Cerpen: Surga dan Neraka

Pelan-pelan kita akan menua dan mati, gumamnya, sambil mengisap rokok dalam-dalam orang tua itu berkata:
Banyak larangan yang dibuat agama, yang enak-enak malah dilarang. Nanti di surga baru kita dapat menikmati segala hal yang menyenangkan. 

Hmm, ia menghela nafas, itu pun kalau benar, surga adalah tempat untuk kesenangan. Siapa yang menjamin itu? 

Saya rasa kesenangan juga bisa didapatkan dalam neraka. Banyak artis bisa kita jumpai di sana. Senyumnya mengembang.

Aku hanya diam, mendengarkan. Orang tua itu, lalu melanjutkan. 

Kamu tahu kenapa saya mengatakan artis-artis banyak kita jumpai di neraka? 

Ya, Karena kriteria untuk masuk ke surga untuk agama samawi itu sangat ketat. Akan tetapi yang membuat saya bingung adalah, tiap-tiap agama menentukan kriteria masing-masing untuk pengikutnya agar dapat memasuki surga. Dan syarat utama agar masuk surga adalah dengan mengikuti perintah Tuhan dan menjauhi larangannya. 

Namun saya mempunyai pandangan yang berbeda tentang Neraka.  

Berbeda bagaimana? Tanyaku penasaran.

Kamu pernah membaca bukunya George Minos tentang sejarah neraka? 

Belum, Jawabku. 

Orang tua itu melanjutkan, dalam buku itu dijelaskan bahwa pemahaman tentang neraka ternyata sudah muncul sejak zaman kuno. Menariknya lagi, buku itu juga menjelaskan  adanya pergeseran makna neraka dari masa ke masa. 

Pada mulanya, neraka dimaknai sebagai tempat peristirahatan terakhir yang dituju orang yang sudah mati, khususnya kalangan pembesar dan pahlawan. Namun, seiring berkembangnya zaman terutama sejak munculnya ajaran agama samawi, neraka akhirnya dipahami sebagai tempat siksaan bagi para pendosa.

Nah, dari itu, saya beranggapan bahwa neraka tergantung persepsi kita. Neraka bisa jadi taman  bunga, surga bisa jadi taman berduri. Tinggal  bagaimana kita mengubah mindset kita. Selama ini kan kita mendengar bahwa neraka itu tempat para pendosa. 

Cobalah sekali-kali kita membayangkan bahwa neraka adalah tempat kita bertemu artis idola kita, Lalu di situ kita berpesta dan bernyanyi bersama para artis, Ucapnya sambil tertawa keras.

Ia lalu menatapku tajam lalu bertanya: Kalau kamu bagaimana pendapatmu tentang neraka?

Kalau aku sih, tak terlalu memikirkan itu, sebab, aku belum ke sana dan tak mengetahui kondisi neraka atau pun surga. Apakah di sana ada penyiksaan ataukah ada kesenangan. Bagaimana kalau surga dan neraka itu takada? 

Namun, terkadang aku membayangkan surga itu tempat di mana sesuatu yang kita senangi di dunia ini akan terwujud di sana. Misalnya seorang pecinta games, mungkin surga untuknya adalah tempat berkumpulnya para pecinta games. Kalau pecinta alkohol, ya pasti di kumpulkan bersama teman sesama pecinta alkohol. Untuk pecinta buku, mungkin surganya adalah perpustakaan.


Jadi menurut aku, takada neraka, yang ada adalah surga, artinya setiap hal yang kita kerjakan, senangi di dunia, itulah yang akan kita tuai nanti di akhirat. Jadi apapun yang kita dapat kelak, itulah surga kita.

Singkatnya, Itu terbentuk dari kecintaan kita terhadap apa yang kita lakukan di dunia, sehingga membentuk surga kita nantinya. 

Orang tua itu  hanya tertawa, lalu mengangguk-angguk dan berkata: semoga demikian.

Mati: Bukanlah sebuah akhir kehidupan

Kita tahu, Kematian itu adalah hal yang pasti. Manusia, hewan, tumbuhan. Setiap yang hidup pasti akan mengalami kematian. Tapi, tidak semua dari kita mempunyai perspektif yang sama dalam memahami kematian. 

Kendati  banyak perpektif yang beragam dalam memahami kematian. Pada dasarnya secara psikis kita terpengaruh ketika mendengar kata “kematian”.

Apakah terasa sakit? ketika tubuh kita didalam liang kubur, apa yang akan terjadi?  
Bayangan tentang   kematian, membuat kita termenung. 

Dalam tulisannya “Tentang kematian”. Reza A.A Wattimena    Mengutip perkataan
Budi Hardiman bahwa : “Yang menakutkan bukanlah kematian, melainkan mati, yakni proses menuju kematian”.

Kalau kita mencoba Mensharsing informasi di Google, kita akan menemukan bahwa. “Mati” adalah hal yang paling menakutkan.  Orang-orang  banyak berupaya mencari cara, tips, agar ingatan atau apapun tentang kematian hilang dari benaknya. 

Umberto Eco (kritikus sastra Italia, novelis, dan semiotic terkenal) Pernah berkata bahwa:
Apa yang dipikirkan manusia ketika memperhatikan langit? Dia pikir, lidahnya tak bisa melafalkan kata apapun tentang apa yang dilihatnya. Langit adalah pemandangan tanpa batas; sedangkan kita memiliki batas — batas yang membuat jeri dan ngeri: yakni ajal, kematian. Itulah mengapa kita cenderung menyukai segala hal yang tak memiliki batas dan, karena itu, tak memiliki akhir. Itulah pula cara kita menghindari berpikir tentang kematian. Kita ingin memiliki banyak hal tanpa batas, karena kita tak ingin mati.”  

Walaupun kita menghindari berpikir tentang kematian.  Kematian akan selalu membayangi. Kematian bagaikan  “ANGEL OF DEATH”.  Dengan parang sabitnya, selalu mengikuti dimana saja kita pergi . Ia bisa merenggut kapan saja. Entah itu kita siap, atau tidak. –Di tabrak mobil, kecelakaan lalu lintas. Tertembak, tertimpa reruntuhan, tenggelam, terkena bencana alam, dan lain sebagai nya. Yang mungkin kita tidak menyadari nya.

