Barangsiapa yang dengan benar (sesuai hak-hak anggota keluarga) menafkahi Keluarganya, maka hartanya akan berlimpah (Ibid, hal 208)

Jadi kenapa harus risau ketika berada dalam kondisi terhimpit. Dengan Ikhtiar dan juga bersyukur,  kita akan diberikan kemudahan, dilapangkan segala kesempitan hidup oleh kekuatan yang tak terlihat.

Dan itu hanya di mengerti oleh orang-orang yang percaya akan kekuasan Tuhan.

Tidaklah kita sadari bahwa eksistensi kita sangat bergantung pada Tuhan?

Teringat kata imam Ali sebagai renungan;

Harusnya manusia ingat pada tiga keadaan yang mana pada saat itu mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Namun Allah SWT memberi rezki padanya, yaitu ketika ia di dalam rahim seorang ibu,  ketika ia menyusui pada ibu dan ketika (ia masih anak-anak)  bergantung pada  rezeki orang tuanya  (ibid, hal 207)

Jadi masih kah kita menganggap orang tua dan keluarga kita sebagai beban?

Keindahan Alam di Desa Alila (kabupaten Alor) yang belum banyak diketahui

Dokpri

Kabupaten Alor terkenal dengan destinasi wisata. Pemandangan alamnya yang indah, keragaman budaya, adat istiadat. Selain panorama alamnya, keindahan bawah laut Alor menjadi primadona.

Sehingga orang-orang menyebut Alor sebagai “Surga di Timur matahari”.  Kalau tak percaya silakan ketik aja di mesin pencari Google tentang Wisata kabupaten Alor.

Saya takingin membahas panjang lebar tentang keindahan apa saja yang ada di Kabupaten Alor. Sebab, kalau membahas semua itu, tak akan habis dituliskan.

keindahan itu tak cukup hanya di tuliskan tapi dinikmati”.

Nah, dalam tulisan ini, saya ingin menunjukan salah satu tempat atau pemandangan Alam yang belum banyak di ketahui.

Apabila anda /pembaca yang ingin berkunjung atau berwisata ke alor. Tempat ini juga menarik untuk di kunjungi.

Barangkali ada juga dari pembaca suka dengan hutan yang alami, pemandangan sungai, air terjun atau yang suka berfoto. 

Di Kecamatan Alor Barat Laut tepatnya desa Alila terdapat air terjun, sungai dan pemandangan hutan yang sangat fotogenik.

Namun, apabila ingin mengunjungi tempat ini, saya sarankan membawa peralatan memanjat yang memadai karena tingkat kesulitan untuk sampai ke dasar sungai terbilang cukup sulit.

Akan tetapi, kalau Anda memiliki fisik yang kuat dan bugar, tak perlu membawa peralatan memanjat memanjat, cukup membawa bekal makan dan minuman saja. Hehe.

***

Lokasi tempat tersebut tak jauh dari kota Kalabahi, untuk sempat ke tempat  itu sekitaran setengah jam perjalanan menggunakan motor atau mobil.

Akan tetapi saya sarankan menggunakan motor saja. Sebab, ada beberapa jalan yang sulit dilalui kalau mengunakan mobil.

Dalam perjalanan, kita akan disuguhkan dengan hutan yang masih alami dan udara yang segar.  Pun, akan tercium aroma cengkeh yang dijemur penduduk di desa yang kita lewati.

Mungkin benar kata Mbak Najwa: Aroma rempah, (salah satunya cengkeh) yang mengundang kolonialisme, derita panjang yang berujung nasionalisme.

Akses jalan menuju lokasi (dokpri)

Setelah sampai/tiba di desa Alila, kita harus melawati jalan kecil, lalu turun ke dasar sungai, Seperti yang saya sebutkan di atas.

Jalan untuk turun ke dasar sungai pun terbentuk alami. Barangkali  masyarakat di sekitar situ sering memanfaatkan air dari sungai tersebut, akhirnya terbentuk semacam tangga untuk turun ke dasar sungai. Akan tetapi, kalau melawati  itu, harus hati- hati, karena licin.

Eh.. Satu lagi, saya sarankan kalau sudah sampai/ tiba di desa Alila, sebaiknya mencari orang dari penduduk desa itu, agar ditunjuk /diantar ke  lokasi sungai dan air terjun tersebut.

Walaupun Anda misalkan telah memakai jasa tour guide, sebaiknya Anda juga menggunakan jasa penduduk setempat untuk diantar ke tempat itu.

***

Jujur, saya pun baru mengetahui tempat yang indah ini. Berawal dari cerita teman tentang keindahan sungai dan air  terjun di desa Alila, lalu berakhir dengan kunjungan saya ke tempat ini.

Pendek kata setelah, menuruni tangga alam yang begitu melelahkan, akhirnya lelah, capek terbayar/dirasa hilang.

Air yang jernih, suara-suara burung, gemuruh air terjun, wangi hutan. seakan membentuk harmoni,  membuat ektase, sekejab menghilang segala beban dan rasa capek.

Dokpri
Dokpri

Ternyata selain air terjun Mataru  yang berada di desa Mataru ternyata desa  Alila pun memiliki air terjun yang indah. Ucapku dalam hati.

Saya pun tak menyangka, ketika tiba sungai ini, saya mendapati banyak anak-anak  yang sedang mandi dan bermain di sungai.

Ketika saya menanyakan, di mana kalian tinggal? Desa di atas sungai ini. Ujar mereka

Ternyata  anak-anak ini, penduduknya desa Alila. Tak banyak bertanya saya mengambil kesempatan untuk berfoto dengan meraka, dan juga mengabadikan kunjungan saya ke tempat ini dengan berfoto.

Itulah sedikit pengalaman/pengetahuan yang bisa saya tunjukan/tuliskan untuk berbagi dengan pembaca tentang salah satu tempat  indah, yang ada di kabupaten Alor.

Sayangnya untuk ke lokasi tersebut, jalannya masih rusak. Semoga ada perhatian pemerintah daerah kabupaten Alor, agar jalan /akses ke tempat ini, diperbaiki/dibenahi agar menjadi lebih baik.

Sehingga bukan hanya menarik minat wisatawan untuk berkunjung, tetapi sekaligus  membantu akses perekonomian dari masyarakat di desa tersebut.

