
Apa yang aku cari?
Serasa semuanya berjalan begitu cepat, hari berganti hari, bulan berganti, tahun berganti, dan aku masih tetap begini?
Apa yang aku cari untuk mengisi kebutuhan hatiku belum juga aku temukan. Kegelisahan, aku bungkus dengan senyuman, ketaktenangan aku tutup dengan tertawa yang keras. Aku marah. Namun kusadari itu semuanya kembali kepadaku. Semakin aku marah, semakin menambah kekosongan hati. Aku terus berpikir keras, sebenarnya apa yang ingin aku cari dan aku temukan?
Aku terdiam sejenak. Meneguk kopiku, Menghirup nafas dalam-dalam, mencoba merenungi setiap hal yang terjadi.
Aku amati hujan, aku perhatikan, hujan yang deras akhirnya berhenti, pun dengan malam yang gelap akan berganti cerah pagi.
Ada senang, ada sedih, ada sakit, ada sembuh. Semuanya tercipta berpasang-pasang, seolah menuntun kita untuk memahami, mengambil pelajaran bahwa semua yang terjadi punya arti dan tujuan.
Semesta seperi berbicara:
Mengapa kita “Ada”?
untuk apa kita “Ada”?
Lalu kemana kah kita setelah “Tiada”?
Kehidupan ini bagaikan pelayar yang berlayar di tengah lautan. Terkadang badai datang menghatam, gelombang besar menghadang, menguji seberapa tanggung pelayar mengarungi lautan.
Pelayar yang tanggung akan terus Bertahan menghadapi badai dan gombang hingga menemukan tujuan akhir dari pelayaran.
Sama halnya, sebuah seleksi yang dibuat semesta untuk menguji daya tahan, semangat, emosi, kesabaran dan ikhtiar, yang dengan itu kemudian akan diketahui siapa benar-benar bertahan dalam mengarungi lautan kehidupan. Apakah kita memilih menyerah, atau tetap melanjutkan perjalanan.
Pelayar sejati bukanlah pelayar yang hanya menyandarkan kapalnya di tepian, tetapi membawa kapalnya mengarungi lautan, bertarung menaklukan ganasnya gelombang untuk menemukan arti sejati sebagai seorang pelayar.
Sepert Ungkapan para pelayar Ulung:
Laut yang tenang tidak akan membuat pelaut handal.
Begitu pun kehidupan, segala macam persoalan, cobaan yang datang, menguji seberapa kuat diri kita mengarungi hidup, mencari arti mengapa kita ada di dunia ini, untuk apa, dan mau kemanakah kita, dan akan kembali kemana?
Hanya orang-orang mengerti dan memahami yang akan menerima setiap hal yang di dapatkannya dengan rasa syukur, baik itu senang maupun susah.
Hingga tiba masa dipanggil oleh Sang Pemilik Hidup:
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya!
Tiba-tiba aku tersadar bahwa kopi yang aku minum tinggal ampas.