Kata Syaikh Ali Mustafa Tanthowi (Ulama Syam): Kematian adalah hal yang paling jauh dari pikiran kita, walaupun sebenarnya ia lebih dekat dari segala yang dekat dengan kita.

                                               ***

Kematian. Walaupun sangat dekat dengan kita. Tapi, tidak semua dari kita menginginkan itu. Ada dari kita yang terhanyut dalam kesenangan duniawi  menginginkan sesuatu yang lebih. Tidak hanya Harta, Tahta. Namun menginginkan kehidupan yang abadi, Kehidupan yang tidak berakhir dalam ” kematian “. 

Bagi mereka, dengan adanya kematian. Apa-apa yang telah dimiliki, menjadi sia-sia. Kematian  datang merenggut semuanya. Keluarga, teman, kekasih, pekerjaan dan lain-lain. Agar semua itu terus dapat di dimiliki selamanya. –Adalah dengan  mendapatkan kehidupan abadi. Kehidupan yang tidak menua dan mati.

Kini, kita tahu bersama bahwa, di era 4.0 memasuki 5.0. Di media sosial banyak kita jumpai Informasi-informasi membuat kita tersentak.  Para ilmuan, dengan segala perangkat modern melakukan eksperimen. Menguji transplantasi organ dengan organ buatan. Dengan Nanoteknologi  menumbukan sel-sel baru.  Upaya Cyogenics, yaitu  membekukan pikiran dan tubuh manusia dan ‘mengawetkannya’ hingga sampai waktu tertentu. Memprogram ulang sel, agar tidak menua. Uji genetika, menciptakan manusia Hybrid, dan segala eksperimen lainnya. Kesemuanya itu dilakukan agar dapat menciptakan teknologi yang dapat membuat hidup abadi. Tidak menua dan terhindar dari kematian.

                                              ***

Kita mungkin akan bertanya-tanya, apakah kematian merupakan hal yang buruk sehingga harus mencari cara agar terus hidup?
Apakah kehidupan yang abadi itu menyenangkan?

Kalau kita coba berpikir dan renungkan. Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa Kematian adalah ikhtiar kita ( sadar ataupun tidak). ketika kita terlahir ke dunia ini, otomatis kematian menjadi sebuah keniscayaan. Apapun yang kita lakukan di dunia,  itu merupakan sebuah ikhtiar untuk menuju  kematian. Misalkan dalam hal makan. Kita memilih tidak makan, ataupun makan. Kita pasti akan mati juga. Dengan tidak makan, tubuh kita kekurangan energi yang bisa menyebabkan kematian, begitupun ketika kita makan. Ketika makan, nutrisi yg tersuplai dalam tubuh, membuat sel-sel dalam tubuh terus berkembang dan lama-kelamaan tubuh makin menua, lalu berakhir dalam kematian .

Begitupun dengan “Kehidupan yang kekal”. Itu tidak akan membuat kita menjadi bahagia, hidup yang kekal, hanya akan membuat kita terasing dengan diri sendiri dan lingkungan, kita terjebak di dalam hidup yang tanpa tujuan (Nihilisme). 

Saya rasa, ada baiknya kalau kita sedikit belajar dari Para Sufi. Bagaimana mereka memaknai  tentang  Jiwa dan juga Kematian.

Dalam pandangan para sufi, jiwa merupakan hal yang lebih eksistensial dari pada jasad. Tanpa jiwa, kita seperti robot, atau hanya bentuk-bentuk fisik saja. Seperti Ungkapkan  Sa’di asy-Syirazi ( Sufi, Penyair persia):

Badan manusia mulia karena ruhnya,
Tubuh yang indah bukanlah tanda kemanusiaan
Jika manusia itu (disebut) manusia
Karena mata, telinga atau lidahnya
Maka apa bedanya, Antara manusia dan gambar manusia di dinding.

Dengan ini. kita tahu bahwa, jasad hanyalah pakaian bagi jiwa.  Kapanpun pakaian itu bisa saja lepas. Karena tanpa jiwa, pakaian (jasad) tidak berarti sama sekali. Jiwalah yang merupakan hakikat dari diri kita. Karena Dengan adanya jiwa, kita bisa memaknai hidup dan kehidupan. Memaknai sisi kemanusian  kita. Mencari tahu apa artinya kematian bagi kita?

Dalam hal kematian. Para Sufi mengatakan bahwa: kematian adalah awal kehidupan, bukanlah akhir dari kehidupan. Sehingga Kematian merupakan perjalanan pulang kita.
Seperti kata Abdu’l-Khaliq Ghijduwani – Al Junayd, sufi abad ke-9:
Perjalanan kita adalah perjalanan menuju asal-usul, sebuah perjalanan pulang. Selalulah ingat bahwa diri kita sedang berjalan dari dunia yang terlihat menuju dunia Kasunyatan yang tak-terlihat.

Dalam Buku (Belajar Hidup dari Rumi) Haidar Bagir Menulis syair Jalaluddin Rumi ( penyair, sufi) Tentang Kematian dengan sangat indah:

Oh, Tuhanku. Mati untuk bersatu dengan-Mu adalah harapan yang manis. Tapi hidup dalam kepahitan terpisah dari-Mu adalah hangus dilalap api.”

“Kau dilahirkan dengan sayap, kenapa mesti merayap dalam hidup? (Kita adalah makhluk langit, kenapa biarkan terkungkung dunia?)”

“Wahai Kekasih. Ambillah apa-apa yang kumaui, ambillah apa-apa yang kulakukan, ambillah apa-apa yang kubutuhkan. Ambillah semua yang mengambilku dari-Mu.
 (Dihadapan kerinduan pada Tuhan keinginan kita tak ada nilainya)”.

“Jiwaku dari suatu negeri di sana. Disana juga kumau berakhir. (Kita dari Tuhan, dan adalah percikan Tuhan, kepada-Nya pula kita ingin kembali)”.