Kebahagiaan yang sederhana

Cabang JNE Alor (dokpri)

Belum lama ini, ketika sedang duduk asik menikmati kopi sambil membaca artikel yang ada di Kompasiana. Tiba-tiba datang seorang teman.

Bos ini ada kiriman mu. Ujarnya.

Benarkah? Perasaan saya tak memesan barang. Ucapan ku

Dia tertawa lalu berkata. Ini kiriman adikmu lagi.

Saya bisa menebak itu, karena beberapa hari ini saya perhatikan kamu aja saya datang membawa kiriman. Ucapku.

Tak tahu juga, itu adik mu pesan apa aja. Beberapa hari ini kirimannya selalu menggunakan jasa pengiriman di kantor saya.

Eh. Ngomong-ngomong kamu kan kerja di dinas Kebersihan, kenapa kulihat sekarang kamu  sebagai petugas pos ( sebutan kurir pengantar kiriman di daerah saya). Sanggahku

Bukan petugas pos, saya bekerja di JNE. Tapi Saya juga masih menjadi tenaga honor di Dinas kebersihan. Ujarnya.

Sudah dulu ya, saya harus mengantar lagi, barang-barang kiriman orang. Ucapannya, kemudian bergegas pergi.

***

Lukas Magang (Nama sebenarnya). Dia adalah teman saya sewaktu sekolah dasar (SD). Saya jarang bertemu dengannya, walaupun rumah tempat tinggal kami masih satu komplek. Akan tetapi, Saya bertemu dengannya belum lama ini. Pertemuan itu pun dikarenakan pekerjaan— pekerjaan dia sebagai kurir jasa pengiriman barang salah satu Agen JNE Express di Kabupaten Alor (NTT).

Dia datang mengantar kiriman barang adik saya, yang di kirim melalui jasa pengiriman JNE.

Dalam komunikasi singkat saya dengannya. Ternyata, dia bekerja di JNE.  Awalnya saya hanya mengetahui kalau dia berkerja di Dinas Kebersihan kabupaten Alor.

Pendek kata. Saya tak banyak tanya tentang aktivitas dan pekerjaannya,  setiap kali bertemu ketika mengantar kiriman adik saya. Kami hanya berbicara basa-basi singkat, Lalu ia bergegas pergi.

Jujur, saya sendiri baru mengetahui bahwa, jasa pengiriman JNE sudah ada di kabupaten Alor. Yang saya tahu adalah jasa pengiriman pos (PT Pos) yang berada Jl. Dr.Sutomo, Kalabahi Kota.

Namun, dengan seringnya adik saya mengunakan jasa pengiriman JNE. Dan juga sering  bertemu dengan teman saya yang bernama Lukas itu, akhirnya saya tahu kalau JNE sudah ada di Alor.

Saya tak tahu awal mula JNE membuka Agennya di Kabupaten Alor. Tapi, ketika saya bertanya ke orang-orang sini, mereka bilang kalau Agen JNE cukup lama beroperasi di Alor. Sebelum hanya Ada PT pos, tapi sekarang JNE pun sudah Ada.

Mereka mengatakan bagus lho mengirim barang melalui JNE.  Cepat sampai dan Terpercaya.

Dokpri

**

Belum lama ini, adik saya selalu Memberi barang-batang melalui penjualan online berupa kerudung dan lain-lain, lalu di berikan ke ibu dan bibi. Saya pun diberikan sebuah topi.

Saya sempat bertanya dari mana kamu membeli topi ini. Perasaan topi ini, tak di jual di toko yang ada di sini.  Hanya bisa di temukan di Kupang (Ibu kota Propinsi NTT)

Saya Memesannya lewat belanja online. Masa kamu tak tahu, tuh bungkusan nya yang kamu sering bawakan ke saya. Katanya di antar oleh Lukas. Ujaran nya.

Bekas bungkus kiriman (dokpri)

Kamu sering berbelanja on-line ya?  Tanyaku.

Ia. Jawabnya.

Dia melanjutkan. Ketika Kelebihan rezeki dari hasil kerja. Selain  membeli barang keperluan. Saya berbagi rezeki kepada Mama, bibi, teman, dengan membeli barang-barang kesukaan mereka. Tidak lupa pula kelebihan rezeki itu saya menyantuni kepada fakir miskin.

Bagaiman topi itu, keren kan?

Ia. Keren jawabanku.

Kamu sih, belum pernah berikan sesuatu barang ke saya. Ucapnya sambil tertawa.

Kamu harus tahu, dalam rezki yang kita dapatkan ada rezki orang lain. Ketika kita berbagi dan menyantuni, Tuhan akan melipat  gandakan rezeki kita. Ujarnya.

Siapa tau, kamu juga mau pesan/ membeli barang online. Kalau ada rezki berbagilah? Ujarnya.

Saya hanya tertawa.

Saya dengar JNE mau mengadakan HUT nya yang Ke 30. Dengan mengusung tema JNE 3 Dekade Bahagia Bersama. Ujarnya

Kamu tahu dari mana? Tanya ku.

Hari gini masa informasi yang gitu tak di tahu? Ya. Di media sosial lah.

Kayaknya di hari Ulang tahun gitu pasti di bebaskan ongkos kiriman barang.  Di tahun sebelum nya kan begitu. Ucapnya.

Bagus itu, kalau kamu mau membeli buku-buku kesukaan tinggal kirim aja malalui JNE. Mumpung gratis ongkirnya (ongkos kirim). Ujarnya.

Karena rasa penasaran. Saya bertanya kepadanya. Bagus kah jasa kalau mengirim melalui JNE?

Baguslah. Makanya saya selau menggunakan jasa pengiriman itu. Ujarnya

Dia melanjutkan. Teman-teman saya pun kalau membeli barang online. Selalu mengirim menggunakan jasa pengiriman JNE.

Setahu saya berdasarkan pencarian di google, Alamat agen JNE Alor. Berada di Jalan Mujair no 9, kampung pura, Kalabahi. Dan juga ada di jalan Anggrek,  motombang, Teluk Mutiara. Kira-kira alamatnya yang benar yang mana? Tanyaku

Sekarang kantor Agennya berada dekat dengan pasar terbakar ( sebutan pasar yang pernah terbakar di daerahku) di Jalan Diponegoro di sampingnya Hotel pelangi. kata adikku.

