Tentang Cinta

Cinta bukan sekadar pertemuan Tubuh atau ketertarikan fisik, cinta malampaui segala ekspekstasi tentang tubuh. Cinta melampaui jarak, gender, ras, suku, Bahasa. Takada semua atribut itu dalam Cinta.

Dalam Cinta, hati saling terpaut.
Pertautan hati yang dimaksud adalah pertautan  rohani atau pertalian jiwa.

Kata pujangga “seperti apa yg di cinta, seperti itulah pecinta.  mencintai adalah menjadi dia yg dicintai.

Dengan cinta segalanya bermula, dengan cinta pula segalanya kembali.
Dengan cinta segala rindu diobati. Dengan cinta kita di kumpul dengan yg kita cintai.

Teringat sebuah riwayat: Dalam sebuah majelis Rasulullah, Ada seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah, wahai Rasulullah, kapan datangnya Hari kiamat.?  Rasul melihat ke arahnya, Rasul tak langsung menjawab, namun rasul bertanya balik kepada sahabat itu, apa yg sudah kau persiapkan ketika datangnya hari kiamat? Ia terkejut dan tertunduk  lesu, selang beberapa menit, dengan suara yg menahan tangis, ia kemudian menjawab, saya tak mempunyai Amal yg banyak,  tapi saya mencintai mu dan keluarga mu ya Rasulullah?  Lalu Rasulullah berkata: “kau akan bersama dengan Orang yg kau Cintai”.

Dengan Cinta pula, seekor burung Hud-hud rela menerobos kobaran api demi menyelamatkan kekasihnya.

Ketika Nabi ibarahim di bakar, terlihat seekor burung hud hud yang sibuk terbang kesana kemari mencari air.

Ketika dia menemukan sumber air, dengan paruhnya yang kecil, dia membawa air dan menyiramkan keatas api yang berkobar membakar Nabi Ibrahim shallallahu ‘alaihi wasallam.

Burung lain terheran-heran dan mempertanyakan bagaimana mungkin air itu mampu memadamkan api tersebut?

Burung hud hud menjawab, “Aku tahu air ini takkan mampu memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim shallallahu ‘alaihi wasallam tapi aku tak peduli. Yang penting aku telah berusaha sekuat tenaga menolong orang yang kucitai.

Karena Cinta Imam Ali rela mengganti berbaring di tempat pembaringan Nabi, ketika Nabi hendak di bunuh.

Karena Cinta Al_Hur berpaling dari kelompoknya ketika di utus untuk membunuh Imam Husain.

Karena cinta laron rela terbakar dalam cahaya Api. Karena cinta semut rela cebur lebur dalam laguna Madu.

Karena cinta  Rumi merintih dalam syairnya:
Oh, Tuhanku. Mati untuk bersatu dengan-Mu adalah harapan yang manis. Tapi hidup dalam kepahitan terpisah dari-Mu adalah hangus dilalap api.”

Dengan Cinta Imam Ali berkata:

Surga tanpa CintaMu adalah Neraka bagiku.
Neraka dengan CintaMu adalah Surga Bagiku.

Wahai Tuhanku seandainya Engkau memasukan aku kedalam Neraka, akan aku sampaikan kepada penghuninya bahwa Aku mencintaiMu

AKU TERUS MENCARI

Ku bertanya pada diriku.
Dimanakah dirimu?
Lalu suara itu terdengar dari diriku. “Aku ADA”

Aku tak puas Hanya mendengarkan  suaraMu.
Aku ingin menyaksikan mu.
Tunjukkan dirimu..?

Aku mencari Mu di rumah-rumah  yg menyebut namamu. Tapi aku tak dapat menyaksikan mu. Yg terdengar hanyalah suara²  yg menyebut namamu dengan berbagai macam sebutan.

Aku Memasuki keheningan.  Dan ku dengar;  Suara dari diriku berbicara

Suara itu lalu berkata:
Aku selalu menemuimu dalam  wajah murung  anak² yatim yg kau temui.
Aku selalu menemui mu dalam tatapan penjual tua di pinggiran jalan.
Aku selalu menemuimu dalam senyuman ibu.
Aku selalu menatapmu di setiap pemberhentianmu  di lampu merah.

Aku terus saja menunjukan diriku dan memperhatikan mu.

Lantas mengapa kau berpaling dariku?

RASA KOPI

Ketika sedang menikmati kopi,  Ada seorang teman datang menghampiri, lalu duduk di samping, dekat dengan ku. ia melihat kopi yg sedang ku minum,  lalu  berkata: berhentilah meminum kopi, jangan  keterusan meminum kopi, tak baik  untuk kesehatan?

Aku melihat kearahnya, kamu  pernah meminum kopi? Ia, terdiam, mungkin lagi mengingat-ingat, Pernah, ia menjawab. 
Aku pernah meminumnya, tapi tak enak. Aku lebih memilih teh, atau susu. Manis, tidak seperti kopi, pahit.