Dengan demikian. Kita tahu bahwa, kematian bukanlah akhir dari segalanya.
Maka  semestinya  yang kita lakukan adalah Mempersiapkannya, bukan dengan menghindarinya. Ibarat seorang yang ingin bepergian ke suatu tempat atau kembali ke kampung. Sedini mungkin, Ia akan mempersiapkan segala hal sebelum keberangkatannya. Dengan persiapan yang matang, ia bisa lebih tenang menunggu jemputan.Tidak panik ketika tiba-tiba jemputan itu datang. Begitu juga dengan kematian. Jika kemudian kita Mati. Kita telah Ridho menerima, menyambutnya dengan hati yang lapang.

Akhir kata, Teringat sebuah kata-kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang membuat saya termenung :
“Manusia itu tertidur, jika mereka mati, barulah mereka terbangun.”  

Maaf Bung, Saya Belum Bisa Seperti Dirimu

Munir Said  Thalib pernah berkata:

Aku harus tenang walaupun takut. Untuk membuat semua orang tidak takut. Normal, sebagai orang, ya pasti ada takut, nggak ada orang yang anggak takut, Cuma yang coba aku temukan merasionalisasi rasa takut.

Ya, benar yang ia katakan, semua orang pasti memiliki rasa takut. Rasa takut merupakan hal yang manusiawi. Rasa takut juga merupakan fitrah pada diri manusia, agar manusia dapat mempertahankan hidupnya. 

Akan tetapi, saya tak menyangka seorang Munir Thalib mampu mengolah(merasionalisasi) rasa takutnya menjadi sebuah energi yang mampu melampaui rasa takutnya itu. 

Saya membayangkan, bagaimana ia mengendalikan rasa takutnya itu. misalkan, ketika tiba-tiba ia dikirimi surat kaleng berisi ancaman pembunuh atas dirinya. Mendapatkan teror Bom, atau misalkan ia ditelpon oleh penelepon yang tak ia kenali lalu mengancam membunuh istri dan anaknya? 

Apa yang kita-kira ia pikirkan ketika dihadapkan dalam kondisi seperti itu? 

***

Munir Said Thalib, ia lahir di Malang, Jawa Timur, 8 Desember 1965. Ia merupakan seorang aktivis HAM Indonesia. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial. 

Dalam Wikipedia (Baca: Aktivitas)  di situ, tertulis dengan sangat jelas mengenai aktivitas  seorang Munir Thalib. 

Dari rekam jejaknya itu, kita tahu bahwa Munir Thalib merupakan seorang pejuang Hak Asasi Manusia (HAM). Pro demokrasi  berkeadaban, yang cinta akan keadilan. Ia tak segan-segan membela siapa saja yang menuntut keadilan. Ia tidak akan membiarkan hak asasi manusia diabaikan.

Sikap (idealisme) sudah nampak semenjak  ia kuliah. Mungkin dari itu, ia dipilih rekan-rekannya untuk menjadi Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Hukum Unibraw pada 1998.

Salah satu organisasi  yang turut membentuk  idealisme itu adalah HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Tentu, tak lepas  dari peran orang tuanya yang mengajarkan nilai-nilai keluhuran pada dirinya semasa kecil. 

Dengan pengalamannya di organisasi dan  aktivis kemanusiaan, membuatnya menjadi sorang pemikir yang otentik. Dalam istilah Ali syariati ia telah menjelma menjadi seorang rausyan fikr (pemikir tercerahkan).  

Sayangnya, prinsip dan sikap  idealisnya itu  rupanya bukan hanya membuat ia disukai, tetapi ada juga orang yang  terganggu oleh sikapnya itu, sehingga melakukan teror terhadap dirinya, hingga ancaman pembunuhan terhadapnya. 

Dilansir dari  KontraS.org, Munir pernah mendapat teror bom yang meledak di pekarangan rumahnya di Jakarta pada Agustus 2003.

Kemudian, pada tahun 2002, kantor tempatnya bekerja, KontraS, pernah diserang oleh beberapa orang tidak dikenal. Setelah menghancurkan perlengkapan kantor, segerombolan orang itu merampas dokumen secara paksa. Dokumen itu terkait dengan pelanggaran HAM yang sedang dikerjakan KontraS.

Pada puncaknya, ia di racuni, di dalam perjalannya  ( mengunakan pesawat Garuda 974) untuk melanjutkan studi S2 nya. 

Lima jam berlalu, sebelum pesawat mendarat di Amsterdam, di luar dugaan: Munir tidak bergerak, sekujur tubuhnya dingin. Aktivis dan pejuang HAM itu meninggal di atas langit-langit Amsterdam, 7 September 2004.

Syahdan, sekiranya saya di posisinya, saya tak mampu merasionalisasi rasa takut. Ancaman, intimidasi, membuat nyali  saya menciut. Keselamatan diri dan keluarga adalah hal yang utama. Saya tak rela mati demi orang lain.

Demi sesuatu (keadilan, kemanusiaan) yang toh banyak orang tidak memperdulikannya? 

Walaupun  saya membiarkan korupsi atau pelanggaran HAM, toh saya pun takakan di penjara. Mengapa? Ya, karena saya tak korupsi, tak menghilangkan nyawa orang, saya hanya tidak peduli tentang itu. 

Kenapa saya harus repot menentang atau membela keadilan dan kemanusiaan,  yang pada akhirnya saya dibenci banyak pihak yang tak senang dengan apa yang saya lakukan, hingga berniat membunuhku.  

Maafkan saya Bung, saya belum bisa menjadi kawanmu. Seperti ucupan Che Guevara:
Jika Anda bergetar dengan geram pada setiap melihat ketidakadilan, maka Anda adalah kawan saya.

Bukannya kenapa, tidak semua orang bisa seperti dirimu! Merasionalisasi rasa takut, sehingga ancaman, teror hingga kematian bukanlah hal yang “menakutkan” bagimu.

Jujur saya harus katakan, bukan hanya saya, banyak orang-orang  juga takut seperti saya. 

Kenapa saya bisa mengatakan demikan? 

Karena sampai  hari hari ini pun banyak yang masih membiarkan kematianmu. Mereka tidak benar-benar mengusut dengan tuntas  siapa dalang dari pembunuhanmu!

Akhirnya, saya hanya bisa berucap: Tenang di sana Bung, Engkau Abadi dalam Ingatan.

Apakah kata “Anjay” Bermakna negatif seperti yang di Ungkapan Lutfi Agizal?