Menjelang natal dan tahun baru gini, pasti  terjadi diskon besar-besar harga barang-barang di mall dan toko. Di tambah lagi dengan Hari ULTAH JNE,  pasti JNE memberi diskon untuk jasa pengiriman nya.

Jadi kalau mau berbelanja. Buruan, mumpung lagi gratis ongkir. Ujarnya.

**

Saya pikir JNE termasuk salah  satu jasa pengiriman yang membantu pemerintah dalam menghambat pendemi. Ucap nya sambil tertawa

Kenapa begitu? tanyaku serius

Coba kamu pikir. Menjelang natal dan tahun baru ini,  lonjakan pembeli di mall dan toko pasti meningkat.

Nah untuk untuk membantu pemerintah dalam menghambat penularan virus covid-19. Sebaiknya kita  menahan diri dalam berbelanja langsung ke mall atau toko. Tapi baiknya belanja lewat online aja.

Terus apa hubungan dengan JNE? Tanyaku.

Masa kamu belum mengerti.  Dengan memberi diskon pengiriman melalui JNE menjelang Ultah nya. JNE  termasuk membantu, mengurangi kunjungan orang-orang ke mall atau toko.

Sebab, orang-orang akan berpikir, dengan diskon barang dan digratis kan ongkir pengiriman. Itu sangat membantu, dan juga bisa berhemat. Apalagi memasuki natal dan tahun baru ini.

Jadi menurut saya,  JNE turut membantu pemerintah, sekaligus turut menciptakan kebahagiaan bagi sebagian orang yang berkantong kere. Ucapannya sambil tertawa

Di akhir pembicaraan, adik saya berkata. Kamu tahu rahasia sukses orang-orang hebat.

Mereka selalu membahagiakan orang-orang dengan memberikan barang yang terlihat sederhana,  melakukan dangan cara sederhana tapi itu berkesan.

Seperti kata Al Batt: Rahasia kebahagiaan adalah membuat orang lain percaya bahwa mereka adalah penyebab nya

Natal dan Sebuah Kenangan.

Sumber gambar: kompas.com

we wish you a merry christmas,
we wish you a merry christmas
and a happy new year

Lagu tersebut membawa ingatan saya ke masa kecil. Seakan saya dibawa pada saat usia 8-10 tahun. Usia di mana sebagian orang dewasa berharap agar kembali menjadi anak-anak. Beban kerja, urusan biologis dalam rumah tangga, tak dipikirkan. Yang ada dalam pikiran adalah bermain dan hiburan.

***

Lagu di atas, saya dengar ketika berbelanja di salah satu Toko(tempat menjual barang-barang).

Hmmm.. Ternyata  mau memasuki hari natal dan tahun baru, ucapku dalam hati.

Apa sih, Natal Itu?

Melansir dari Wikipedia, Natal (dari bahasa Portugis yang berarti “kelahiran”) adalah hari raya umat Kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat Kristiani pada tanggal 25 Desember untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus.

Kata “natal” berasal dari ungkapan bahasa Latin Dies Natalis (Hari Lahir).Dalam bahasa Inggris perayaan Natal disebut Christmas, dari istilah Inggris kuno Cristes Maesse (1038) atau Cristes-messe (1131), yang berarti MisaKristus. Christmas biasa pula ditulis Χ’mas, suatu penyingkatan yg cocok dengan tradisi Kristen, krena huruf X dalam bahasa Yunani merupakan singkatan dari Kristus atau dalam bahasa Yunani Chi-Rho.

Terlepas dari pada istilah atau definisinya. Bagi saya, Natal  merupakan  momen yang sangat berkesan di masa kecil.

Hari yang dinantikan di antara hari-hari libur yang lain. Bisa sepuasnya bermain, menonton dan juga bersilaturahmi ke tetangga yang merayakan Natal.

Syahdan, dulu, setiap kali menonton telivisi dan mendengarkan lagu: 

we wish you a merry christmas,
we wish you a merry christmas,
we wish you a merry christmas
and a happy new year” Lalu di lanjutkan lagi dengan lagu” libur telah tiba, libur telah tiba“.

Saya merasa, lagu itu adalah lagu terbaik sepanjang masa. MengapaBagi saya, itu merupakan lagu yang mengantarkan menuju pintu kebahagian memasuki hari libur sekolah, apatah lagi di hari Natal, film kartun menghiasi acara-acara televisi,  jauh dari  sinetron-sinetron alay dan ceramah-ceramah Dai selebritis.

Tak didengar acara kafir mengkafirkan, boleh tidaknya mengucapkan Natal dan acara-acara yang membikin pusing lainnya.  Hari Natal serasa  dispesialkan untuk anak-anak.

****

Ada sebuah kenangan yang masih melekat dalam ingatan dan tak terlupakan, tatkala bersama teman-teman, bersilaturahmi ke saudara, tetangga yang merayakan Natal.

Kenangan itu berupa: Mengambil Kue-kue Natal. Hehe

Tujuannya dari silaturahmi bukan hanya sekadar mengucapkan selamat. Tujuan utama kami  adalah mengincar kue Natal.

Ketika pergi bersilaturahmi, kami memilih-milih  rumah yang dikunjungi— rumah yang biasanya pertama kami kunjungi adalah rumah yang membuat  kue bolu, kacang dan minuman jus ( waktu itu, memang agak langka didapatkan, hanya ada dihari-hari raya). Dan kami tahu, rumah yang membuat/ menyediakan semua itu.

Yang unik adalah kami selalu memakai celana cargo (celana yang banyak sakunya) Agar berlomba-lomba mengambil kue dan kacang untuk dimasukan di saku celana ketika tuannya ke belakang.

Mengapa itu kami lakukan?  Ya, kami pikir itu hanyalah semacam ajang perlombaan. Perlombaan sesama kami   untuk mengetahui siapa yang mendapatkan kacang dan kue paling banyak—- ada kesenangan, kebanggaan yang kami rasakan tatkala di antara kami  menjadi pengambilan kue dan kacang terbanyak.

Sebenarnya perilaku kami diketahui oleh tuan rumah, tetapi sengaja dibiarkan. Barangkali  bagi tuan rumah, kebahagiaan itu ketika kuenya dihabiskan. Apalagi di hari Natal yang penuh berkah dan kasih.