Aku heran kamu bisa menyukai kopi yang rasanya pahit. Untuk menyentuh lidahku pun rasanya lidahku ingin berteriak ” Minuman apa ini, aku ingin yg manis-manis”.  Kenapa harus pahit? Katanya.

Aku tersenyum, aku berkata padanya: “Cobalah untuk meminumnya tidak hanya sekali, tapi berkali-kali, kopi itu akan terasa manis”.

Ah.. Mana ada sesuatu yang pahit bisa berubah manis kalo di minum berkali- kali, ada- ada aja, sanggahnya.

Kopi akan terasa manis kalo kamu terbiasa, mungkin kamu belum terbiasa aja, kataku.

Berkali-kali pun ia tak akan manis, hahaha.  Sudahlah tinggalkan kopi itu, minumlah susu, teh atau apapun yang manis-manis?

Saya sudah manis, selaku. Untuk apa menambah lagi manis ku. Dengan meminum yang manis-manis, kalo bukan kelebihan manis, aku bisa terkena gula, lalu dikerumuni semut. (Ia tertawa terbahak-bahak, aku pun ikut tertawa).

Dalam hal minuman,  aku tidak  menyukai  minuman yang terlalu manis, itulah mengapa saya menyukai kopi yang pahit. kalau misalkan ditambah gula, tidak cukup setengah sendok.

Konon katanya, seorang  pecandu kopi lebih menyukai kopi hitam tanpa gula. Entah itu benar atau tidak. Aku sendiri yang penyuka kopi, harus menambah sedikit gula di dalam kopi ku.

Menurut ku, kopi yang seimbang itu, tidak hanya didominasi oleh rasa pahit, tapi ada juga manisnya. Sehingga terjadi keseimbangan. Kalau  diumpamakan wanita:  kulitnya hitam, tapi ia manis, kelihatan elegan, tapi sederhana.

Selama ini kulihat kamu hanya meminum kopi hitam, kan masih ada kopi dengan berbagai rasa dan warna?  Ia bertanya.

Kopi hitam lebih nikmat, Jawabku.

Bagi orang yang tidak menyukai kopi, mereka mengatakan kopi hitam itu terlihat kotor, apalagi kopi hitam yang diracik secara tradisional. Kata mereka banyak ampasnya, meninggalkan bekas hitam di mulut dan bibir kalau meminumnya.

Menurut ku, mereka tidak tahu tentang kopi. Mereka itu lucu, mereka selalu menilai penampilan dari sesuatu. Anehnya, kebanyakan dari mereka ketika disugukan kopi dengan racikan berbagai rasa (Espresso. Ristretto. Lungo. Doppio. Americano. Latte. Cappucino) mereka meminumnya. Mungkin mereka hanya tak menyukai kopi hitam.

Mereka tidak tahu kalau kopi yang terlihat hitam dan kotor, dibaliknya ada keindahan rasa. Hitam tidak selalu identik dengan kekotoran,  hitam juga melambangkan kedalaman, penuh misteri. Perpaduan hitam yg pahit dengan rasa yg sedikit manis, memberi pesan bahwa; hidup tidak selalu tentang yg indah-indah, Sehat atau senang. Akan tetapi ada jug derita dan Kesedihan.

Dengan memahami derita, kesedihan, mungkin kita akan lebih bersyukur ketika mendapatkan kebahagiaan atau kesenangan. Itulah filosofi tentang hitam dan manis dari kopi, itu hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang benar-benar penikmat kopi/pecinta kopi.

Kamu tahu, mengapa kopi hitam itu istimewa?

Karena rasanya “Kekal”, sudah lebih dari ribuan tahun orang-orang meminumnya tapi tidak pernah bosan dengan rasanya. Ada yang mencapai usia ratusan tahun tapi masih meminum kopi, bahkan  para sufi meminumnya sebagai perantara mereka dengan Tuhan. 
(Ia terlihat serius dalam mendengarkan). 

Sudahlah, coba rasakan dulu kopi hitamku ini? Kataku!

Nanti dulu, lanjutkan penjelasannya, desaknya! 

Bagaimana saya mau lanjutkan, kalo kamu sendiri bukan penyuka kopi. Kecuali ketika kamu sudah menjadi penikmat kopi, akan saya ceritakan lagi rahasianya. Akan tetapi kayaknya kalo kamu sudah menjadi pecinta kopi, mungkin kamu  lebih banyak mengetahui rahasia kopi yg belum saya ketahui, Ia terdiam.

Tiba-tiba ia berkata:
Baiklah mulai dari sekarang aku akan coba menyukai kopi, sini kopi mu aku minum, ia pun langsung meminumnya sampai habis.

Ah..kenapa diakhir rasa kopi ini bukan manis, tapi pahit dan sepat, seperti menusuk-nusuk tenggorokan. Katanya  keindahan
tersembunyi  di baliknya? Pehh.. Malah pahit yg terus aku rasa.

Saya tertawa; ya karena kamu  meminum juga ampasnya.