Sumber:iqra.id


Anjay. Jancuk.  Bucin. Santuy. ambyar.  Halu. Mager Adalah  kata-kata yang  banyak kita jumpai di media, maupun media sosial (FB, WA).

Kata-kata di atas, sering kita dengar dipakai atau diucapkan generasi sekarang ini, dan merupakan kosa kata baru dalam tata bahasa kita.

Baru-baru ini, muncul polemik kata “anjay”.  diberbagai media. Bahkan karena kata itu juga melibatkan Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA).

Awal mula kata “anjay” menjadi polemik dikarenakan laporan Lutfi Agizal . Ia melaporkan kata tersebut ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), karena menurutnya kata “anjay” itu bermakna negatif dan tak baik jika terus menerus ditiru oleh anak-anak Indonesia.

Dari laporannya itu akhirnya KPAI meminta khalayak untuk memperhatikan makna dari kata ‘Anjay’, dan mengimbau agar publik tidak lagi menggunakan kata tersebut dalam kalimat sehari-hari.

Akan tetapi,  yang lucunya, Lutfi Agiza tiba-tiba minta maaf atas laporan tersebut. Ia mengatakan, meminta maaf karena menyinggung banyak pihak. Namun, Usut punya usut, ternyata Lutfi pun  pernah menggunakan kata ‘anjay‘ di media sosial. Pada saat itu, ia menggunakannya di kolom komentar @footballtraveler_id.

Ia seperti membuang ludah, kemudian ia jilati kembali.

Kejadian ini,  memberi kita pelajaran bahwa sebelum berbuat atau mengucapkan sesuatu, terlebih dahulu Mengintropeksi diri.

***

Benarkah kata “anjay” bermakna negatif?tunggu dulu. Sebelum saya membahas kata “anjay”.  Terlebih dahulu kita harus mengetahui apa sih defenisi dari “Kata”?

Mengutip dari Wikipedia, “kata” adalah suatu unit dari suatu bahasa yang mengandung arti dan makna, terdiri dari satu atau lebih morfem.

Sehingga, dengan adanya “kata”  kita dapat memahami maksud (makna) dari suatu ungkapan.

Namun, menurut saya , tidak semua kata bisa kita maknai. Misalnya, kalau saya mengucapkan kata “SPIDIODOLA”  Saya yakin, Anda yang membaca kata-kata itu tak memahami  makna kata tersebut.. Akan tetapi kalau saya mengucapkan kata Manusia, Kursi, Meja, Bola, Anda tentu memahami maknanya.

Bagaimana dengan kata “Anjay?

Menurut saya kata “anjay” pun hampir sama dengan kata spidiodola, tanpa adanya penjelasan atau kesepakatan bersama, kata itu  menjadi tak bermakna.

Saya beranggapan bahwa sebuah kata menjadi bermakna, ketika kata itu di sepakati banyak pihak. Misalkan  kata spidiodola di atas. Kalau kata spidiodola saya memaknainya sebagai kata makian, Apakah kata itu menjadi negatif ketika saya ucapkan ke orang lain?

Bagi saya, kata itu menjadi negatif ketika banyak orang menganggap kata itu memang buruk  dan tabu untuk  di ucapkan.

Kalau hanya saya saja yang memahami, tapi tidak di sepakati banyak pihak,  kata itu hanya berlaku untuk saya.

Kata “jancuk”,”Anjay”. Bagi sebagian yang lain,  kata itu mungkin terdengar buruk. Akan tetapi, misalkan ada kelompok tertentu menganggap kata itu merupakan panggilan akrab ke sesamanya,  apakah kata jancuk atau anjay niscaya buruk?

Dalam buku Jiwo #ncuk, Sujiwo Tejo menuliskan #JANCUK adalah ungkapan beragam, dari kemarahan sampai keakraban, tergantung situasi dan kondisi.

Jadi, bagi saya sebuah kata di katakan buruk  tergantung suasana dimana kata itu di di ucapkan. Kata-kata jancuk atau anjay  tidak tepat (negatif)  ketika kita ucapkan pada Orang tua atau  Guru. Namun, kata jancuk bisa saja  jadi kata keakraban bagi kita sesama teman.

Begitu juga dengan kata-kata yang kita ucapkan dan tuliskan, kalau tidak di sepakati bersama, kata itu menjadi tak bermakna. Atau sekedar susunan huruf-huruf.

Cerpen: Masa kelam Demokrasi

Orang-orang disini kebanyakan tak begitu peduli dengan pemerintah. Walaupun berada dalam wilayah pemerintah sebuah negara.
Mereka hanya tahu nama Presiden, Negara kita Indonesia. Bawahan presiden(menteri) tak begitu mereka tahu, Karena pada waktu itu bawahannya selalu berubah-ubah ( diganti). 

Dimasa itu (orde Baru) bawahan Presiden paling di ingat adalah materi penerangan Harmoko (bukan nama sebenarnya). Orang-orang disini sering menyebut kepanjangan namanya dengan kata sindiran seperti “Hari-hari omong kosong”. Ia seperti penerang untuk atasannya

Hampir seluruh wilayah Indonesia sudah ia kunjungi. Ia pernah berkunjung kesini. Seperti juga dengan wilayah yang lain, 

Tapi, Ia tak selalu kesini, ia hanya kesini kalau memasuki momen PilPres, tujuannya untuk berkampanye. Ia akan berorasi panjang lebar tentang keberhasilan tuannya. 
Katanya. Kemakmuran. Keadilan. Akan terwujud apalagi tuannya kembali terpilih.
Orang-orang sebenarnya sudah bosan, di karenakan, kata- kata itu sudah sering di dengar.

Ia berdiri di atas mobil panser, berbaju kuning di dampingi kelompoknya yang juga berbaju kuning, berkonvoi mengelilingi kota dan desa-desa disini. Sambil berorasi, berkomat kamit  tak jelas. Orang-orang banyak yang ikut berkonvoi, mereka hanya menyukai keramaian.

Banyak  orang tak mengerti apa yg di bicarakan Harmoko. Mereka hanya suka keramaian, atau di berikan baju gratis. Orang-orang hanya menyukai hiburan atau keramaian dalam sebuah perkumpulan,  sebab itu merupakan hiburan bagi orang-orang.