Natal begitu sangat membekas dalam hati, membentuk kenangan yang terus teringat dan terkadang membuat tersenyum ketika mengingat kenangan semasa itu.

Itulah sebuah kenangan yang takterlupakan di hari Natal dan Tahun Baru. Kenangan itu, muncul/terbayangkan dalam benak, ketika mendengar lagu-lagu yang diputar menjelang hari Natal.

Setelah dewasa, saya baru tahu bahwa kenapa perbuatan kami mengambil kue itu dibiarkan, malah ketika kami pamit pulang, kami masih diberikan bungkusan yang isinya  kue dan minuman.

Ternyata bagi mereka yang merayakan Natal, Natal menjadi  bermakna  ketika kasih Yesus dimanifestasikan dalam perbuatan kasih sayang,  berbagi dengan sesama mempererat tali persaudaraan dan menyebarkan cinta dan kasih untuk semua.

Namun, waktu itu bagi kami Natal merupakan hari libur panjang, banyak kue., Kacang,  minuman sirup, dan film kartun menghiasi acara televisi.

**

Hari itu adalah hari yg paling membahagiakan, melewati masa kecil kami dengan lingkungan penuh dengan kerukunan, persaudaraan dan toleransi.

Tak terdengar kata kafir megkafirkan, haram  mengucapkan natal dan lain sebagainya.  kami tak butuh dan tak peduli tentang itu, di pikiran kami, mereka adalah saudara walupun bukan seagama.. 

#kitadengkita

Selamat Memasuki Hari Natal dan Tahun Baru

Selain bisa membuat orang menjadi milyader, Daun dari Tanaman porang dapat di gunakan sebagai Obat Penyembuh Kutu Air

Sumber gambar: kosingkat.id

Dalam tulisan saya sebelumnya tentang Rumput Ajaib penyembuh  luka.

Sila baca disini: https://adenyazdi.art.blog/2020/10/07/rumput-ajaib-penyembuh-luka/

Saya sempat menyinggung soal salah satu jenis tanaman yang dapat menyembuhkan kutu air. Akan tetapi, saya mengatakan bahwa, saya lupa nama tanaman tersebut.

Di karenakan, waktu teman saya menyebut nama tanaman itu, dia mengunakan bahasa setempat (bahasa daerah). Ketika saya menanyakan kembali nama tanaman itu, teman saya memberi tahu dan mengatakan bahwa tanaman itu adalah U‘fa beng, lalu dia menunjukan tanaman tersebut.

Setelah melihat tanaman itu, saya tertawa. Saya mengatakan padanya bahwa tanaman ini bernama Porang. 

Terserah mau menyebut apa nama tanaman ini, yang jelasnya daun dari U’fa beng ini, dapat menyembuhkan kutu air. Ujarnya

***

Kita tentu sudah banyak tahu tentang  tanaman satu ini (porang).Tanaman yang  bermarga Amorphophallus Muelleri, termasuk jenis tanaman yang tumbuh liar. Tanaman ini, dapat tumbuh dimana saja. Hutan, kebun, dan Pekarangan rumah. Namun, biasanya porang, banyak tumbuh di musim penghujan.

Ciri-ciri nya, memiliki batang yang tegak, dan lunak. tekstur batang yang halus dan berwarna hijau belang-belang dengan bercak putih.

Namun, ada juga tanaman porang yang batangnya putih mulus, tak memiliki bercak.  Di daerah saya, orang-orang hanya tahu bahwa, yang bisa dimakan umbinya  tanaman porang yang berbatang putih, kalau yang berbatang hijau dan memiliki bercak, orang-orang tak memakannya, karena terasa gatal di lidah kalau di makan umbinya.

Anakan porang yang berbatang putih (Dokpri)
(Dokpri)

Sehingga waktu itu, tanaman porang yang berbatang hijau dengan bercak putih tak di anggap, di abaikan, bahkan dimusnahkan karena dianggap sebagai tanaman Pengganggu.

Kini, dengan banyaknya informasi dari media tentang tanaman porang. orang-orang sudah mengerti bahwa tanaman porang yang berbatang hijau dengan bercak putih juga memiliki manfaat. Bahkan dapat membuat orang jadi Miliarder

Sila baca disini:
https://www.google.com/amp/s/amp.kompas.com/money/read/2020/02/05/130900126/mengenal-porang-tanaman-yang-bikin-banyak-petani-jadi-miliarder

**

Nah,  berbicara tentang manfaat porang, kita kembali ke pembahasan awal tulisan tentang daun dari tanaman U’fa beng (porang) yang dapat menyembuhkan kutu air.

Awalnya ketika mendengar nama ufa’beng, saya sempat berpikir,  bagaimana sih, jenis tanaman itu, setelah di tunjuk oleh teman. Barulah saya teringat bahwa, saya pun pernah menggunakan daun ini sebagai obat untuk menyembuhkan kutu air yang saya alami.

Dulu, waktu masih kecil (sekitaran umur 9-10 Tahun), saya sering ikut kakek ke kebun untuk membabat, atau mencabut rumput pengganggu tanaman jagung. Karena tak memakai sandal, lalu masuk ke dalam kebun dengan tanah yang lembab, berair dan lumpur, akhirnya saya kena kutu air.

Awalnya saya bingung dengan penyakit aneh yang muncul di bawah jari-jari kaki saya, ketika saya menunjukan dan memperlihatkan ke kakek. Beliau mengatakan itu kutu air. Tiba-tiba, kakek beranjak/keluar sejenak, lalu muncul membawakan sebuah daun (yang akhirnya saya tahu dari teman saya kalau itu daun dari tanaman porang).  Dia menyuruh saya menghangatkan daun tersebut dengan cara dipanggang/diapikan agar daun itu layu. Ketika layu, daun tersebut akan mengeluarkan cairan. Kemudian daun tesebut di tempelkan di bagian jari-jari kaki yang ter-kena kutu air.

Saya tak menyangka kalau besoknya kutu air yang di kaki saya mengering dan terkelupas. Mulai menandakan kesembuhan. Tak berselang lama, Penyakit kutu air yang saya Alami, akhirnya sembuh.

Saya teringat ucapan kakek: Setiap penyakit pasti ada obatnya. Dan obat-obat itu, Tuhan telah menyediakan di Alam.