Pada masa itu, Partai Harmoko adalah partai penguasa. Bertahun-tahun partai itu selalu memenangkan pemilu. Walaupun ada partai lain. Partai-partai itu, seolah hanya pelengkap, agar terlihat bahwa sistem negara ini demokratis.

Pemilihan umum hanya sekedar seremoni, karena sudah bisa di tebak, siapa yang akan memenangkan pemilihan umum.

Setiap orang-orang yang ada dalam pemerintahan, seperti aparatur sipil negara (ASN) pasti akan memilih partainya Harmoko.

Orang-orang disini heran, mengapa mesti ada kampenye, kalau toh akhirnya yang menang adalah partai Harmoko?

Sialnya. Pada masa itu Orang-orang wajib mengikuti Pemilu. Tak boleh ada penolakan. Kalau menolak, Orang-orang akan di penjara. Walaupun misalkan orang itu sakit, ia tetap harus memilih.
Kotak suara akan di antar ke rumah-rumah orang yang sakit, kalau ia tidak ke tempat pemungutan suara (TPS).

Pada zaman itu, orang-orang tak banyak berbicara mengenai pemerintah. Orang-orang  banyak yang takut. Misalkan ada orang yang berbicara tentang kejelekan presiden atau pemerintah. Serdadu-serdadu  akan membawanya pergi entah kemana. Orang-orang takut ketika di bawa pergi, karena yang di bawa pergi itu, tak pernah pulang-pulang.

Orang-orang disini  menjalani hidup sebagai mana adanya. Tak banyak bicara tentang pemerintah atau negara. Orang-orang tak tahu bahwa sistem pemerintahan kita adalah Demokrasi pancasila. Seandainya mereka tahu pun, mereka tak bisa berbuat apa-apa.

Demi menjaga eksistensi pancasila dan NKRI, Anak-anak sekolah selalu di beri pelajaran moral pancasila (PMP) dan juga pelajar tentang pedoman pengamalan dan penghayatan pancasila (P4),
di ajarkan juga tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN)

Tapi tak banyak yang mengerti maknanya, sebab meraka hanya menghafalnya. Misalkan pancasila, anak-anak hanya menghafalkannya pada saat upacara bendera, itulah mengapa Pancasila tak begitu tertanam dalam hati.

Orang-orang tak tahu mengapa presiden yang sama  tetap terpilih hingga 31 tahun.

Pada akhirnya, hanya sebagai yang tahu bahwa ia akhirnya  di turunkan oleh aksi Mahasiswa dan masyarakat

Kini, Orang-orang menyebut nya bapak pembangunan. Sebagai orang yang tak hidup di masa itu, menginginkan kembali sosok seperti beliau.
Mereka mengatakan enak hidup di masa itu. Padahal mereka tak hidup di masa itu.



Gotong Royong

Angkat  itu bambu sudah, kasih naik di atas jangan hanya lihat saja, kalau tidak mau kerja, pulang saja.  Begitulah cara paman labeng memarahi teman-teman.

Teman-teman hanya tertawa menanggapi marah-marahnya. Mereka menganggap, ia tak benar-benar marah, memang begitulah orangnya. Walaupun usianya sudah tidak muda lagi,  di kompleks kami, ia dianggap tokoh oleh pemuda.

Semua bekerja gotong royong, bahu membahu. Ada yang mengangkat bambu, menggali lubang, untuk tempat tiang-tiang kayu di masukan,  yang lain di atas mengikat bambu agar terhubung satu dengan yang lain.

Supaya tarpal  bisa di bentang di atas,  bambu di bentuk saling terhubung seperti sebuah  kerangka rumah. Bambu itu di ikat dengan kuat agar tak mudah roboh.  Semua  bekerja sesuai dengan instruksi

Pemandangan di atas merupakan kegiatan gotong royong untuk menyiapkan tempat pernikahan.

Di kompleks kami, tepatnya di kelurahan Kalabahi tengah (Alor). Bila ada acara pernikahan. Biasanya, yang  menyiapkan semua hal itu adalah pihak dari pengantin laki-laki. Hal ini sudah semenjak dahulu di lakukan. Mengapa demikian? Saya tak begitu tahu. Orang-orang dahulu sudah melakukan itu, bila ada pria di kampung kami menikah dengan seorang wanita di kampung lain. Yang mengurus segala sesuatunya, mulai dari tempat pernikahan, sampai konsumsinya, itu semua dari pihak pengantin pria.

Terlebih dahulu menyiapkan segala perlengkapan di rumah pengantin Pria. _Anak-anak  muda akan bekerja sama, bahu-membahu (gotong royong) menyiapkan tempat  untuk pengantin tersebut. Mulai dari  kursi, meja, tenda, hinga tempat dimana pengantin duduk menyapa para tamu. Selanjutnya, bergeser ke rumah pengantin wanita. Hal yang sama juga di lakukan di tempat itu rumah pengantin wanita.

Tradisi seperti itu, masih bertahan sampai generasi saya.

Namun, saya merasa pesimis, apakah  pemandangan di atas (gotong royong di kompleks kami) bisa saya temukan di tahun-tahun mendatang?

Kita tahu bersama bahwa, di zaman sekarang ini,  kegiatan seperti di atas sudah mulai perlahan-lahan hilang dan mulai di tinggalkan.

Sekarang ini saja, di kota-kota lain, yang masuk dalam kategori kota maju, sulit kita temukan kegiatan semacam di atas.

Untuk melakukan pernikahan, orang- orang  mulai meninggalkan cara- cara lama ( gotong royong menyiapkan tempat pernikahan) orang-orang lebih memilih menyewa gedung untuk melangsungkan pernikahan. Supaya tidak repot-repot lagi menyiapkan segala infrastuktur  pernikahan  (Terima beres)

Mungkin karena sudah mapan secara ekonomi, Orang-orang tidak lagi menyiapkan tempat pernikahan secara tradisional. Tapi, tapi lebih memilih gedung sebagai tempat pernikahan. Atau mungkin karena soal Gengsi.

Padahal, kalau kita renungkan, banyak hal- hal positif yang  bisa di rasakan dari kegiatan gotong royong tersebut.   Seperti mempererat silaturahmi antar sesama, menciptakan hubungan sosial yang harmonis, menumbuhkan jiwa kebersamaan.

Mungkin, Kedepannya di Kompleks kami juga, kegiatan royong royong seperti itu, perlahan-lahan akan di tinggalkan.

Pada akhirnya generasi setelah saya, hanya tahu  bahwa gotong royong untuk menyiapkan tempat pernikahan itu, seperti yang ada pada gambar di atas

Generasi Millenial dan Teknologi

Kalau kita searching di Google tentang Generasi Milenial, dalam wikipedia,
Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran.

Mengapa disebut Generasi milenial?

Ada humor yang berkembang dari Generasi old (tua), bahwa generasi milenial, ketika dilahirkan dan membuka mata pertama kali di dunia, yang mereka lihat adalah cahaya lampu listrik, bukan orang tuanya. Wkwkwk

Humor di atas kalau dipikir-pikir, mungkin ada benarnya juga. Generasi milenial adalah generasi yang lahir di Era teknologi  yang telah berkembang dengan begitu cepat. Teknologi telah menjadi kebutuhan primer bagi  mereka.

Generasi ini, sejak masa sekolah saja sudah menggunakan handphone. Kemana-mana selalu terkoneksi dengan  jaringan internet.
Cita-cita mereka pun tidak seperti generasi sebelumnya. _Bagi generasi sebelumnya, orang yang “Mapan” secara ekonomi adalah orang yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Namun kini, ketika ditanya, apa cita-cita mu? Generasi milenial akan menjawab, menjadi Youtuber.

Kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan teknologi sangat cepat, sampai-sampai anak usia 3 tahun sudah mengerti kegunaan dari Handphone.

Perkembangan zaman membuat anak yang lahir di era kekinian (milenial)., dengan mudah menguasai teknologi. Berbeda dengan  Orang-orang dahulu, yang masih jauh dari teknologi. 

Saya sendiri, semasa kecil, di rumah kami, sumber penerangan yang kami gunakan adalah lampu pelita ( kaleng yang di isi minyak tanah, lalu diberi sumbu dan dinyalakan). kehidupan yang belum memanfaatkan listrik sebagai alat penerang. Apalagi mendengar tentang Handphone,  Komputer, atau YouTube?

Akan tetapi, kiwari di FB,Telegram,YouTube dan IG, bisa kita jumpai Generasi old. Tuntutan zaman seakan memaksa mereka untuk mengikuti perkembangan dan tren kekinian. 

Pergeseran aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata ke dunia maya ( disrupsi)  adakah sebuah fenomena yang sekarang kita jumpai.

Kita mungkin bertanya-tanya, Apakah pengunaan teknologi internet berdampak positif untuk anak-anak milenial, atau malah sebaliknya?

Di media sosial, banyak kita temukan penjelasan  mengenai dampak positif maupun negatif dari penggunaan teknologi internet.

Pengunaan Teknologi internet yang berlebihan  berdampak negatif terhadap psikologi anak. Ketergantungan terhadap internet, membuat anak menjadi anti sosial.
Tanpa pengawasan orang tua,  anak dalam usia berkembang akan mudah terpengaruh atau terpapar pemahaman Radikal yang ditimbulkan akibat informasi yang bersifat hoax.  Perjudian, Pornografi, Pencurian Data Pribadi, Bullying  sangat rentan pada anak-anak.
Belum lagi dengan adanya aplikasi Game PUBG, Mobile Legends, dan lain-lain.  Yang juga berdampak buruk pada perkembangan otak anak, apabila setiap aktivitasnya  lebih banyak bermain Game dari pada belajar.

Terlepas dari banyaknya dampak negatif internet, masih ada  dampak positifnya. Apabila kita mengerti dan cerdas, bagaimana menggunakan/memanfaatan internet dengan baik, maka mungkin hal-hal negatif di atas dapat hindari. Penggunaan internet  dengan baik, dapat membantu menambah wawasan dan pengetahuan mengenai banyak hal.  Misalnya: Mempermudah dan menambah relasi dan pertemanan melalui media sosial. Mempermudah anak-anak dalam belajar dan mengerjakan tugas.  Dengan mudah mendapatkan informasi bisnis, peluang usaha atau menjadi media komunikasi dan hal positif lainnya.

                                  ***

Saya pernah membaca sebuah quote, yang awalnya saya pikir itu dari Albert Einstein. Namun setelah saya cek, ternyata itu hanyalah Hoax. Seperti ini quote nya:

“Aku Takut Pada Hari Dimana Teknologi akan Melampaui Interaksi Manusia. Dunia akan Memiliki Generasi yang Idiot.”

Tapi kalau kita renungkan, quote ini mungkin ada benarnya.  Coba kita perhatian, di lingkungan sekitar kita. Semisal di tempat makan, kita akan menemukan sekelompok orang yang sedang berkumpul, berhadapan-hadapan di meja makan, namun lebih asik dengan handphone dari pada teman di sampingnya.
Ini menandakan bahwa penggunaan “teknologi” tanpa di bekali dengan pengetahuan yang baik. Pelan-pelan “teknologi” akan menjauhkan kita dari nilai kemanusiaan.

Kenapa saya katakan, harus di bekali pengetahuan yang baik? Pengetahuan yang saya maksud bukan hanya pengetahuan tentang Teknologi informasi (IT). Tetapi juga pengetahuan mengenai  nilai-lain Kemanusiaan, Akhlak, Moralitas. Yang dicerminkan dalam sikap dan perbuatan.

Tanpa bekal pengetahuan itu,  menjadi benar maksud dari Quote tersebut. Ketika kita terlalu larut dengan “teknologi”, kita menjadi abai terhadap lingkungan sekitar. Kepekaan kita sebagai manusia menjadi hilang. Kita lebih asik menundukkan kepala memandang handphone dari pada teman di samping. Kita lebih senang berinteraksi di Media sosial  dari pada interaksi di lingkungan sekitar kita. Teknologi seakan membuat apa-apa yang jauh serasa dekat, namun yang dekat serasa jauh.

Tidak ada yang salah dengan teknologi. Namun, kita harus menyadari bahwa teknologi hanyalah sebuah alat. Tanpa dilandasi pengetahuan yang baik tentang fungsi, kegunaan dan batas-batasnya. Ia bisa membahayakan.