Dengan demikian selain umbinya yang banyak di cari untuk dijadikan/dipakai sebagai bahan baku kosmetik. Mungkin tak banyak dari kita yang tahu kalau daun dari tanaman porang pun dapat di gunakan sebagai obat penyembuh dari penyakit kutu air.

Saya kembali berharap semoga ada penelitian ilmiah yang di lakukan oleh pihak-pihak yang berkompeten seperti Farmasi, agar daun dari porang tersebut dapat di jadikan semacam obat tetes. Agar dapat bermanfaat bagi banyak orang.

Akhir kata: Sebagai salah satu negara yang kaya spesies tanaman obat, Indonesia semestinya bisa mandiri di bidang kesehatan dengan gencar melalukan penelitian terhadap tanaman obat yang tumbuh di sekitar kita.

Di Ujung Rotan ada Bui (penjara)

Sumber gambar: UtakAtikOtak.com

Pernah dengar kata-kata ” Di Ujung rotan ada emas”? Mungkin tak semua dari kita pernah mendengar kata-kata tersebut.

Kata tersebut merupakan sebuah pribahasa, seperti halnya, kata besar pasak dari pada tiang,  bagai air di daun talas, atau air beriak tanda tak dalam.

Saya tak begitu tahu awal mula kata di ujung rotan ada emas ini di gunakan. Melansir dari indonesiaunicef.blogspot.Com. “Di ujung rotan ada emas”. Merupakan pepatah umum yang digunakan di Papua.

Pepatah ini sangat populer di kalangan guru sekolah dasar di daerah-daerah pesisir seperti Makbon dan Sorong. Pepatah tersebut digunakan untuk membenarkan tindakan mereka dalam mendisiplinkan anak-anak dengan memukul mereka dengan sebuah tongkat.

Bukan hanya di Papua, kata-kata tersebut, dapat juga kita dengar di gunakan/ucapkan oleh guru-guru sekolah dasar, hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Entah sekarang kata itu masih di gunakan atau tidak. Kata tersebut, saya mendengarnya ketika waktu masih sekolah dasar(SD)dulu.

Ketika tak bisa menjawab soal yang di tanyakan, memanjangkan kuku di jari-jari tangan atau tak memasukan baju kedalam celana. Guru memukul kami dengan rotan lalu mengatakan “di ujung rotan ini ada emas”.

Awalnya saya tak mengerti maksud kata tersebut. Saya berpikir bahwa mana ada di ujung rotan itu ada emas. Yang ada malah sakit yang dirasa ketika di pukul dengan rotan.

Akan tetapi, Guru kami menjelaskan bahwa maksud dari kata di ujung rotan ada emas artinya dalam pukulan rotan itu terdapat kebaikan.

Ketika kami bandel dan di pukul, dalam pukulan itu ada kebaikan. Pukulan itu bukan berarti marah, tapi bentuk dari rasa sayang agar memperbaiki kelakuan menjadi lebih baik.

Waktu itu, saya hanya mengangguk-anguk  pertanda mengerti. Tak ada bantahan atau protes. Sebab. Saya beranggapan bahwa perkataan guru pasti benar, tak mungkin salah.

**

Benarkah kata di ujung rotan ada emas itu mengandung kebaikan?

Bisa iya. Bisa juga tidak. Mengapa?  Barangkali, bagi guru. Bisa Iya, karena mengaggap kata tersebut baik sebagai ungkapan didikan, agar anak tak nakal.

Kata-kata itu, pun di maklumi oleh orang-orang tua di zaman saya sekolah. Sehingga ketika ada anaknya di pukul dengan rotan oleh guru. Orang tua, akan berkata ke anaknya. Memang kamu nakal makanya di pukul oleh guru, kamu harus tahu, di ujung rotan gurumu itu ada emas.

Saya sempat bertanya kepada salah satu  orang tua. sebut saja namanya Indy (bukan nama sebenarnya) Apakah kata di ujung rotan ada emas yang dulu di ucapkan oleh guru sekolah, itu baik sebagai didikan untuk anak?  Dia menjawab  baik. Malah perlu, kata-kata itu di pakai oleh guru sebagai didikan.

Waktu saya sekolah, kata itu sering di ucapkan guru setelah memukul kami. Dan tak ada masalah dengan kami. Harusnya anak-anak sekolah sekarang pun di didik dengan kata-kata tersebut. Ujarnya

Dia melanjutkan. Sekarang, anak-anak terlalu dimanjakan. Makanya, mereka berani melawan, sampai-sampai ada yang memukul gurunya. Harusnya tak ada Undang- undang perlindungan anak. Dengan adanya Undang-undang itu, kelihatan anak-anak sekarang bertambah bandel. Guru pun sekarang tak bisa berbuat apa-apa. Kalau anak itu nakal dan guru memukulinya. Ia akan mengadu ke orang tuanya, lalu guru itu akan di laporkan ke polisi.

Namun, Ada juga orang tua yang mengatakan bahwa kata-kata itu, tak baik/ tidak tepat. Menurutnya kata itu, tak bisa diberlakukan Umum kepada setiap anak didik. Psikologi setiap anak tentu berbeda. Tak setiap anak dapat memahami dan mengerti kata-kata tersebut. Apalagi di usia sekitaran enam sampai sepuluh tahun.

Dia melanjutkan. Penjelasan bahwa dalam pukulan terdapat rasa sayang. Tak semua semua anak mengerti itu. Yang anak-anak tahu, bahwa  pukulan itu menandakan ia bandel, bodoh atau nakal. Sehingga berdampak pada psikologi mereka.

Jadi sebaiknya kata-kata tersebut dihilangkan. Kalau itu masih di ucapkan, saya khawatir bukan lagi “di ujung rotan ada emas”.  Tapi “di ujung rotan ada Bui (penjara)”. Pungkasnya.

Terlepasnya dari baik dan buruk kata-kata itu. Saya berterima kasih atas pelajaran berharga yang telah di ajarkan Guru-guru saya. Saya pribadi menganggap baik kata yang di ucapkan guru saya.  Dengan pukulan sayang dan pelukan hangat. Saya sekarang mengerti bahwa untuk menjadi seorang guru tidaklah mudah. 