Akhir kata. Saya menemukan quote  Albert Einsten dalam Website (Kemajuan teknologi Kata-kata Bijak: teknologi – JagoKata) saya berpikir, kata-kata itu baik untuk menjadi renungan kita, yang Generasi old maupun Generasi milenial. disitu, Albert Einstein berkata:
Kemajuan teknologi seperti kapak di tangan seorang penjahat patologis.

Literasi dalam Challenge mem-posting buku bacaan

Bagi saya tempat yang asik untuk selalu dikunjungi adalah tempat yg di mana terdapat banyak buku-buku.
Entah kenapa, seperti  ada  kenikmatan pada jiwa walaupun hanya sekadar melihat.

Itulah mengapa, sewaktu masih kuliah dulu saya sering menyempatkan ke perpustakaan atau  ke Gramedia untuk sekadar melihat-lihat buku-buku. Saya menyukai  hampir semua jenis buku, mulai dari filsafat, sosial, politik, sastra hingga komik. Kebiasaan ini, terbawa hingga saya selesai kuliah.

Di masa pandemik (corona) ini, aktivitas saya serasa dibatasi. Demi mengikuti protokol  kesehatan yang dihimbau oleh pemerintah, maka dari itu saya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Mau bagaimana lagi, demi kesehatan saya dan banyak orang, saya harus membatasi aktivitas yang tidak terlalu urgent.

***

Akhir-akhir ini saya merasa bosan terus berada di rumah. Rasa-rasanya ingin ke Gramedia atau perpustakaan. Namun perbatasan karena pandemik ini, membuat saya tidak kuasa ke Gramedia atau perpustakaan.

Supaya kebosanan  di rumah bisa sedikit diatasi, selama berada di rumah,  saya lebih banyak berinteraksi dengan Gagget, membaca berita, nonton, atau membaca artikel-artikel yang di publish Kompasiana.

Kendati demikian, saya sedikit terhibur tatkala mendapatkan challenge (tantangan) dari seorang teman,  challenge berupa mem-posting sampul buku apa saja yang disukai tanpa penjelasan atau ulasan tentang buku itu, hanya sampulnya. Selama tujuh hari  harus mem-posting sampul buku di FB, dan juga menandai teman-teman lain untuk mengikuti challenge tersebut.

Saya pun bersedia mengikuti tantangan tersebut, sebab saya beranggapan, tantangan ini adalah salah satu cara mempromosikan buku-buku bacaan yang saya sukai sekaligus merangsang teman-teman yang ada di media sosial terkhusus FB untuk membaca.

Namun, sayangnya niat baik teman saya itu tidak mendapat merespon positif dari semua orang. Ada yang beranggapan bahwa  challenge tersebut hanyalah berupa ajang  pamer sampul buku, atau hanya pencitraan semata. Challange tersebut tak menjamin kalau yang mem-posting buku itu, membaca atau  memahami isi dari buku tersebut.

Mengenai pemahaman terhadap isi buku,  bagi saya,  kita hanyalah penafsiran tulisan dari buku yang kita baca. Subjektif kita sebagai pembaca terlibat di dalam memahami buku yang kita baca.

Menurut saya, walaupun mungkin maksud dari  ‘anggapan’  bagi orang itu baik, saya berpikir bahwa anggapan itu salah alamat. Mengapa? Ya, sederhananya gini, bagi saya orang-orang yang mengikuti challenge tersebut pastilah memiliki buku. Terlepas dari paham atau tidak nya isi buku tersebut,  saya yakin mereka pernah membaca bukunya itu, walupun mungkin hanya membaca sampul  atau atau kata pengantar. Intinya mereka  pasti membaca.

Bagi saya soal tau atau paham tentang isi buku, tingkat pemahaman setiap orang terhadap isi buku tentu berbeda-beda. Sehingga kita tak bisa mengklaim bahwa, saya yang  lebih mengetahui sedangkan yang lain tidak.

Di era post-truth ini, semestinya yang kita kampanyekan adalah pengembangan literasi,
bukan malah saling “beranggapan”, apalagi kita tahu bersama bahwa tidak semua dari masyarakat kita suka membaca.

Dengan adanya challenge tersebut setidaknya kita bisa mengenalkan  buku-buku bacaan ke teman-teman FB kita, bahwa di FB bukan hanya ajang curhat atau posting foto-foto selfi, tetapi ada juga buku-buku menarik yang bisa dibaca.

Dengan demikian, bagi saya memiliki buku bacaan itu penting, walaupun mungkin hanya membeli  untuk dijadikan sebagai koleksi atau sekadar pajangan di rumah.

Saya percaya dengan memiliki buku minimal kita telah berkontribusi dalam pengembangan literasi, baik untuk diri sendiri dan untuk orang-orang dekat kita. Dan sekali lagi saya percaya bahwa buku yang saya koleksi akan menemukan pembacanya.

HARI IBU

Di tulis pada tanggal 30 Desember 2018

Hari ini, katanya adalah Hari ibu, di media sosial, sebagian orang menuliskan tentang ucapan “selamat hari ibu. Di WA. Ig. Dan FB, beragam kata-kata puitis mengutarakan kasih terhadap ibu. 
Bukan hanya itu, di hari ini juga sebagian dari ustaz/ustazah kita berceramah melarang mengucapkan ” Selamat Hari ibu” Dengan alasan, tidak ada hari ibu dalam islam.

Yang berpikir moderat mengatakan tidak ada yg salah dengan mengucapkan selamat Hari Ibu, ucapan itu hanyalah sebuah ekspresi kecintaan terhadap ibu. 
Sebaliknya yg merasa berpikir sesuai dengan Sunah, mengatakan tidak ada dalam ajaran nabi tentang hari ibu, Itu ajaran orang-orang kafir. Dan Yang  mengatakan itu adalah bagian dari orang kafir.

Pro & kontra, semacam rutinitas yang menghiasi jagat media sosial.  Energi kita seakan  terkuras habis, karena setiap pergantian tahun, bulan, maupun hari. masih ada-ada saja di dengar perdebatan dan  pelarangan mengucap  hari ibu, Hari Natal, Tahun baru dan lain-lain. 

Saya tak habis pikir, zaman yang dimana Negara2 berlomba2 memajukan teknologi, menjelajah antariksa, zaman dimana tenaga manusia akan di ganti dengan robot, masih ada jenis manusia semacam mereka, Kelompok yg merasa merekalah pemilik kebenaran.

Saya terkadang berpikir, apakah orang yang selalu menyalahkan atau mengkafirkan kelompok yang tidak sesuai dengan pemahaman, pendapat meraka, apakah mereka mendapatkan mandat dari Tuhan atau telah mendapatkan kunci dari surga, sehingga mengatakan hanya kelompok merekalah yang benar? 

Yang lucu nya lagi, ada salah satu ustaz Mengatakan,   tak boleh merayakan hari ibu karena siapa yg mengikuti kebiasaan orang kafir, dia kafir.
Lalu ada yg bertanya ke ustaz tersebut, apakah boleh membelikan hadiah untuk ibu di hari ini(hari ibu)? ustaz itu menjawab, memberikan hadiah itu harus setiap hari. Jangan hanya sekali setahun.

Pertanyaannya Kalau setiap hari boleh memberikan hadiah?

Terus kenapa dengan hari ini?

Kalau dengan alasan, hari ini orang kafir lagi merayakan dan memberikan hadiah.

Loh, klo begitu, jangan bilang setiap hari boleh memberikan hadiah, harus ada pengecualian.
Bahwa selain tanggal 22 desember, boleh membelikan hadiah untuk ibu. 

menjadi pertanyaan untuk kita adalah, Sudahkah  kita mengeksplor atau mengkaji kebenaran yg lain? 
Ataukah kita hanya mengklaim kebenaran? 

Benar kata Rumi: 

kebenaran adalah sebuah cermin di tangan Tuhan,  cermin itu jatuh dan pecah berkeping-keping. Masing-masing dari kita Memungut kepingan itu dan melihat telah menemukan kebenaran.

Lalu sebagian dari kita mengklaim bahwa telah menemukan kebenaran yg hakiki, lantas merasa paling benar dan menyalahkan yg lain.

♣︎♣︎♣︎♣︎♣︎♣︎♣︎♣︎♣︎♣︎♣︎

Tidak ada yang salah dalam mengekspresikan cinta terhadap ibu,  menuliskan puisi, memajang foto bersama ibu lalu mengupload  dan menuliskan kata2 cinta.

Namun sebaiknya, kalau ingin menyampaikan selamat hari ibu, sampaikan aja langsung di hadapan ibu.  Banyak yg menuliskan  selamat hari ibu di fb. Ig. WA. Tapi  Apakah ibunya membaca setiap kata puitis yang mereka tuliskan?

Saya pikir tidakk semua ibu  menggunakan  Smartphone.  Banyk dari ibu kita yg tinggal di perkampungan,  hidup dengan berkebun, tak punya akses listrik, apalagi tentang Smartphone atau jaringan internet.  Ia tak akan dapat mengetahui klo anak nya yg tinggal di perkotaan dengan segala pernak-pernik moderenitas,  menuliskan kata2 cinta di FB. iG. WA. Tentang nya.

Jadi merasa lah. Klo ibu anda tidak menggunakan smartphone, jangan tuliskan di fb. Ig maupun WA, tapi klo anda bermaksud menunjukan ke teman-teman mu bahwa anda pun menyayangi ibumu.

Silahken… 

Terasa Hampa

Apa yang aku cari?

Serasa semuanya berjalan begitu cepat, hari berganti hari, bulan berganti, tahun berganti, dan aku masih tetap begini? 

Apa yang aku cari untuk mengisi kebutuhan hatiku belum juga aku temukan. Kegelisahan, aku bungkus dengan senyuman,  ketaktenangan aku tutup dengan tertawa yang keras.  Aku marah. Namun kusadari itu semuanya kembali kepadaku. Semakin aku marah, semakin menambah kekosongan hati. Aku terus berpikir keras, sebenarnya apa yang ingin aku cari dan aku temukan?

Aku terdiam sejenak. Meneguk kopiku, Menghirup nafas dalam-dalam, mencoba merenungi setiap hal yang terjadi.

Aku amati hujan, aku perhatikan, hujan yang deras akhirnya berhenti, pun dengan malam yang gelap akan berganti cerah pagi. 

Ada senang, ada sedih, ada sakit, ada sembuh.  Semuanya tercipta berpasang-pasang, seolah menuntun kita untuk memahami,  mengambil pelajaran bahwa  semua yang terjadi punya arti dan tujuan.

Semesta seperi berbicara:

Mengapa kita “Ada”?

untuk apa kita “Ada”?

Lalu kemana kah kita setelah “Tiada”?

Kehidupan  ini bagaikan pelayar yang berlayar di tengah lautan. Terkadang badai datang menghatam, gelombang besar menghadang, menguji seberapa tanggung pelayar mengarungi lautan.

Pelayar yang tanggung akan terus Bertahan menghadapi badai dan gombang hingga menemukan  tujuan akhir dari pelayaran.

Sama halnya, sebuah seleksi yang dibuat semesta untuk menguji daya tahan, semangat, emosi, kesabaran dan ikhtiar, yang dengan itu kemudian akan diketahui siapa benar-benar bertahan dalam mengarungi lautan kehidupan. Apakah kita memilih menyerah, atau tetap melanjutkan perjalanan.

Pelayar sejati bukanlah pelayar yang hanya menyandarkan kapalnya di tepian, tetapi membawa kapalnya mengarungi  lautan, bertarung menaklukan ganasnya gelombang untuk menemukan arti sejati sebagai seorang pelayar.


Sepert Ungkapan para pelayar Ulung:

Laut yang tenang tidak akan membuat pelaut handal.

Begitu pun kehidupan, segala macam persoalan, cobaan yang datang, menguji seberapa kuat diri kita mengarungi hidup, mencari  arti  mengapa  kita ada di dunia ini, untuk apa, dan mau kemanakah kita, dan akan kembali kemana?

Hanya orang-orang mengerti dan memahami yang akan menerima setiap hal yang di dapatkannya dengan rasa syukur, baik itu senang maupun susah.

Hingga tiba masa dipanggil oleh Sang Pemilik Hidup:

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi di-ridhai-Nya!

Tiba-tiba aku tersadar bahwa kopi yang aku minum tinggal ampas.