Selamat Hari Guru 2020

Permainan Pemanggilan “Mau’bae” Yang kini telah Hilang

Sumber gambar:Wikipedia

Mau’ bae mau’ e. Nasi komba, nasi e. Mau’ lele mau’ e. Mo do’pa kedong-kedong.

Dia sudah sampai di rumahnya si A. Ayo nyanyi lagi, supaya dia segera datang. Pejamkan mata, dia sudah didekat rumah, kayaknya sudah di tempat itu.

Sttt..  Jangan bersuara, diam-diam. Barangkali, tempat dari kaleng yang diisi abu dan ditancapkan lidi (tulang/nyiur dari daun kelapa) itu sudah didatangi, lalu dicabut lidinya, tempatnya pasti sudah dibawa pergi.

***

Nyanyian di atas merupakan sebuah nyanyian pemanggil hantu, tepatnya hantu Mau’bae.

Mungkin terdengar seram, “Nyanyian pemanggilan hantu”. Namun, nyanyian itu, merupakan sebuah permainan pemanggilan hantu yang dulu biasa dilakukan anak-anak di daerah saya.

Saya tak tahu bagaimana ciri-ciri Mau’bae. Namanya juga hantu, bagaimana mau diketahui bentuknya, kecuali Kuntilanak, Sundal Bolong. Ya, karena hantu tersebut bisa ditemukan di layar kaca.

Semasa kecil, saya sering melakukan permainan itu bersama teman-teman. Saya tak tahu sejak kapan permainan itu dilakukan, saya  mengetahui permainan itu dari kakak- kakak di kampung.

Tatkala mereka mau melakukan permainan itu, saya diajak.  Awalnya saya ketakutan mendengar nama Mau’bae, saya membayangkan hantu itu akan membawa pergi anak-anak. Akan tetapi, ada teman yang memberitahu bahwa kalau menutup mata, hantu itu tak menggangu. Dia hanya mencari barang yang kita simpan lalu mengambil anak lidi, membawa pergi kaleng berisi abu dan lidi yang kita simpan.

Saya benar-benar ketakutan waktu pertama kali melakukan permainan itu.  Saya sempat berpikir kembali, mengapa saya mau melakukan permainan itu, padahal saya takut?  Barangkali karena ada keseruan, dan juga kesenangan yang bercampur dalam rasa takut sehingga membuat saya mau melakukan permainan itu.

**

Syahdan, cara melakukan permainan tersebut, mula-mula kami menyiapkan kaleng, atau tempat yang bisa diisi Abu. Biasanya abu yang digunakan adalah abu dari pembakaran kayu. Nah abu yang sudah diisi di dalam kaleng tersebut, kemudian ditancapkan lidi yang telah kami potong sekitaran 5cm, lalu kaleng yang berisi abu dan lidi itu disimpan di hutan yang tak jauh dari rumah.

Setelah itu, kami masuk ke dalam rumah, kemudian mulai menyanyikan lagu pemanggilan hantu Mau’bae.  Lucunya, lagu yang kami nyanyikan, kami pun tak tahu arti dari lagu tersebut. Kami hanya mendengarnya, lalu menghafalnya. Mungkin lagu tersebut merupakan mantra atau kata/bahasa mistik.

Kami percaya bahwa dengan menyanyikan mantra tersebut, Mau’bae akan datang. Kami menyanyikannya berulang-ulang kali.  Dalam satu kali nyanyian, kami mengatakan dia sudah sampai ke rumah tetangga si A. Begitu seterusnya sampai ke tempat kami.

Setelah selesai menyanyikan lagu itu, selang berapa menit, kami pergi dan melihat barang yang tadi kami simpan. Apakah telah diambil oleh Mau’bae atau hanya mengambil lidi dan membuang isi dalam kaleng tersebut.

Tatkala kami melihat tempat yang kami simpan berisi abu dan lidi itu dibuang atau hilang sebagian lidinya. Kami berpikir bahwa pasti Mau’bae  yang melakukan. Sebab, waktu menyimpan barang tersebut, takada orang lain yang melihat, kecuali kami.  Kami tak berpikir bahwa mungkin yang melakukan itu binatang  seperi ayam, tikus, yang kebetulan lewat lalu merusak barang-barang itu. Dalam kepala kami, pasti ulahnya Mau’bae.

Ketika menemukan/melihat tempat berupa kaleng yang berisi abu dan lidi itu berantakan, tertumpah, bergeser dari tempatnya, bukan takut yang kami rasa, tapi gembira. Mengapa? Ya, karena kami telah berhasil memanggil Mau’bae.

Permainan Mau’bae seperti ada kemiripan dengan permainan Jailangkung, dalam pemanggilan harus dinyanyikan. Akan tetapi dalam prakteknya permainan Mau’bae dan Jailangkung sangat berbeda.

Sayangnya kini permainan itu tak lagi dimainkan anak-anak di kampung saya. Barangkali seiring perkembangan zaman, permainan tersebut sudah tak menarik lagi.

Anak-anak sekarang lebih senang dengan permainan modern seperti Game PUBG, Free Fire, dan permainan modern lainnya, sehingga permainan Mau’bae akhirnya tak dimainkan lagi.

Padahal, dalam permainan tersebut menurut saya, lebih alami/natural. Anak-anak langsung merasakan bagaimana ketakutan, kesenangan/kegembiraan.

Terlebih lagi, permainan tersebut membuat anak menjadi kreatif. Sebab, anak-anak akan mencari , membuat, menemukan sendiri barang-barang disekitar. Dan lagi, dalam permainan  itu, anak-anak akan  lebih mudah melepaskan emosinya, berteriak, tertawa dan bergerak dan lain sebagainya. Yang tentu dengan hal semacam itu akan membentuk kecerdasan emosian anak.

Sebuah Pelajaran Berharga dari Kata “Nasi Menangis”

Sumber gambar: kompas.com

Jangan disisakan nasi itu, harus dimakan sampai habis. kalau makan, jangan buru-buru, Pelan-pelan saja, tuh, sebagian nasi itu tertinggal, ada yang jatuh ke lantai.

Kasian nasinya, harusnya ia ikut bersama teman-temannya. Akan tetapi karena kamu buru-buru memakannya, biji nasi yang lain ketinggalan. Kenapa dibiarkan? kalau makan, jangan dibiarkan satu biji nasi tertinggal di piring atau jatuh ke lantai. Kamu tahu, kalau nasi itu tak dimakan sampai habis, atau sebagian nasi itu tertinggal, nasi itu akan menangis.

Kata-kata itu terekam baik dalam ingatan. Saya percaya bahwa makanan yang tak dimakan sampai habis atau disisakan, makanan itu akan menangis.

Mungkin terdengar aneh, “nasi menangis”. Kata-kata tersebut  mirip kata-kata kiasan. Seperti, kepala batu, buah tangan, buah bibir.

Walupun seperti ada kemiripan. Namun, kata nasi menangis, saya tak temukan dalam kamus bentuk-bentuk kata kiasan. Barangkali  “nasi menangis” digunakan sebagai kata atau bahasa perumpamaan yang di ujukan kepada sesuatu benda, sama halnya dengan manusia, yang apabila diperlakukan dengan buruk atau semena-mena, ia pun akan menangis.

Kata tentang  nasi menangis yang saya dengar dari nenek sewaktu kecil itu, memberi pelajar berharga bagi saya. Kata-kata itu pun seperti membentuk karakter diri saya hingga sekarang (dewasa).

Sehingga ketika makan, misalkan, saya selalu perhatikan nasi itu, saya takut kalau ada sebagian yang tertinggal di piring. Kalaupun ada yang tertinggal, saya pasti ambil dan memakannya, walaupun hanya sebiji nasi.

Hal yang sama juga saya lakukan pada makanan yang lain. Apapun makanan yang saya makan, saya perhatikan, agar tak jatuh atau tertinggal.

Pernah suatu ketika, ada teman melihat saya mengambil makanan snack (makanan ringan) yang jatuh ke lantai, lalu memakannya.

Temanku menegur, “Kenapa mengambilnya, itu kan, sudah kotor?”

Saya hanya menjawab singkat.  “Kan belum lima menit jatuhnya,  Hehe.. “

Saya tak menjelaskan ke teman, mengapa saya mengambil makanan ketika jatuh ke lantai. Saya pikir, walaupun saya menjelaskannya, pasti temanku hanya tertawa. Kalaupun saya jelaskan, mungkin temanku akan berkata

“Mana ada nasi/makanan yang menangis.”

***

Bagi saya, kata-kata dari nenek saya tentang nasi yang menangis merupakan bahasa/kata yang sarat makna. Kata-kata itu mengajarkan saya tentang rasa syukur terhadap makanan, ketika mendapat makanan, atau sedang menikmati makanan.


Saya selalu menanamkan kata-kata itu dalam diri saya. Mengapa? Sebab, tidak semua orang bisa mendapat makan seperti saya. Jadi kalau memakan, jangan buang-buang makanan, atau sisakan.

Di luar sana, untuk makan atau mendapatkan makan saja, susahnya minta ampun. Saya pernah melihat seorang pemulung yang mengambil makan di tempat sampah, sisa makanan yang dibuang orang. Hatiku terasa begitu sakit.

Pemandangan itu seolah menampar dan memberi pelajaran kepada saya agar tak menyia-nyiakan makanan dan jangan menganggap remeh makanan,  dengan mudahnya membuangnya ketika tak dibutuhkan.

Kalau mau jujur, banyak dari kita yang suka menyia-nyiakan atau menyisakan makanan. Coba saja Anda perhatian orang-orang yang makan di warung makan. Sebagian dari kita ketika makan, saya perhatikan tak menghabiskan makanannya, tetapi menyisakan makanan dalam piring, entah sudah kenyang atau sengaja membiarkan.

Ketika beranjak, saya perhatikan pelayanan yang merapikan/membereskan bekas tempat makan itu, terlihat menggeleng-geleng melihat sisa makanan yang tidak dimakan.

Maka dari itu, apapun makanan yang saya makan selalu saya habisi. Tak memberi sisa. Kecuali saya memberikan kepada kucing yang melintas, atau semut yang  mungkin menginginkan sebiji nasi tersebut.

Kata-kata tentang nasi yang menangis  memberi saya pelajaran berharga tentang menghargai makanan, bersyukur terhadap apa yang didapat dan makan. Jangan menyia-nyiakan makan. Kalau belum lapar jangan makan, agar tak menyisakan makanan.

Dari kata nasi menangis, saya pun mendapatkan sebuah pencerahan tentang berkah dari makanan yang kita makan, walupun hanya sebutir atau sebiji makanan.

Saya meyakini bahwa dalam makanan itu ada berkah tuhan, sehingga ketika makan, misalnya, saya takakan menyisakan sebutir pun. Sebab, saya berpikir bahwa ketika saya sisakan, barangkali pada satu butir nasi yang tersisa inilah terdapat berkah Tuhan.

Dengan demikian, bagi saya, perlakuan kita terhadap sesuatu adalah buah dari pengetahuan. Maksudnya, apapun  yang kita lakukan dan perbuat di alam/lingkungan sekitar adalah cerminan dari pengetahuan kita.

Pengetahuan itu datangnya bukan hanya di bangku sekolah atau kuliah, tetapi juga pengetahuan berupa pengalaman hidup yang kadang diucapkan menggunakan bahasa perumpamaan seperti halnya  nasi menangis.

Saya pikir kata-kata dari nenek saya tentang nasi yang menangis itu, merupakan kata/bahasa yang baik  untuk diingatkan kepada anak-anak kita, agar menjadi pelajaran bagi anak-anak tentang pentingnya rasa syukur terhadap apa yang didapat dan dimakan.

Akhir kata. saya teringat kata Tecumseh yang bagus di jadikan renungan.

When you rise in the morning, give thanks for the light, for your life, for your strength. Give thanks for your food and for the joy of living. If you see no reason to give thanks, the fault lies in yourself.” –

(Saat bangun di pagi hari, bersyukurlah atas cahaya, hidupmu, dan untuk kekuatanmu. Bersyukurlah atas makananmu dan untuk kesenangan hidup. Jika kamu tidak melihat alasan untuk bersyukur, kesalahan terletak pada dirimu sendiri)

Pilpres Amerika Rasa Indonesia dan Komentar Lucu Natizen

Sumber: twitter

Matahari pagi perlahan- lahan menampakan wujudnya. Sinarnya menembus kaca jendela kamar , membangunkan ku dari mimpi yang tak jelas arti.

Dengan mata yang masih kabur tertutup tahi mata, Ku ulur  tanganku, mencari-cari HandPhone. 

Ha. Sudah Jam 7.  Ku perhatikan handphone.  Tak segera bangun dari ranjang tidur. Aku masih melihat-lihat handphone, mencari tahu kabar berita pagi yang selalu menghiasi dinding  di Media sosial.

***

Yang menjadi perhatian saya ketika membaca-baca berita di media sosial adalah Pemilu AS. 

Bagaimana tidak? Di jagat media sosial mulai dari FB, IG dan Twitter Kita di suguhkan tentang bermacam-macam pendapat dan juga analisa mengenai hasil dari pemilu AS.

Pemilu di Negeri Paman Sam itu seperti magnet yang menarik seluruh mata dunia tertuju padanya. Hasil dari pemilu tersebut dan siapakah yang menjadi pemenang dari pemilu menjadi hal yang dinanti-nantikan, bukan hanya warga negara Amerika, tetapi juga seluruh Negara di dunia. Seakan-akan dunia sedang menunggu seorang Ratu Adil (sang penyelamatan).

Donal Trump dari partai Republik dan Joe Biden dari Partai Demokrat maju sebagai kandidat  untuk merebutkan kursi Presiden Amerika.

Donald trump sendiri,  sebelumnya menjadi pemenang di pemilu Amerika tahun lalu. Akan tetapi, di tahun ini Trump kembali maju untuk mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika. .

Nah, Kalau kita amati pemilu AS, ada kemiripannya dari pemilu AS dan Pemilu yang terjadi di Indonesia. Kemiripan  yang saya maksud adalah saling mengklaim kemenangan.

Dilansir dari Kompas.Com. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim dirinya menang besar di Pemilihan Presiden Amerika Serikat.

“Saya akan menyampaikan pernyataan malam ini. Kemenangan besar!” tulis Donald Trump di akun Twitternya, Rabu (4/11/2020).

Begitu pun dengan Joe Biden. Dia berbicara dengan pendukungnya pada Rabu pagi di Delaware, mengatakan kepada mereka bahwa “kami yakin kami berada di jalur yang tepat untuk memenangi pemilihan ini.”

Jaga keyakinan kalian, kami akan memenangi ini,” kata Biden

Namun, Menurut proyeksi CNN pada pukul 10.23 ET (22.23 WIB), Biden memenangi suara elektoral sementara dengan perolehan angka 224 dan Trump 213.

***

Saya tak begitu tertarik menganalisa dampak dari kemenangan calon presiden Amerika tersebut.  Ketertarikan saya membaca berita tenang pemilu AS, sampai-sampai belum beranjak dari tempat tidur dikarenakan saya menemukan tulisan yang bagi saya menarik dan menghibur.

Tulisan mengenai PILPRES AS. Tulis itu ditulis oleh yusran darmawan seorang Kompasiner yang mungkin sekarang tidak aktif lagi menulis di Kompasiana.

Bagi saya Tulisan yusran darmawan itu merupakan satire  yang mengelitik dan menghibur.

Begini tulisannya:

Ternyata bukan cuma warga +62 yang menyebut pilpres Amerika rasa Indonesia. Bahkan warga Amerika Serikat pun menyebutnya demikian.

Di lini masa twitter, saya temukan komentar dari David Lipson, pimred ABC News yang menyebut pilpres Amrik rasa Indonesia. Postingannya dibalas Ross Tapsell, profesor media dari Australia National University yang menambahkan Trump akan segera jadi Secretary of Defense atau Menhan.

Saat ini kedua pihak saling klaim kemenangan. Trump pidato dengan berapi-api menyebut dirinya menang besar atau “a big win”. Andai dia mualaf, pasti sudah sujud syukur. Nanti akan berlanjut ke MA. Semoga sidangnya live biar kita lihat saksi2 lucu.

But, jangan khawatir. Pihak yang kalah, entah Trump atau Joe Biden, akan jadi Menhan, lalu Mark Zuckerberg akan jadi Menteri Pendidikan. Setelah itu, para relawan Pro-Joe akan segera berebut jadi komisaris BUMN.

Pendukung Trump akan jadi barisan sakit hati lalu mendirikan “US”, yang diterjemahkan sebagai KAMI. Setahun kemudian, anak dan menantu Joe akan mendaftar jadi Walikota Michigan dan Ohio. Saat ada pandemi, Menkes-nya Joe akan berkata, “Ah, nanti juga sembuh sendiri kok.”

Gaess… Kali ini, kita yang menginspirasi Amerika.

Bukan hanya itu saja, yang membuat saya makin bertambah lucu adalah. Saya mendapatkan Komentar salah satu natizen Indonesia, pada dinding  Twitter dari Calon presiden Joe Biden dan Donal Trump.

Entah benar mau menjual satenya atau sekedar menulis aja.  

Akun dengan nama Sate kambing tong-tong itu menulis: sambil menunggu hasil, permisi numpang jualan om.  Sate dan Sop kambing pemesanan DM. 

Sumber:Twitter
Sumber: Twitter

Dari satire dan juga kemonter di atas. Saya membayangkan seandainya Trump dan Biden membaca tulisan itu. Saya yakin klaim kemenangan dan juga ketegangan akan penantian hasil Pemilu akan sedikit mereda.

Begitu juga dengan warga negara amerika. Kalau bercermin pada pemilu Indonesia  seharusnya para pendukung dari masing-masing presiden tak harus bertengkar tentang siapa yang akan terpilih.

Toh, kalau Trump dan Biden berkaca pada pemilu Indonesia. Dan itu di jadikan pelajaran. Tentu tak akan terdengar kubu partai tuhan dan partai setan seperti halnya yang terjadi di Indonesia.

Apalagi sampai membawa-bawa nama binatang seperti kampret dan juga cebong.

Misalkan, jika di antaranya ada yang kalah. Tinggal berikan aja yang kalah jabatan menteri. Dengan cara itu Semua akan berakhir dengan bahagia / happy anding.

Sehingga tak ada demo menganulir kemenangan salah satu calon.

Akhir kata. Bagi saya siapapun presiden Amerika semuanya akan terasa sama Saja. Hehe